Menilai Kualitas Daun Kelor

Kelor adalah bahan berkualitas. Bisa jadi anjlog kualitasnya kalau pengolahannya tidak tepat. Kita perlu bekal pengetahuan.

Semua yang ada pada kelor (Moringa Oleifera), daun, biji, bunga, kulit batang hingga akar masing-masing memiliki manfaat. Salahsatu yang harus diketahui manfaatnya adalah soal daun. Karena kita akan memanfaatkan daun kelor sebagai makanan bergizi superfood, bahkan untuk tujuan pengobatan, maka kita harus punya bekal dalam menilai produk kelor, seperti teh kering atau serbuk/bubuk.

Prinsip I: Daun segar kelor yang hijau adalah standar dasar yang bisa ditetapkan untuk konsumsi manusia dalam rangka meraih gizi yang baik. Daun segar warna kuning tetap memiliki nilai, misalnya untuk tambahan pakan ternak atau untuk pupuk tanaman.

Prinsip II: Daun kering maupun bubuk kelor yang baik juga warna hijau. Jika kita menemukan pasca panen kelor berwarna coklat-kekuningan, atau kuning-kecoklatan, pucat, abu-abu, itu bisa disebabkan oleh dua hal.

Pertama, karena faktor musim yang kurang mendukung pada lahan pertanian sehingga kualitasnya sedang tidak bagus. Daun berwarna non-hijau ini kurang maksimal dalam menghasilkan gizi.

Kedua, bisa jadi kualitas daun dalam keadaan prima, namun karena proses pasca-panen dilakukan secara tidak tepat mengakibatkan hasil yang buruk. Kesalahan pengolahan harus dihindari. Misalnya kita melihat daun kelor kering warnanya kusam, hal tersebut bisa jadi karena cara pencucian, penjemuran, dan proses penjemuran/angin-angin tidak tuntas. Atau bisa jadi disebabkan proses pemisahan daun dengan batang kecilnya tidak maksimal. Orang bisa melakukan proses pengeringan dengan berbagai cara, itu tidak masalah, namun yang terpenting adalah pada soal warna harus mampu menunjukkan daun hijau.




Prinsip III: Indikasi kelor yang bagus selanjutnya tidak memiliki bau kecuali bau dari kelor normal. Jika memiliki bau lain, seperti agak busuk itu bisa jadi karena pengaruh faktor eksternal yang tadi kita bicarakan.

Prinsip IV: Kemasan pelindung mestinya harus rapat, tidak terkena cahaya sebagai pengaman paling dasar. Jika kita menemukan pembungkus plastik cerah maka usahakan yang paling utama adalah menghindarkan dari ruang terbuka. Kemasan yang terlalu tebal dan berlapis-lapis sebagai penyimpan dalam waktu lama (2 hari lebih) juga berpotensi merusak kandungan gizi kelor.

Prinsip V:
Mengenal produsen dengan mempertanyakan asal muasal produk juga penting, sebab sebagian produsen seringkali hanya senang menjual dan tidak bertani serta tidak berproduksi sendiri sehingga tidak tahu banyak hal masalah proses kerja yang benar.

Prinsip VI: Harga murah. Ini juga mencurigakan. Sebab dengan proses yang tepat dari hulu-hilirnya sangat sulit produk berkualitas bisa murah seperti sayuran umum. Produk kelor yang baik memang tidak harus mahal, namun murahan juga tidak rasional. Rasiolitas harga daun kelor kering paling tidak kisaran Rp 600.000 per-kg. Rata-rata harga yang rasional dalam ukuran 100 gram adalah antara Rp 60.000 hingga Rp 90.000 merupakan sebuah kewajaran. Wajar jika ketika dipacking dengan kemasan yang baik untuk menjaga stabilitas gizinya, untuk ukuran 50 gram (konsumsi 1/2 bulan setiap orang) harga jualnya yang ideal antara Rp 45.000 hingga Rp 60.000.

Mengapa demikian? Karena letak biaya produksi kelor bukan pada hasil segar pertanian. Hasil mentah daun kelor di kebun bisa jadi hanya Rp 5.000 hingga Rp 9.000. Tetapi untuk sampai tahap pengolahan yang baik membutuhkan beberapakali matarantai yang melibatkan tenaga kerja dan juga menyusutan yang ekstrem dari daun basah menjadi kering. Estremitas itu biasanya berkisah penyusutan dari 100 persen hanya menjadi 15 hingga 20 persen. Dengan kata lain, pada produksi pasca panen pengolahannya, seperti biaya tenaga kerja memanen dengan aturan khusus, memisahkan daun kecil dari batang hingga pengeringan, hingga packing membutuh tenaga kerja, waktu dan permodalan.

Mengubah Daun kelor basah menjadi kering tanpa mengurangi gizi, terutama mineral dan vitamin bukan perkara mudah.Itulah mengapa ketika seseorang membeli daun kelor basah langsung petik akan sangat berbeda jauh dengan daun kelor kering siap seduh. Sayangnya, kita hanya bisa memanfaatkan daun kelor segar penuh gizi itu jika menanam sendiri. Dan sebaiknya memang kita harus bertanam karena yang disebut daun kelor segar itu manakala benar-benar fresh, dipetik dan sesegera mungkin diolah (pengeringan angin-angin atau lansung masak). Kita tidak bisa menyebut daun kelor segar manakala berpindah-pindah tempat melewati masa lebih 5 jam. -Sarif/Anita
Kualitas Daun Kelor Terletak pada?




4 tanggapan untuk “Menilai Kualitas Daun Kelor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *