Pelatihan Tani: Tanah, Energi, Air dan Pangan

Bagi mayoritas petani di Cimenyan Kab.Bandung, kegiatan bertani urusannya tidak lebih dari tenaga kerja nyangkul, persiapan bibit, dan pupuk. Tiga hal ini saja oleh petani sudah sering membuat pikiran kusut karena menyangkul berarti harus mengeluarkan modal besar. Belum lagi ketergantungan dengan pupuk kimia yang selain mahal juga susah didapat.

Masalah seperti ini oleh Yayasan Odesa Indonesia sudah dipikirkan lama, dan bukan menjadi akar masalah. Jika target pertanian ingin baik, maka yang dipersoalkan secara mendasar adalah model pertanian itu sendiri. Basuki Suhardiman, pendamping kegiatan ekonomi tani Odesa Indonesia, pada kegiatan Pelatihan Pertanian, Sabtu 27 Oktober 2018, mengajak para petani lebih berpikir strategis.

“Pertama adalah tanah. Tanah itu milik siapa. Berapa luas. Bentuk tanahnya seperti apa. Apakah dalam satu lokasi atau beberapa lokasi. Siapa yang akan menggarap. Kalau bukan milik sendiri statusnya kontrak atau apa? Ini yang perlu kita pastikan supaya strategi kegiatan usaha tani nanti tidak salah langkah,” papar Basuki.

Tahap kedua, menurut Basuki Suhardiman, harus paham tentang pentingnya energi, terutama energi panas matahari di mana nantinya keadaan tanaman itu akan sangat berurusan dengan ketersediaan dari energy matahari, terutama pada jam pagi. Struktur tanah dan model batas harus dipetakan sebelum ditanami karena setiap tanaman membutuhkan energi matahari.

Tahap ketiga petani harus tahu keadaan airnya. Sebab jika tidak, bisa menghambat kegiatan. Bahkan dari kasus kemarau tujuh bulan tahun 2018 ini saja banyak petani tidak bisa menjalankan kegiatan taninya karena keadaan kering dan tiada saluran irigrasi. Masalah air harus dibenahi sebaik mungkin supaya tanaman tumbuh massif, merata dan sesuai siklus tanaman. Tidak bisa lagi petani bergantung air hujan sementara untuk menampung air hujan saja tidak dilakukan. Masalah air menurut Basuki tergolong mendasar dan belum diselesaikan oleh para petani Cimenyan. Kebanyakan petani memilih menyerah tidak bertani karena faktor air yang sulit di musim kemarau, sementara saat musim hujan Kawasan Cimenyan ini bisa sangat bagus airnya.

“Kita harus serius membenahi masalah air. Rumah tangga petani saja airnya tidak lancar sehingga kita harus membangunkan saluran air dan MCK, apalagi ladang, pasti banyak yang tidak beres,” jelasnya.

Tiga komponen di atas tersebut disampaikan oleh Basuki Suhardiman sebagai bekal pemikiran para petani karena tujuan pertanian adalah untuk menghasilkan pangan, dan untuk pangan yang baik mesti harus mengatasi tiga masalah mendasar yaitu, tanah, energi dan air.

Basuki juga memberikan pemahaman secara khusus terkait dengan penggunaan air dalam usaha mendapatkan pangan. Ia mencontohkan dua hal. Pertama untuk menghasilkan padi 1 Kg, kebutuhan airnya harus mencapai 4 kubik air. Sebab model pertanian air itu sebenarnya tidak selalu strategis. Ia membandingkan tanaman padi gogo yang hanya butuh sedikit air menghasilkan setengah lebih sedikit dari padi genangan. Tapi itu sebenarnya lebih efisien daripada harus memaksa tanah genangan air sementara keadaan air belum tentu stabil.

Kemudian juga, banyak yang berpikir bahwa ternak sapi selalu menguntungkan sehingga orang tertarik memelihara sapi dalam jumlah banyak. Hal ini oleh Basuki Suhardiman diberikan catatan bahwa untuk menghasilkan pangan dari daging sapi minimal harus butuh 11.000 liter air. Artinya 1 kg daging sapi itu membutuhkan sekian banyak air, yang barangkali bisa digunakan untuk kebutuhan lain.

“Karena itu kita harus berpikir ulang untuk memilih model usaha ekonomi pertanian. Harus berhitung dari beberapa aspek supaya tidak merugi baik merugi tenaga kerja, waktu atau bahkan juga rugi secara lingkungan,” paparnya.

Melihat akar masalah seperti itu, Basuki Suhardiman kemudian menggagas gerakan tanam sorgum dan padi gogo karena menurutnya, kedua tanaman ini hemat air. Untuk program padi gogo masyarakat belum minat serius karena hampir semua berpikir hasil panen mentah yang dijual. Petani belum tertarik diajak bicara kemandirian pangan keluarga, bahwa beras sebaiknya harus untuk menopang makan rumah tangga. Sementara pada program sorgum justru lebih diterima petani karena petani beralasan hal itu memungkinkan mendapat uang yang lebih bagus dari pendapatan menanam jagung.

“Sorgum bukan berarti tidak butuh air. Namun dibanding tanaman sayuran dan lain sebagainya, sorgum akan lebih realistis untuk para petani Cimenyan yang bertani hanya bisa satu kali dalam satu tahun dan sering gagal. Kita akan damping petani mengurus sorgum sampai pasca panen,” jelas Basuki.

Selain masalah-masalah mendasar di atas, pertemuan pelatihan pertanian pada malam itu juga merekomendasikan pentingnya inovasi teknologi kecil tepat guna untuk para petani. Pada pelatihan tersebut disajikan ulasan video pertanian sederhana model beberapa negara yang kreatif memanfaatkan teknologi untuk pertanian di luar cangkul dan arit.

Didin Sudeni, pendamping kegiatan masyarakat yang merupakan pengusaha Bengkel DS Service akan mengusahakan model-model baru alat pertanian yang sesuai dengan kebutuhan petani. “Nanti kita cari barangbekas dan kita modifikasi, yang terpenting petaninya mau berubah juga,” katanya.-Khoiril,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *