Peran Sosial Perusahaan untuk Keluarga Miskin

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia

Salahsatu hal yang memprihatinkan dari situasi Indonesia adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan yang kita persoalkan di sini adalah menyakut kategori struktural, bukan individu. Artinya yang perlu diurus oleh negara adalah korban dari kemiskinan akibat faktor lingkungan yang tiada memberi kesempatan seseorang untuk lepas dari jerat kemiskinan. Di dalam kemiskinan struktural ini terdapat istilah pra-sejahtera (belum sejahtera) atau bisa disebut sangat miskin, sedangkan mereka yang miskin masuk kategori sejahtera I.

Pada dimensi kemiskinan ini, perihal kesejahteraan haruslah menjadi skala prioritas negara karena jika kelompok keluarga miskin pra-sejahtera ini tidak tertolong, akan terus menjadi beban negara dan beban masyarakat sekitarnya, dan yang lebih bahaya lagi mengakibatkan situasi hidup yang tidak manusiawi. Apalagi kebanyakan dari mereka itu adalah tenaga pertanian, yang mestinya harus menjadi tenaga produktif untuk menyediakan pangan bagi masyarakat.

Kemana sebaiknya menyalurkan bantuan?

Negara jelas harus mengambil peran maksimal, namun sejauh ini tidak pernah mampu menunjukkan hasil yang signifikan. Perusahaan bisa mengambil peran dalam lapangan kerja kemanusiaan ini dengan agenda Corporate Social Responsibility-nya.

Bencana Sosial
Tindakan sosial pada keluarga pra sejahtera ini sama pentingnya dengan tindakan cepat mengatasi masalah bencana alam. Selama ini kita mudah empati secara cepat pada tragedi bencana alam, tapi tidak mudah empati pada bencana sosial, padahal nilai tragisnya sama.

Misalnya, ada deretan keluarga di sebuah kampung pedalaman yang tidak mendapatkan akses air bersih secara memadai. Itu dipastikan akan menyulitkan orang untuk bangkit dari kemiskinan karena kurang air bersih berarti tidak sehat, berarti juga waktunya boros untuk mengambil air. Berarti pula tidak mungkin menjalankan home-industry atau tani pekarangan. Kalau ini dibiarkan, artinya mereka akan terkena bencana panjang tanpa ujung penyelesaian.

Keadaan sangat miskin ini oleh negara bisa dilihat melalui beberapa indikasi sebagaimana tertuang dalam laman situs Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 1) Anggota keluarga tidak bisa mendapatkan makan dua kali sehari atau lebih. 2) Anggota keluarga tidak memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. 3) Rumah yang ditempati keluarga mempunyai atap, lantai dan dinding yang baik. 4) Bila ada anggota keluarga sakit dibawa ke sarana kesehatan. 5) Bila pasangan usia subur ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi. 6) Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah. Wajib sekolah 9 tahun.

Dari Charity ke Filantropi

Golongan keluarga seperti inilah yang harus mendapat prioritas untuk dijawab oleh negara. Namun sejauh negara melakukan secara serius, antara jumlah keluarga pra sejahtera dengan menyangkut 26.582.990 (Data BPS 2017) jiwa tersebut tentu tidak akan mencakup semua. Apalagi jika bantuan yang diterapkan tersebut tidak berlangsung secara menyeluruh sesuai petunjuk pelaksanaan di lapangan.

Orang miskin akan tetap miskin kalau model pertolongan yang dilakukan sebatas melempar koin. Dan orang miskin akan sulit beranjak dari kemiskinan kalau persoalan-persoalan mendasar seperti kesehatan, pendidikan dan ekonomi tidak dilapangkan jalannya dengan memberi kesempatan untuk berubah.

Peran perusahaan
Perusahaan dan kelompok sipil non perusahaan harus bertindak, dimulai dengan mengubah mindset, mengarahkan perhatian pada kelompok ini. Yang kedua, disertai dengan sikap empati, sama sikap empati kita pada tragedi bencana alam. Empati pada mereka adalah sebuah tindakan kemanusian karena sejauh ini kemiskinan oleh negara harus dibaca sebagai angka, bukan sebagai tanggungjawab kemanusiaan. Biasanya pemerintah berpikir, asalkan ada sekian persen teratasi, maka mereka langsung bangga, sementara sekian jumlah lain yang lebih besar terbengkelai.

Membantu Beban Hidup Keluarga Miskin dengan menyediakan air bersih

Ada sejumlah alasan mengapa kelompok sipil atau perusahaan untuk mengambil peran ini. Selain mindset birokrasi kita masih konservatif, ada juga kenyataan lain menunjukkan, banyak program pembangunan, apalagi infrastruktur non rumah tangga, belum tentu berkahnya diterima pada keluarga pra-sejahtera, apalagi kebanyakan keluarga pra-sejahtera itu tinggalnya jauh dari akses jalan atau infrastruktur yang dibangun secara baik. Betul, bahwa pembangunan infrastruktur bisa mengatasi masalah ekonomi, tetapi tidak setiap pelaku ekonomi, apalagi yang sulit berekonomi akan secara otomatis mendapatkan berkah dari pembangunan.

Kita tidak bisa bangga dengan gemerlap pembangunan karena pembangunan yang baik harus memberi dampak pada semua pihak, dan bukan membangun bangunan mewah namun justru berpeluang untuk sarang gelandangan dan pengemis.

Demokrasi harus bermakna untuk keadilan. Keadilan akan lebih mudah diwujudkan kalau sikap kemanusiaan kita utuh. Sikap kemanusiaan kita akan lebih berkualitas kalau empati kita mengarah pada mereka yang selama ini jauh dari yang kita pikirkan. Kita punya kewajiban untuk terus menyuarakan masalah-masalah tersebut. Tapi kalau protes nyatanya tidak membuahkan hasil, apa boleh buat kita harus bertindak langsung, sekalipun kemampuan kita terbatas.

Yayasan Odesa Indonesia, tempat kami berkegiatan mengambil peran konkret seperti ini; menyelesaikan masalah akar rumput yang tidak tersentuh oleh negara. Banyak dari keluarga pra-sejahtera di desa-desa yang bahkan oleh dana desa sendiri tidak tertangani, misalnya masalah air karena pemerintah desa belum menyadari skala prioritas hak warga atas ketersedian air bersih dan sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai.

Agar Mereka Tak Putus Sekolah

Seringnya kami blusukan sampai ke pelosok perdesaan membuat kami mudah menemukan fakta keluarga pra-sejahtera yang hidup tidak manusiawi. Ada banyak dari mereka, fakir-miskin yang tidak memiliki harapan untuk mendapatkan santunan negara. Ada banyak korban dari ketidakadilan sosial ini yang bahkan sampai meninggalnya pun tidak mendapatkan hak-haknya untuk hidup wajar. Sementara ada sekian golongan yang dengan mudahnya menikmati anggaran negara bahkan tanpa kerja keras.

Orang-orang Pra-Sejahtera ini terdzalimi oleh sistem dan kerja poltik yang tidak memiliki semangat kemanusiaan. Angka kemiskinan sekadar dianggap statistik yang seakan-akan bisa diselesaikan di ruang-ruang rapat yang memboroskan anggaran rakyat itu.

Itulah mengapa ketika Odesa Indonesia bermitra dengan perusahaan melakukan tindakan tepat sasaran menyediakan air dan sarana toilet bagi keluarga pra-sejahtera di Cimenyan Kabupaten Bandung misalnya, sekarang tumbuh kebaikan hidup. Ibu-ibu lebih hemat waktu dalam mencuci dan memasak. Anak-anak petani yang sebelumnya sering kucel kini semakin bersih.

Pola bersih tangan sebelum makan juga bisa berjalan baik dan bahkan banyak yang merasa ibadah mereka tertolong karena ketersediaan air bersih.Sekalipun penyediaan air bersih ini tidak lantas mengurangi kemiskinan, tetapi ada kenyataan bahwa mereka lebih sejahtera. Tinggal bagaimana selanjutnya pendampingan ekonomi dilanjutkan setahap demi setahap. Toh, bagaimanapun juga usaha tani pekarangan membutuhkan air di sekitar rumah mereka.

Jika perusahaan bisa membawa kegiatan sosialnya, Corporate Social Responsibility (CSR) dengan pendekatan empati untuk keluarga pra-sejahtera, terutama untuk masalah kesehatan, pendidikan dan ekonomi, maka di situlah akan banyak terjadi perubahan untuk Indonesia.[]

Menyalurkan Zakat untuk petani miskin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *