Memilih yang terbaik dari Daun Kelor

Gizi daun kelor luar biasa. Daun segar lebih bagus, itulah mengapa setiap orang dianjurkan untuk menanam sendiri karena tidak ada istilah segar jika mengambil dari jarak jauh apalagi melewati waktu lebih 3 jam

Tren makan Kelor di masyarakat sekitar Pasir Impun Cimenyan Kabupaten Bandung terus meningkat. Banyak warga masyarakat mulai memanfaatkan Kelor (Moringa Oleifera), terutama pada mereka yang sakit diabetes, jantung, asma, stroke, asam urat, atau sekadar untuk kebugaran.

Kebanyakan dari para petani itu merasakan manfaat Kelor dari olahan minuman teh Kelor yang dikeringkan secara alamiah selama 4-5 hari tanpa sinar matahari. Sebagian mengonsumsi dengan cara memasak sebagai sayuran, sebagian lagi mengonsumsinya dengan cara lalap. Ada juga ujicoba pemanfaatan serbuk yang diproduksi dari lain tempat, atau diproduksi sendiri kemudian dikonsumsi beberapa warga.

Informasi para “pemakan” daun Kelor itu lebih 50 orang. Semuanya menyatakan manfaatnya terasa di badan pada konsumsi daun segar dan Teh Kelor yang telah dikeringkan tanpa sinar matahari. Untuk serbuk rata-rata mereka kurang merasakan dampaknya secara konkret. Bahkan karena konsumsi serbuk cukup merepotkan dalam sebuah minuman atau makanan, mereka lebih enjoy memilih daun segar. Itulah mengapa ketika Miss Indonesia 2018, Alya Nursabrina ikut serta aktif mempromosikan konsumsi Kelor, Yayasan Odesa Indonesia juga mendorongnya agar Alya mengajarkan praktik memakan kelor, lalap, makan sayur dan minum teh Kelor. Modeling kampanye ini akan dipresentasikan pada kontes Miss World di Tingkok akhir tahun 2018.

Ini adalah empiris, faktual. Tetapi terkadang ketika kita membaca literatur penelitian atau produk di internet, ulasan kandungan gizi serbuk maupun kapsul cukup menganggu. Pasalnya, sering diungkapkan bahwa yang terbaik dari konsumsi Kelor adalah mengambil manfaat dari serbuk/bubuk atau kapsul. Serbuk dianggap bernilai gizi berlipat-lipat. Terkadang ini berlebihan karena hanya menyajikan fakta-fakta yang umum tanpa detail menyajikan ulasan mengenai proses perbandingannya.

Pertama, membandingkan jumlah daun segar dalam takaran yang sama dengan serbuk dalam takaran yang sama. Sementara serbuk itu sendiri diproduksi paling tidak dari 6-8 kelipatan jumlah daun. Dari satu hal ini saja perbandingannya sudah tidak sepadan.

Kedua, yang sering ditonjolkan oleh penjual serbuk/bubuk lebih pada bagian gizi tertentu yang meningkat dan mengabaikan nilai gizi lain. Di dalam gizi terdapat banyak hal, seperti energi, karbohidrat dengan seratnya, lemak, protein, vitamin, mineral. Kenyataan pada proses pengolahan yang bertahap-tahap tersebut sering menyusutkan nilai gizi penting, terutama vitamin.

Menilai hal tersebut, tentu ada baiknya kita melihat sebuah kaidah mendasar. Tulisan J.M.P.Q. Delgado A.G. Barbosa de Lima 20 Juni 2014 barangkali patut dijadikan acuan dasar dalam hal ini:

“Degenerasi makanan selama dehidrasi dengan proses pengeringan dapat berbentuk kimiawi (reaksi pencoklatan enzimatik & nonenzimatik, oksidasi lipid, penurunan warna), fisik dan struktural (rehidrasi, penurunan keterlarutan, tekstur dan aroma) serta nutritif (penurunan vitamin, penurunan protein, dan perubahan mikroba). Semua perubahan bergantung pada aktivitas air, suhu dan waktu papar.”

Ada Kegiatan Amal bersama Odesa untuk Petani

Dengan sudut pandang tersebut kita bisa menilai bahwa kandungan gizi daun Kelor tidak semata soal kering menjadi susut bobot namun gizinya tetap utuh, karena itu semakin padat dalam bentuk serbuk gizi kelor semakin baik. Tidak demikian sebab akan selalu ada banyak perubahan dalam proses.

Menarik adalah ulasan tentang perbandingan gizi Daun Kelor pada ahealthy Di sana memuat ulasan yang cukup penting untuk sebuah perbandingan. Pada tulisan tersebut tidak ada usaha untuk menyatakan bahwa pada serbuk daun Kelor atau kapsul daun Kelor rendah kandungan gizi. Tetapi dari paradigma proses, daun Kelor segar merupakan pilihan terbaik untuk dikonsumsi.

Jika kita simak ulasan lebih detail mengenai resiko proses, maka serbuk menjadi pilihan ketiga karena di luar serbuk ada teh kelor (kering) yang hanya melewati proses pengeringan. Asalkan sistem pengeringannya memenuhi kaidah yang tepat, gizi teh daun Kelor kering atau sayuran, keamanan gizinya masih terjamin lebih baik dibanding serbuk/bubuk. Adapun yang terbaik tetaplah pada daun Kelor segar. Selanjutnya daun kering tanpa sinar matahari. Karena itu usaha kegiatan mengonsumsi Kelor terang akan lebih baik jika diarahkan pada kegiatan menanam pohon di rumah masing-masing karena pada akhirnya kita tidak akan mendapat daun segar jika melewati masa waktu lewat 3-4 jam, apalagi disertai dengan pemindahan lokasi yang jauh.

Menilai Kualitas Daun Kelor

Usaha Organisasi Pangan Dunia FAO dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat di Afrika dalam memerangi gizi buruk petani miskin dengan anjuran pengolahan serbuk semata-mata karena faktor lingkungan, bahwa ternyata di daerah Afrika tersebut siklus musimnya tidak sebaik Indonesia. Di sana selain sering terjadi kekeringan panjang juga kesulitan air sehingga untuk mendapatkan panen Kelor tidak semudah di Indonesia. Karena rutinitas mengonsumsi Kelor adalah penting maka harus ada usaha penyimpanan. Dengan mengolah menjadi serbuk itulah Kelor bisa lebih awet, tentu dengan resiko mengalami perubahan atau pengurangan kandungan gizi.

Untuk Indonesia, menanam pohon Kelor adalah mudah. Kita hanya mengalami dua musim, penghujan dan kemarau. Menanam di musim kemarau pun masih sangat mungkin dilakukan, asalkan rutin di siram dan dipupuk. Saat musim hujan kita mendapatkan anugerah besar. Menumbuhkan kelor lebih mudah dan panen melimpah.

Keadaan alam yang baik inilah yang harus dimanfaatkan. Jika ada batang segera ditanam dengan sistem stek. Jika tidak ada batang stek, maka menanam dengan bibit hasil dari biji. Pohon kelor hanya butuh perawatan pada satu tahun pertama. Air dibutuhkan, tetapi tidak boleh tergenang. Sinar matahari merupakan kebutuhan dasar kelor karena itu kelor tidak boleh terhalang tembok atau rerimbunan pohon lain. Pemupukan cukup mudah, bisa memakai pupuk kandang, bisa memakai kompos alami dari dapur rumah tangga seperti air bekas cucian beras, sisa minuman kopi atau teh, atau sisa-sisa makanan rumah tangga. Mari tanam kelor dan mengonsumsi daun segarnya.[Alfi/Yuli]

BACAAN LAIN
Bibit Kelor Bandung
Pentingnya Orang Kota Menanam Kelor
Cara Tanam Kelor

4 tanggapan untuk “Memilih yang terbaik dari Daun Kelor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *