Prinsip Makan dan Memilih Makanan Sehat

Oleh: Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia
Kaidah simple porsi makan kita barangkali kita bisa merujuk paradigma Maslow(ism), “sesuai kebutuhan tubuh kita”. Adapun soal kandungan gizi yang kita butuhkan itu memang rada-rada pelik untuk kita dapatkan karena pada wilayah medis. Namun domain kultural memberi petunjuk, bahwa makanan yang bergizi baik adalah manakala kita mendapatkan pemenuhan dengan keanekaragaman sumber pangan.

Makan berganti ganti dari tumbuhan, biji, daun/sayur, dan buah, –bahkan tanpa pangan dari daging merah—manusia bisa mendapatkan kecukupan. Begitu juga pada model pemasakan, ada sejuta model kultural yang terhampar di belahan dunia. Dunia kuliner tak kurang menyajikan keanekaragaman pengetahuan. Itu semua masalah sekunder, atau gaya.

Segar itu yang utama

Makan Minum yang segar dan minim pengolahan. Itu yang terbaik.

Untuk meraih masakan yang tetap mengandung gizi paradigma dasarnya juga sederhana, makan atau masak dari bahan-bahan segar. Yang bisa dimakan langsung seperti buah atau sayuran lalap (tidak semua sayuran baik dikonsumsi sebagai lalap mentah) adalah lebih baik daripada harus diproses berulang-kali, apalagi dengan penyimpanan lama dan berpindah-pindah tempat.

Kita tidak bisa beralasan bahwa asal tidak busuk berarti layak dikonsumsi sebab masalahnya bukan soal busuk atau tidak, melainkan kandungan gizinya terjaga atau tidak. Jadi perlu diperjelas, makanan yang baik adalahmakanan yang terhindar dari panjangnya waktu setelah pemanenan, tidak banyak berpindah tempat, dan tidak melalui pengolahan berulang-ulang apalagi dengan pemanasan tinggi seperti penggorengan.

Model mengonsumsi makanan segar ini, seperti pesan berulang-ulang FAO- agar kita lebih memilih berbelanja sayuran atau buah segar dari petani langsung. Kalaupun tidak langsung bisa memilih pasar tradisional yang belum mengawetkan makanan dalam bekuan seperti di supermarket yang penampilannya memang keren tetapi sebenarnya barangnya sama.

Sayuran di pasar tradisional tidak terkemas secara baik, tetapi ada kebaikan di sana, yaitu mendapatkannya pada usia panen yang pendek. Soal sayuran memakai pestisida itu juga berlaku pada sayuran di supermarket karena selagi kita tidak tahu model penanamannya, kesimpulan akhir tentang sayuran yang kita dapatkan sama. Belanja di pasar tradisional artinya memilih resiko yang lebih rendah.

Hargai Makanan
Menghargai makanan itu urusan penting. Jangan remehkan makanan. Kita juga bisa menjadi terhormat atau tidak karena sebab urusan menyuguh makanan pada tamu-tamu kita.

Makanan lebih mulia ketimbang uang karena tidak semua orang bisa dihargai dengan uang. Tetapi dengan menu yang baik, miskin atau konglomerat bisa merasakan manfaatnya hanya karena urusan makanan. Mereka yang belum bisa menghargai makanan adalah golongan yang lemah literasi, belum mendapatkan pendidikan untuk kemuliaan. Pendidikan kita yang salah tidak menjadi alasan untuk kita tidak belajar secepatnya soal filosofi dan praktik makanan.

Menghargai makanan dengan asas makan secukupnya adalah terobosan revolusiner dalam hidup kita karena pada akhirnya kekurangan pangan adalah memperburuk kehidupan, dan kelebihan makanan juga demikian. Mereka yang makan hanya dengan jenis terbatas mengulang-ulang sampai kelebihan akan terkena bencana bernama obesitas.

Orang miskin atau orang kaya bisa terkena dampak ini. Mereka yang miskin mengonsumsi sumber pangan beberapa jenis dan akhirnya kurang baik tubuh hingga pikirannya. Sedangkan mereka yang di kota kelebihan duit tetapi hanya memburu makan yang enak sehingga terkonsentrasi pada pilihan yang sempit. Ujungnya, sama saja. Terjebak obesitas dan mudah sakit, serta cepat mati.

Hargai petani
Petani adalah produsen makanan, sekaligus sering mengalami labilitas soal makanan. Orang banyak mengira petani bertanam otomatis urusan pangan selesai. Padahal yang terjadi tidak demikian.

Beberapa ringkasan bisa saya sebutkan bahwa keluarga petani lebih sengsara urusan makanan daripada keluarga non pertanian terutama di perkotaan karena petani tidak bisa memanen hasil tanaman dalam setiap hari. Mereka bisa memamen tomat dalam jangka waktu 2-3 bulan, setelah panen mereka kehilangan tomat dan harus ke warung. Di dunia ini sangat langka model pertanian berkecukupan pada petani karena pertanian monokultur hanya menyediakan beberapa jenis tanaman pangan dan tidak bisa mencukupinya dari praktik itu.

Bertani bukan sekadar kerja, melainkan seni. Memiliki nilai dan harga.

Sementara di kota-kota, keanekaragaman pangan justru lebih massif, cepat bergilir dan mudah didapat daripada di desa-desa, terutama buah-buahan. FAO pernah mengilustrasikan bahwa dunia pertanian adalah seni, bukan semata kerja. Ada banyak yang dikerjakan petani mulai dari benih, biji, air, tanah, microorganisme, pekerjaan pemeliharaan dan lain sebagianya yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Bahkan untuk menghasilakan satu buah jeruk pun harus membutuhkan 50 liter air.

Dengan ilustrasi ini maksudnya, kita harus menghormati para produsen makanan, salahsatunya tidak memubazirkan makanan, dan kita yang bukan petani jangan menuntut harga serba murah sementara para petani megap-megap kehidupannya.

Kadang banyak orang ingin harga murah dari produk pertanian, itu sama dengan mendoakan agar petani semakin sengsara dan yang memungkinkan murah adalah produsen petani besar perusahaan-perusahaan yang bisa memproduksi makanan secara massal kemudian berdampak menggusur produk pertanian petani kecil.

Makanan adalah bahan bakar bagi tubuh kita. Yang terbaik bukan banyak dan sesuai dengan keinginan, hasrat atau nafsu kita, melainkan sesuai kebutuhan tubuh. Puasa juga memungkinkan kebaikan untuk mengerem tubuh dari kecanduan perilaku kita sebelumnya yang ugal-ugalan soal makan dengan kepentingan sensasi.

Berpikir tentang makanan? Adalah kerja filosofis yang mulia. Lakukan dan terus lakukan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *