Menjemput Revolusi Industri 4.0

Sebuah Catatan Kecil untuk Pengantar Seminar dan Rapat Kerja Nasional Ikatan Alumni Seni Budaya
Indonesia (ISBI) Bandung, 12 Maret 2019, di ISBI Bandung

Oleh: HERRY DIM *)

DI hadapan kita adalah thema besar yang saya pastikan tidak akan bisa selesai dalam satu pembicaraan, melainkan harus berkelanjutan dan bersambung dengan pengerjaannya. Bahkan, jika ditilik, di dalam kalimat thema “Keunggulan Kompetitif Nilai–nilai Seni Budaya dalam Era Revolusi Industri 4.0 Menuju Jalan Kemandirian Bangsa” pun terdapat istilah yang harus dicari kejelasannya bahkan ada yang bersifat paradoks dan harus dicarikan titik tengahnya agar sampai kepada yang dimaksud.

Kita, misalnya bisa mempertanyakan ulang: Apa yang dimaksud dengan keunggulan? Apa dan bagaimana nilai-nilai seni budaya, itu terutama ketika berhadapan dengan penunjuk zaman yang disebut Era Revolusi Industri 4.0? Dan apa maksud mandiri yang (lagi-lagi) dalam hal ini dikaitkan dengan Era Revolusi Industri 4.0?
Rumit bukan?

Tapi, baiklah kita urut dari pengikat thema yaitu Era Revolusi Industri 4.0, sambil dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya yaitu: Jika ada era Revolusi Industri 4.0 bukankah seyogianya ada revolusi sebelumnya dalam urutan Era Revolusi Industri 1, 2, dan 3? Di manakah keberadaan kita ketika Revolusi Industri 1, 2, dan 3 tersebut berlangsung?

Setelah menjawab pertanyaan awal di atas, mudah-mudahan kita bisa menjawab pertanyaan: Siap kah kita untuk memasuki Era Revolusi Industri 4.0? Dan/atau, jika hendak lebih optimistik, kita ubah pertanyaannya menjadi: Apa yang harus dipersiapkan untuk memasuki Revolusi Industri 4.0 itu?
Revolusi Industri 4.0.

JIKA diringkas, Revolusi Industri 4.0 itu semacam penjumlahan dari revolusi-revolusi sebelumnya, satu sama lain saling berkait kausalitasnya dengan kata lain satu kemajuan itu terjadi karena ada kemajuan sebelumnya yang digunakan dan dikembangkan. Berikut ini adalah ringkasan ciri-ciri Revolusi Industri yang telah terjadi.

Revolusi Industri 1.0, dimulai dengan ditemukannya mesin uap yang kemudian digunakan untuk proses produksi barang atau pun transportasi. Dimulai di Inggris Raya kemudian menyebar ke negara-negara lain di Eropa dalam periode antara tahun 1750-1850. Inilah masa tenaga otot digantikan dengan teknologi mekanika mesin uap, sehingga mengubah pula perlakuan manusia terhadap tenaga air, angin, atau pun sumber energi gerak lainnya. Logika dasar pengembangannya adalah ke arah kemungkinan teknologi yang kian efisien dan murah.

Revolusi Industri 2.0, terjadi pada awal abad ke-20. Mesin uap menjadi sumber rujukan dan kemudian dikembangkan hingga ditemukan sistem tenaga listrik sebagai penggantinya. Yang terpenting pada era ini adalah masa dimulainya produksi pabrikan. Mobil, misalnya, di akhir 1800-an mulai diproduksi secara massal. Tradisi baru yang muncul pada masa ini adalah sistem kerja perakitan sejak ban, pintu, setir, lampu, dst., sampai lengkap. Artinya mendorong tumbuhnya ilmu-ilmu dan keahlian baru dengan spesifikasinya masing-masing. Pola efisien dan murah pun terus dikembangkan. Tenaga listrik kian menempati posisi penting, dan pada masa inilah mulai dikenal sistem kerja ban berjalan. Gabungan pemanfaatan energi listrik dan ban berjalan terbukti bisa memangkas waktu produksi secara drastis, dan/atau akibat langsungnya adalah peningkatan jumlah produksi.

Revolusi Industri 3.0, dikenal sebagai awal abad informasi. Jika Revolusi 1.0 dipicu mesin uap, Revolusi 2.0 dipicu ban berjalan dan listrik; ciri Revolusi 3.0 ditandai dengan adanya mesin yang bergerak, dan mesin yang berpikir secara otomatis yaitu komputer dan robot. Dengan tetap berpegang kepada prinsip efisien dan murah, inilah saatnya computer menggantikan banyak manusia sebagai operator dan pengendali produksi. Muncul lah istilah “otomatisasi,” semuanya nyaris serba otomatis, tidak memerlukan banyak manusia lagi.

Di sisi lain adalah percepatan temuan-temuan teknologi komputer yang jauh mengalahkan masa proses sejarah sebelumnya. Komputer pun menjadi bisa saling terhubung, sekali lagi ringkasnya, seperti yang kita rasakan sekarang bahwa komputer di tangan kita (orang per orang) pun menjadi mampu terhubung dengan komputer di negeri lain yang padahal satu sama lain belum tentu saling kenal dan/atau belum pernah saling jumpa secara fisik.

Belakangan lahirlah istilah TI yang bisa berarti Teknologi Informatika atau ilmu teknologi komputer, dan Teknologi Informasi yaitu teknologi yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan data/informasi. Teknologi Informasi pada dasarnya berupa sistem yang menggunakan sekaligus menggabungkan sistem-sistem komputerisasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk pengolahan dan penyebaran data, suara, dan video. Teknologi Informasi pada gilirannya

Bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga tertera pada telefon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan telefon genggam (ponsel). Ini, seperti banyak dikemukakan oleh para pemikir kebudayaan, ternyata mengubah manusia sejak perilaku, berfikir, hingga di dalam mengambil keputusan. Sifatnya sangat massal bahkan global, dan pada sisi lain; manusia baru zaman ini relatif tak terpisahkan dari TI dalam arti Teknologi Informasi. Ini pula yang mengubah arah “dasar pikiran” secara mendasar, termasuk logika pabrikan yang semula berjaya pada Revolusi 1.0 dan 2.0. Negaranegara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat, misalnya, cenderung berubah dari semula mengandalkan konsep sektor manufaktur (pabrikan) menjadi mengandalkan konsep sektor jasa seperti bank, studio film, TI itu sendiri, dll. sebagai motor ekonomi mereka. Ekonomi industri bergeser menjadi ekonomi informasi Revolusi Industri 4.0, yaitu zaman sekarang ini.

Seperti telah disebut di atas, bahwa semua perkembangan itu berada di dalam satu mata-rantai. Hal-hal yang telah berlangsung pada Revolusi Industri 3.0, itu berlanjut pada Revolusi Industri 4.0 dengan pelipat-gandaan kemampuannya yang sangat cepat. Sebagai contoh atau catatan teramat kecil saja tentang percepatan dan perkembangan teknologinya, itu antara lain bisa kita lihat pada perubahan dari telefon genggang ke telefon cerdas.

Perusahaan Nokia pada 11 February 2007 mengeluarkan produk Communicator E90 di Barcelona atau 17 Mei 2007 di Indonesia, ini sudah termasuk telefon pinter yang menggabungkan sejumlah sarana telekomunikasi dengan komputer dengan sistem Symbian. Selang enam bulan kemudian, tepatnya pada November 2007, Google memperkenalkan sistem Android yang menjadi cikal-bakal aneka jenis telefon cerdas (smartphone) seperti yang kita kenal sekarang. Teknologi ini, seperti generasi awalnya, menggunakan sistem operasi open source yang mengintegrasikan berbagai layanan
Google seperti Gmail, Maps, hingga YouTube. Seperti yang kita ketahui, sejak itu berbagai
pabrikan mengeluarkan smartphone dengan p

Contoh termudah yang terjangkau secara fisik dan sudah bisa dilihat oleh mata kita adalah keberadaan drone. Di titik ini saja kita saksikan bagaimana “mata” kita bisa pindah di ketinggian tanpa harus menggunakan tangga atau alat peninggi lainnya, bukan itu saja karena drone nyatanya bisa bergerak dan/atau melakukan penjelajahan. Silakan daya hermeneutika yang kita miliki itu kita berdayakan seluas-luasnya, maka bukan tidak mungkin pikiran kita akan sampai pada pertanyaan: Bagaimana jika drone itu dipersenjatai dan/atau drone itu sendiri menjadi mesin perang? Seperti telah disampaikan pada awal tulisan, catatan ini hanya berupa ringkasan, tidak dimaksudkan sebagai analisa TI melainkan sebagai gambaran serba sekilas agar kita bisa melihat diri kita sendiri dimana kiranya berada pada saat Revolusi Industri 4.0 itu tiba. Kosakata “kita” yang dimaksud adalah kita sebagai Alumni ASTI atau STSI atau kini ISBIBandung, meski pada dasarnya “kita” tersebut bisa pula dibaca sebagai puak bangsa yang
disebut Indonesia.

Manusia, Seni, dan Kebudayaan 4.0

DI atas telah disinggung bahwa ciri peradaban Revolusi Industri 4.0 ini bersifat open source, terbuka bahkan diduga akan kian terbuka. Keterbukaan ini mulanya terjadi pada keterhubungan satu piranti ke piranti TI lainnya, tapi karena piranti tersebut sejatinya merupakan alat yang diciptakan untuk kebutuhan manusia maka pada gilirannya keterbukaan dan kesaling-terhubungan ini akan/bahkan sudah menjadi ciri umum manusia 4.0 di manapun.

Keterbukaan di sini betul-betul dalam arti yang seluas-luasnya dan tanpa batas. Orang dengan ras, agama/kepercayaan, ideologi, suku, bangsa, dan golongan apapun menjadi saling terhubung dan berada pada ruang yang sama. Berjalannya Revolusi Industri 4.0 bahkan tidak akan pernah bertanya pelakunya itu laki-laki atau perempuan, presiden atau jelata, pintar atau bodoh, dan seterusnya. Maka unggul atau pun tak unggul, seperti yang dipertanyakan di awal tulisan, tidaklah menjadi subjek utama. Demikian halnya dengan seni yang bernilai atau tak bernilai, bahkan baik atau buruk, bagus atau jelek, benar atau salah, berguna atau tak berguna itu tak dipersoalkan melainkan semuanya dipersilakan hadir bersama-sama secara terbuka.

Intinya ruang 4.0 ini dengan “baik hati” dan terbuka akan selalu mendata dan menyimpan apa dan siapapun yang masuk dan ikut bermain di sana. Ruang publik 4.0 pada akhirnya tak lain seperti tempat keramaian, bazaar, tempat pesona (sesaat), dan/atau bukan tempatnya nilainilai. Unsur kemanusiaan yang paling mengedepan di ruang publik 4.0 tak lain adalah ukuran “hadir atau tak hadir” dengan penyertanya yaitu ukuran “suka atau tak suka,” itu pula yang kemudian disediakan oleh piranti jejaring sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram, dan semacamnya. Puncak pencapaian dari kehadiran di ruang 4.0, itu diukur dengan istilah “viral” yang ditentukan oleh sebanyak apa publik melihat dan menyukainya.

Sebagai contoh, kita boleh ngotot atas nama nilai bahwa nyanyian “Kembang Tanjung Panineungan” ciptaan Mang Koko itu sungguh indah, bernilai secara musikal sekaligus memiliki nilai kesejarahan. Tapi, di ruang 4.0 mau tak mau harus diterima bahwa lagu “Bojo Galak” dari Via Vallen sangat jauh melampaui, sampai dengan saat catatan ini ditulis saja telah disaksikan oleh 14.386.988 penonton di Youtube.

Contoh lain adalah fenomena terkini berupa kehadiran novel dan kemudian film “Dilan.” Di dalam masa 4.0 yang pertama sekali harus diperhatikan adalah kehadiran pengarangnya, Pidi Baiq, di tatanan ruang 4.0. Pidi Baiq antara lain hadir di Twitter dan telah memiliki 653.000 pengikut, Instagram 417.000, dan Facebook sudah tiga akun yang artinya mendekati 15.000 teman. Maka, di sini, tak ada diskusi sastra kecuali prinsip kehadiran. Tak bisa, misalnya Pidi Baiq dibanding-bandingkan dengan K.H. Hasan Mustapa, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan silakan diperpanjang lagi dengan nama-nama yang tak hadir di ruang 4.0. Ini sekaligus untuk menyampaikan bahwa “kehadiran” itu tidak ada hubungannya dengan nilai sastrawi serta literasi atau kemampuan membaca, memahami, menganalisis, mendekonstruksi, dan apalagi pemberjalanan hermeneutika terhadap teks.

Gejala “bazaar” menjadi “kebenaran” inilah yang antara lain dicemaskan Yuval Noah Harari di dalam “Homo Deus,” dan beberapa pemikir masa depan lainnya. Ia melihat manusia bahkan di masa 3.0 itu sudah bisa “melempar” (baca “mencipta”) apapun semau-maunya, manusia telah menjadi tuhan (pertama sekali) bagi dirinya sendiri. Sementara bersama pola jejaringnya yang tak lagi berbatas, “lemparan” tersebut nyatanya bisa mempengaruhi kehidupan manusia lain di keramaian bahkan bisa menjadi semacam “kebenaran umum.”

Para pemikir sosial/politik telah melihat kemungkinan lebih jauh lagi, di antaranya mulai muncul “Teori Kekacauan (Chaos)” pada tataran sosial dan politik. Bermula dengan melihat teori matematika dan ilmu alam yang mengedepankan teori “efek kupu-kupu,” kalangan ilmu sosial/politik melihat kemungkinan “lemparan” sekecil apapun itu sesungguhnya memiliki potensi menimbulkan badai dan kekacauan. Kecemasan seperti ini nyata pula di depan mata kita, contohnya kecemasan kita terhadap hoax yang bisa dilempar di manapun dan oleh siapapun, impaknya bisa membesar dan/atau menjadi kecemasan yang meluas.

Pertanyaan kita sekarang: Apakah “nilai” betul-betul menghilang atau sudah tidak berarti lagi? Mari segera kita jawab dengan optimistik: tidak, ya, tidak menghilang. Nilai-nilai tetap terjaga dengan rapih terutama pada mereka yang telah menjadi bagian dan menjumput manfaat dari Revolusi Industri 0.1, 0.2, dan 0.3. Itu disebut Gaige Kaifang (reformasi dan keterbukaan) dengan sistem pasar-sosialis. Empat pilar modernisasi yang dilaksanakan Deng adalah pertanian, industri, teknologi, dan pertahanan.

Deng mengundurkan diri pada 1990 dan meninggal pada 1997. Cita-cita dan kerja kerasnya dilanjutkan oleh Presiden Cina, Jiang Zemin. Ideologi ekonomi terbuka, seperti yang kita saksikan sekarang, itu ukses dan Cina pun menjadi salah satu kekuatan besar ekonomi dunia. Kita, tentu saja, dalam berbagai hal berbeda dengan Cina maka jalan dan cara kerjanya pun niscaya berbeda. Gambaran di atas hendaknya dilihat sebagai sekadar gambaran kecil bahwa mandiri atau berdikari itu bukanlah konsep yang harus menutup diri, melainkan adanya kesadaran akan kemampuan diri yang teguh dan mampu berdiri gagah dan kuat di tengah bangsa-bangsa lain secara terbuka.

Membentang Tali Busur 4.0

PARA penyuara datangnya Revolusi Industri umumnya terpusat pada pembicaraan perkembangan industri manufaktur dan kemudian TI. Yang sering luput dari perhatian bahwa 300 tahun sebelum Revolusi Industri 0.1 atau tepatnya pada 1440 adalah terobosan besar berupa mesin cetak pertama yang ditemukan oleh Johannes Gutenberg dari kota Mainz, Jerman. Temuan ini, hemat saya, merupakan menopang utama terjadinya Revolusi Industri bahkan mengawali terjadinya Renaissance, mengingat sejak itulah ragam ilmu teknik, filsafat, hingga kitab suci mulai dicetak dan tersebar ke masyarakat luas.

Jika berkenan mundur lagi, peradaban catat-mencatat dan membukukan tersebut telah muncul dalam pola dan bentuk cetakan yang lebih sederhana lagi di Cina dan Korea sekitar tahun 175. Sementara di masa Kekaisaran Romawi pada abad ke 1, adalah Ensiklopedia tertua sebanyak 38 jilid yang ditulis oleh Caius Plinius Secundus. Apa gunanya menyitir dunia tulis-menulis dan cetak-mencetak ini?

Jawabnya bisa dengan pertanyaan baru dalam gurau serius: Cobalah letakan seperangkat komputer canggih produk Revolusi Industri 4.0 di depan kita. Biarkan komputer tersebut “ngajugrug” bahkan dinyalakan pun tidak. Pertanyaannya: Apakah komputer tersebut bisa langsung pandai dan cerdas?
Itu sekadar gambaran kecil bahwa TI itu sangat bergantung kepada masukan data yang tentu saja dilakukan oleh manusia. Jika kini jenis TI-nya sudah sampai pada model generasi Revolusi Industri 4.0, bentangan tali busur dan/atau masukan datanya itu sesungguhnya terhubung ke sumber-sumber di masa Revolusi Industri 1.0 bahkan sebelumnya.

Pada oase-oase peradaban catat-mencatat itu pula sejatinya nilai-nilai berada. Ini pula yang mengaitkan kepada uraian di atas bahwa nilai-nilai itu tetap terjaga dengan rapih terutama pada mereka yang telah menjadi bagian dan menjumput manfaat dari Revolusi Industri 0.1, 0.2, dan 0.3.

Nilai-nilai itu sendiri, seperti yang kita ketahui, bukanlah benda mati melainkan hal yang terus melakukan dialektika hingga dari waktu ke waktu terus-menerus melahirkan nilai-nilai baru. Sementara keberadaannya bukanlah di tempat bazaar melainkan pada tempat-tempat semestinya ilmu pengetahuan berkembang. Oleh karena itu bagi yang telah siap atau dengan sungguh-sungguh memanfaatkan temuan sejak Revolusi Industri 0.1, itu cenderung tak terganggu oleh kegoncangan karena bagi mereka telah lengkap tempatnya untuk menoleh ke belakang dan menemukan tambatan-tambatan nilai. Lain halnya dengan yang tak siap dan apalagi tak tersentuh buah Revolusi Industri 0.1, itu cenderung mudah “galau,” mudah terbakar hoax, bahkan menjadi sangat mudah untuk dibikin saling bertengkar hingga saling bunuh dalam peperangan sekalipun.

Kini, sebagai penutup, silakan tanya diri kita sendiri: di manakah kira-kira kita berada? Selanjutnya, apa dan bagaimanakah mestinya “ngigelan” Revolusi Industri 0.4 yang telah datang ini?

Itu kiranya yang seyogianya kita bicarakan di dalam seminar. Bismillah.***

*)Herry Dim, seniman, pengamat kebudayaan, pernah kuliah di jurusan teater ASTI
Bandung. Aktif Bergiat untuk kaum papa di Odesa Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *