Perbandingan Kesehatan Kota Vs Desa

Oleh Faiz Manshur. Pegiat Odesa-Indonsia.
Jared Diamond dalam bukunya Guns, Germs & Steel menyingkat sejarah tentang hubungan manusia dengan pertanian. Salahsatunya yang menarik adalah pendapat tentang perbandingan antara kerumunan manusia dengan ternak dan tanaman Vs kerumunan massal manusia di kawasan perkotaan.




Kurang lebih ia katakan, kebangkitan pertanian (domestik) merupakan merupakan berkah bagi mikroba dan di sana potensi penyakit menjadi bagian problem sejarah manusia. Namun demikian, kerumunan hewan dan manusia di pertanian itu problemnya belum seberapa parahnya di banding dengan kerumunan massal manusia di perkotaan.

Memang salahsatu penyebab migrasi dari kehidupan desa yang kumuh mendorong orang senang berpindah ke kota. Itulah mengapa banyak anak-anak petani desa yang imajinasinya suka hidup di kota karena secara naluriah ia didesak oleh keadaan buruk kesehatan (rumah kumuh, ekonomi yang tak bagus, keadaan tertinggal, sanitasi yang buruk dll) sehingga beranggapan rumah di kota sekalipun sempit ternyata lebih baik. Dengan kata lain, pemukiman di kota ini dianggap lebih baik dengan hitungan lebih baik dari rumah perdesaan, bukan baik dalam artian standar kesehatan.



Kemudian sekarang kita menyaksikan bahwa kota dengan kepadatan yang begitu massif,– seperti Bandung misalnya yang sebetulnya hanya layak dihuni 700-800ribu orang tetapi berisi lebih 2 juta orang—pada kenyataannya sekarang tidak sehat, lebih parah dari perdesaan. Desa dengan ternak-ternak masih kalah kumuh dengan perkotaan, apalagi di kawasan-kawasan pemukiman kumuh perkotaan yang dampak kesehatannya juga sangat menentukan kesehatan semua warga termasuk di perumahan-perumahan elit dan hotel mewah sekalipun.

Kita tidak bisa lagi menganggap desa lebih buruk kesehatannya hanya karena masalah ternak yang banyak menumbuhkan mikroba, melainkan juga manusia di perkotaan yang juga sering memelihara hewan-hewan kesayangan dan begitu terjadi penularan kerumunan massal itu sendiri akan menjadi satu masalah besar bagaimana penyebaran virus lebih cepat dan massif. kepadatan menjadi bagian problem terpenting saat ini.




Melalui tulisan Jared Diamond kita juga mendapatkan pengalaman, bahwa padatnya perkotaan menjadi bagian proses evolusi manusia itu sendiri dengan banyaknya kisah tragis kota-kota besar seperti Romawi dan beberapa studi kasus kontemporer seperti yang terjadi di Lima (Peru), Los Anggeles.

Satu lagi yang menurut saya perlu disingkap adalah ketidaksehatan penghuni kota dengan cermin banyaknya rumahsakit dan antrean warga sakit. Ini perlu diteliti lebih mendalam. Hanya melalui data-data lapangan nanti kita akan bisa menyimpulkan apakah banyaknya orang sakit di kota itu memang akibat manusia sudah tidak layak menghuni kawasan perkotaan[]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *