Membangun Manusia Desa

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa-Indonesia.

Ketika kami mendirikan Organisasi pertengahan 2016 lalu, kami memilih nama Odesa. Pertimbangannya simple supaya fokus pada sasaran yaitu manusia. Kata O yang pertama merujuk pada kepanjang Orang dengan maksud menyasar pada Sumber Daya Manusia.

Manusia Desa harus mendapat perhatian utama karena untuk merawat alam harus bersandar pada kekuatan subjek, para pelaku yang mengelolanya. Makna lain dari O adalah Organizer/Organizing, organisasi harus bermakna sebagai gerak pengorganisasian. Artinya harus kuat dalam semangat kolektif/gotong-royong.

Ada juga O bermakna lain, yakni Organik, sebagai pengertian tanggungjawab para intelektual untuk berkomitmen membumi dalam ruang gerakan. Selain itu huruf O juga bermakna Online-Desa, sebagai simbol modernisasi agar masyarakat desa yang terorganisir berkat kiprah organik para pengurus ini bisa mengantarkan masyarakat mampu berdaptasi dengan teknologi dan dunia modern yang lebih luas.

Kami belajar banyak dari pengalaman pengorganisasian dari lapangan di Kawasan Bandung Utara (KBU), khususnya di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Tak kalah penting soal ilmu, kami juga mempelajari model-model gerakan lain, terutama pengalaman para organisator yang banyak diulas oleh lembaga Pangan Dunia FAO (Food Agriculture Organization). Pelajaran berharga yang terpenting adalah, dalam mengurus Sumber Daya Manusia (SDM) desa itu hanya mujarab dengan model pendampingan, bergiat aktif mendampingi secara telaten dari tindakan awal hingga akhir.

Semua elemen-elemen tindakan kebaikan jenis derma/charity, atau pemberdayaan model instan harus dijadikan sub-model pendampingan. Singkat kata, apapun modelnya, harus melalui rel pendampingan agar setiap tindakan tidak semata mengandung nilai kebaikan, tetapi menuju goal. Jangan sampai kita hanya berbuat baik tetapi subjek yang dikelola hanya jadi objek kebaikan. Jangan sampai seperti kita melempar koin pada orang miskin tetapi kemiskinannya tetap bertahan. Nilai tertinggi dari tindakan kebaikan di mata pengurus dan relawan Odesa-Indonesia adalah manakala tindakan itu menghasilkan perbaikan, bukan semata kebaikan.

Model ini, selain karena alasan sosiologis ( situasi orang yang tidak berdaya dalam kedaaan marjinal yang akut), juga memiliki basis ideologis, yaitu republikanisme. Semangat republikan yang kami anut mensyaratkan setiap persoalan harus ditindaklanjuti dengan dengan tindakan yang konkret. Kami di Odesa Indonesia, menjauh dari paham metafisis apalagi naif yang menganggap masalah kemiskinan atau kebodohan sebagai takdir sejarah. Kami percaya proses karena homo sapiens itu jenis makhluk unik; mampu merekayasa dan bisa direkayasa dengan modal struktur otak; tempatnya keberlangsungan evolusi.

Selama ini kita punya dikotomi antara SDM dan SDA. Dari sisi konsep, dikotomi ini tidak menjadi masalah, namun dalam kenyataan praktik (sikap) banyak mengandung masalah. Itu kita lihat pada kebanyakan sikap orang berorganisasi dengan melihat alam sebagai potensi. Ungkapan alam kita potensial dan mengabaikan potensi atau keterpurukan manusia misalnya, menjadikan banyak di antara kita hanya tergoda mengurus alam. Padahal kenyataan luas menghamparkan fenomena bahwa rusaknya alam itu akibat kerusakan manusia.

Kalau Indonesia ingin maju, Sumber Daya Manusia (SDM) perdesaan harus diurus. Siapa yang mengurus? Adalah kelas menengah yang berkesadaran tinggi; memiliki basis ideologis yang kokoh, memiliki naluri kemanusiaan untuk berani memihak pada mereka yang lemah dan yang terpenting menyediakan waktu melayani mereka yang tertindas.




Indonesia hanya akan bisa berubah baik kalau kita merelakan proses perbaikan itu bergantung pada kelompok sipil. Cina menjadi raksasa dunia dalam dagang, bahkan sejak 2008 telah berhasil menorehkan prestasi baru yaitu perbaikan lingkungan karena keberhasilannya memadukan gerakan top-down dan bottom up. Negara bekerja dengan memberikan inisiatif-inisiatif kepada para petani kecil untuk mengambil peran dalam budidaya tanaman pangan dan penghijauan.

Sadar bahwa metode ini tidak cukup untuk memobilisasi massa, maka dikombinasikan dengan gerakan peningkatan kapasitas manusia desa dalam pertanian. Delapan tahun kemudian hasilnya menakjubkan, banyak lahan yang mengalami erosi pulih seperti sediakala. Banyak petani miskin yang sebelumnya pasif dan terlibat merusak lingkungan karena kebodohannya kini menjadi penghasil pangan dan perawat lingkungan sekaligus.

Bangsa Cina, yang oleh Ilmuwan Jared Diamond disebut sebagai salahsatu negara kuat dalam peradabannya karena memiliki solusi-solusi praksis dalam urusan pangan, ternak, literasi dan teknologi. Cina digdaya bukan karena inovasi teknologi melainkan karena inovasi gerakan dengan tujuan menyelesaikan masalah. Cina menjadi hebat karena kesediaannya berpikir realistis dengan bergerak memperbaiki hal-hal kecil di lapisan akar rumput rakyatnya yang terbelakang, bahkan dengan cara yang tradisional.

Membangun desa, harus dimulai dari membangun kualitas manusia desa. Mereka yang akan tinggal di desa harus punya semangat untuk membuat dirinya baik. Kesediaan mereka bertani atau nguli sekalipun adalah modal kerja yang baik karena pada intinya kerja adalah hakikat dasar manusia. Jati diri manusia mula-mula ada pada kerja.

Sedangkan mereka yang menganggur akan menjelma menjadi parasit bangsa jika tidak diatasi segera. Karena itu mendorong pengangguran (apalagi kebanyakan berada di alam desa/pertanian) untuk terjun mengolah tanah menumbuhkan tanaman adalah tindakan paling mendasar. Indonesia hari ini adalah Indonesia yang terbelakang, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita rendahan, dalam urusan teknologi kita rendahan dan jadi mainan pasar global.

Dalam urusan pangan kita rapuh karena model-model pertanian tidak beranjak sejak zaman Majapahit. Sabit dan cangkul tetap bertahan tanpa ada inovasi yang kemudian membuat petani terbelakang. Dalam urusan ternak kita tertinggal karena ilmu pengetahuan mengelola satwa serba asal-asalan. Sedangkan literasi bangsa kita terbenam dalam zaman kegelapan.

Memperbaiki Indonesia adalah memperbaiki pola pikir, mental dan etika. Ketiga hal ini merupakan pilar dasar manusia berkebudayaan yang tanpa ketiganya kita tidak akan menemukan peradaban. Kita belum beradab karena dalam urusan pangan saja kelakuan kita masih model masyarakat pemburu pengumpul yang berburu makanan ke sana kemari akibat lemah membentuk “komune” yang tangguh.

Demokrasi kita menjadi sistem yang salah bukan karena demokrasinya, melainkan karena berada di dalam ruang yang salah, yakni masyarakat yang tidak bisa berbudidaya, tidak mampu mencukupi pangannya secara mandiri, dan melahirkan parasit-parasit pada kelas menengah yang hidup menyandang golongan urban.

Benar kita sedang terus membangun desa, tetapi porsi pembangunan manusianya sangat lemah. Gebyar pembangunan infrastruktur bisa menindas sendi-sendi kehidupan keluarga petani kecil manakala kita tidak memperkuat mereka dari kemampuan berbudidaya tanaman pangan, beternak, berliterasi dan memanfaatkan teknologi untuk produktivitas mereka.[]

Satu tanggapan untuk “Membangun Manusia Desa

  • 7 Mei 2019 pada 2:35 pm
    Permalink

    Alhamdulillah ada sosok2 berbudi yg pemerhati dg pedesaan. Semoga Odesa berkembang, maju n sukses dibawah lindunganNYA. Aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *