Peran Pelukis, Botani dan Nasib Petani

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

Sabtu 23 Maret 2019, Saya kedatangan dua pelukis. Namanya Didit Sudianto dan Rendra Santana. Keduanya pelukis dari Bandung. Bulan Oktober 2018 sebelumnya, keduanya terlibat kegiatan event Pasar Rakyat Tebing Kosmo yang digarap Oleh Odesa Indonesia dan RCTI.

Waktu itu, ada lebih 10 pelukis yang berpartisipasi melukis alam di Tebing Kosmo Pasir Impun Cimenyan Kabupaten Bandung. Saya tidak sempat mengenal semuanya, tapi sebagian yang kemudian terhubung seperti Bank Zoel, Pak Teddi K Wirakusumah telah saya ketahui memiliki kemampuan melukis yang luar biasa.

Kemarin, Pak Didit menyerahkan hasil lukisan tentang Hanjeli.” Ini yang pertama, kita coba, nanti saya akan melukis yang lain,”katanya.

Setengah hari saya, Pak Didit dan Kang Rendra kemudian memasuki kebun tanaman pangan dan tanaman herbal, tempatnya Pembibitan Odesa Indonesia yang digarap oleh Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci). Bersama Yayan Hadian (Jajang) kami berkeliling kebun, mengantar pelukis melakukan pengamatan rinci tentang jenis-jenis tanaman pangan dan tanaman obat.

Ada Sorgum, Kelor, Hanjeli, Bunga Matahari, Kumis Kucing, Bunga Telang, Pagoda, Daun Afrika yang kita amati bersama. Satu bersatu tekstur botani dilihat, dipegang, dirasakan “sensasinya.”

“Saya merasa perlu melihat dan mengenalinya secara dekat pada setiap objek karena foto dan video tidak akan mencukupi karena saya butuh feel yang cukup,” kata Pak Didit.

Serupa dengan Pak Didit, Kang Rendra Santana juga bekerja dengan pengamatan yang detail. Ia semangat mengamati satu persatu tekstur dengan segala variasi pada setiap jenis tanaman. Tujuannya mengamati botani, tapi berkah alam bagi yang hobi ke lapangan akan mendapatkan bonus, salahsatunya adalah pesona eksotik kumbang, lebah, dan kupu-kupu yang banyak bertebaran di kebun pembibitan sorgum merah. Nah, sorgum merah ini juga paling keren saat di lukis. Banyak painting tentang sorgum merah di internet, terutama dari Cina dan Eropa.

Biasanya yang berkepentingan detail tentang lapangan seperti ini adalah para jurnalis. Tapi kedua pelukis ini juga berlaku sama. Mereka para pelukis yang sudah memiliki jam terbang tinggi, bekerja lebih hati-hati dan tidak malas untuk terjun ke lapangan sekalipun harus belepotan berkeringan masuk ladang, digigit nyamuk dan pastinya sehabis itu gatal-gatal.

PERAN PELUKIS

Sudah lama saya menginginkan peran pelukis dan jurnalis untuk terlibat serius dan massif pada urusan botani ini. Tujuan keterlibatan pelukis secara visioner adalah untuk membangkitkan kepedulian mereka pada dunia pertanian, terutama pada dua hal, yaitu menyangkut kemiskinan petani dan apresiasi terhadap keanekaragaman hayati. Sebab, sejauh saya melihat di internet, banyak sekali pelukis-pelukis kelas dunia yang menghasilkan karya keren dengan tujuan mengampanyekan pertanian, tidak sekadar melukis alam yang indah, melainkan benar-bener memiliki tujuan untuk kampanye isu-isu kerakyatan dalam bidang pertanian.

Dalam ruang demokrasi, pelukis, sebagaimana jurnalis, memiliki peran penting. Dengan karya atau kiprah sosialnya, atau kiprah keduanya, bisa menyampaikan pesan-pesan dari masyarakat lapisan bawah yang selama ini hidupnya sengsara karena minimnya peran negara. Pelukis juga bisa “mempromosikan” keanekaragaman hayati pertanian kita yang kaya namun belum mendapat tempat. Kita tahu, mayoritas produk pertanian kita impor, sementara pada sekup-sekup kecil pertanian bermutu membutuhkan peran kampanye, terutama tanaman pangan seperti kelor, sorgum, hanjeli, daun afrika, bunga matahari dan lain sebagainya.

Kepada Pak Herry Dim pernah saya sampaikan, “akan sangat menarik kalau para pelukis ini bekerja mengapresiasi botani karena kita kaya akan botani. Aku berpikir akan keren kalau misalnya dari puluhan pelukis itu menghasilkan misalnya, 100 lukisan Kelor (Moringa Oleifera), 100 Bunga Matahari, 100 Lukisan Daun Afrika (Vernonia Amygdalina), 100 Lukisan tentang Ciplukan (Golden Berry), 100 Lukisan tentang Sorgum, 100 Lukisan tentang Hanjeli, 100 Lukisan tentang……..dan ratusan lukisan pada setiap botani…….”

Itu imajinasi sosial saya. Yang paling penting tentu bukan angka 100-nya, melainkan soal banyaknya karya lukis yang memiliki kepedulian terhadap tanaman pangan dan tanaman herbal berkualitas, juga sejumlah kepedulian melukis persoalan-persoalan masyarakat yang akut sampai sekarang tidak diatasi oleh negara. Kehidupan sudah sangat maju, tapi ingat, kita masih punya saudara-saudara yang tertinggal jauh, mengalami keterbelakangan hidup.

Orang-orang miskin di pedalaman sekalipun desanya mendapat kucuran tambahan anggaran negara berupa Dana Desa, jangan dikira mereka telah mendapatkan efek dari Dana Desa tersebut. Sebab masih ada kenyataan, Dana Desa untuk aparat Desa, belum menyentuh untuk warga desa yang miskin sengsara. Masih banyak anak-anak petani dari keluarga Pra-Sejahtera (Sangat Miskin dan golongan Sejahtera I (Miskin) tidak mendapatkan kesempatan bersekolah bahkan pada usia wajib belajar. Banyak yang masih jebol SMP karena urusan biaya transportasi. Banyak keluarga petani tidak mendapatkan akses sanitasi yang berkecukupan, bahkan tidak memiliki toilet atau sarana MCK (Mandi, Cuci dan Kakus).

Odesa Indonesia memiliki semangat bergerak dalam hal kebangkitan pertanian ini. Caranya tentu saja praktis mengorganisir dan mendorong petani lebih serius menghasilkan tanaman pangan berkualitas. Tentu dengan semangat pembaharuan. Salahsatu yang penting ditancapkan dalam gerakan pembaharuan pertanian ini adalah membuat formula baru terkait dengan tanaman-tanaman yang tidak dikembangkan petani. Tujuannya supaya kita mendapatkan market yang khusus dan petani mendapatkan jalan perubahan. Tentu tidak sekadar menambah apalagi mengganti jenis tanaman, melainkan dengan gerakan pengorganisasian yang serius.

Tanaman-tanaman pangan bermutu tinggi, biasanya kami merujuk dari riset Food Agriculture and Organization (FAO) antara lain adalah Hanjeli, Bunga Matahari, Sorgum, Kelor, Bunga Telang, Daun Afrika, dan juga jenis-jenis herbal lainnya. Semuanya harus dikampanyekan seluas mungkin agar petani atau pecinta kebun di luar Odesa Indonesia juga bergerak aktif mendorong budidaya pertanian semacam itu.

Kami percaya bahwa kekuatan kebudayaan harus dimulai dari budidaya tanaman pangan. Visi Odesa Indonesia dalam memperbaiki keadaan hidup petani golongan kecil atau yang disebut Peasant atau Kaum Marhaen ini adalah menyertakan keterlibatan keluarga petani dalam urusan budidaya, ternak (satwa), literasi dan teknologi. Di sinilah peran pelukis, apalagi jurnalis mesti serius karena tanpa gerakan kebudayaan yang terhubung dengan budidaya pertanian niscaya kita tidak akan menemukan jalan perbaikan.

Kelas menengah, pelukis, jurnalis, politisi, pekerja swasta, mahasiswa, dosen-dosen perlu terjun ke lapangan, memahami persoalan secara konkret dan membuat strategi perubahan sosial. Kemiskinan dan keterbelakangan akibat ketidakadilan sosial teramat pelik. Rakyat lapisan bawah, terutama buruh tani membutuhkan mitra dan membutuhkan kepemimpinan di luar urusan pertanian.

Kita bekerja dengan garis visioner seperti itu dan kelas menengah di perkotaan akan mendapatkan banyak keuntungan dengan sikap sosialnya, seperti goresan pena Stephen Kaplan di bawah ini:

“Lingkungan yang paling tenteram adalah alam. Perjalanan melintasi kebun botani akan mengarah pada fokus yang lebih baik saat Anda kembali ke tugas yang menuntut konsentrasi ketimbang berjalan-jalan di pusat kota. Bahkan duduk di dekat lukisan dindin bertemakan alam –khususnya lukisan yang mengandung air lebih baik daripada duduk-duduk di kafe pojok. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *