Kualitas Amal Kemanusiaan: dari Charity ke Arah Philanthropy

Agar amal kemanusiaan memiliki manfaat besar, kebaikan charity tersebut harus diarahkan ke jalan filantropi.

Ketua Pembina Odesa Indonesia, Budhiana Kartawijaya mengatakan, gerakan sosial kemanusiaan di Indonesia mengalami banyak peningkatan. Namun kebanyakan modelnya masih sebatas charity atau derma. Sementara yang amal yang terbaik menurut Budhiana adalah Philantropy (filantropi).Sebab menurutnya, charity bersifatnya jangka pendek; didasari sikap spontan atau reaktif. Sedangkan filantropi lebih bersandar pada usaha strategis menyelesaikan masalah dan dampaknya jangka panjang.

“Charity atau derma itu baik, tetapi lebih baik kalau diarahkan dengan semangat filantropis. Charity yang menyelesaikan masalah disebut filantropi,” paparnya di hadapan peserta forum Dialog Akhir Tahun 2018, Yayasan Odesa Indonsia di Villa Alam Santosa, Senin 31 Desember 2018.

Tindakan kebaikan amal atau kepedulian kepada sesama menurut Budhiana perlu diarahkan untuk usaha pemberdayaan dengan model pendampingan. Yang dimaksud pendampingan, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Odesa Indonesia, adalah mendorong pihak penerima untuk mempersiapkan langkah-langkah perbaikan bagi dirinya. Pihak penerima tidak sekadar terima tunai, habis itu tidak ada proses lain yang menyertai. Budhiana mengambil contoh, misalnya ada sebuah kampung yang mengalami kesulitan air. Tidak sekadar dana yang disalurkan, melainkan juga pendampingan mengajarkan kegotong-royongan, dan juga pendidikan tentang pentingnya penggunaan air termasuk penyuluhan model hidup bersih. Dengan model seperti itu, amal derma tidak sekadar menjawab satu masalah, melainkan berperan banyak dalam mengatasi persoalan lingkungan. Bahkan saluran air yang diperbantukan untuk sarana Mandi, Cuci dan Kakus bisa juga dikelola lebih luas menyasar urusan kolam ikan atau tani pekarangan.

“Semangat kami dari Yayasan Odesa Indonesia dalam kegiatan sosial ini adalah mengajak warga, terutama kelas menengah di perkotaan untuk bergerak atas dasar filantropi. Kita masih punya beban berat mengatasi masalah rakyat lapisan bawah karena negara tidak selalu bisa menjawab problem tersebut,” papar wartawan Senior H.U PIkiran Rakyat ini.

Rebuilding
Yayasan Odesa Indonesia selain mengusahakan terus gerakan amal sosial berbasis filantropi untuk keluarga miskin dan sangat miskin (pra-sejahtera), juga mendampingi para petani untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Salahsatu temuan yang menarik adalah akar masalah kemiskinan yang disebabkan hilangnya kemampuan orang miskin mengakses sumberdaya alam. Akibat ketidakmampuan mengakses sumber daya alam inilah kemudian petani sering frustasi karena tanah yang dimilikinya tidak menghasilkan nilai ekonomi sehingga menjualnya dengan harga murah, melepas satu persatu asetnya ke warga kota. Solusinya?

“Salahsatu yang penting dilakukan adalah rebuilding atau pembangunan kembali. Yang dulu pernah ada dan berguna harus dibangkitkan kembali,” kata Budhiana.

Menurut Budhiana, warga pinggiran Kota Bandung di Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi, banyak petani menjual tanah, berlangsung sejak 20-25 tahun lalu. Mengapa mereka menjual tanah, karena ketidakmampuan memanfaatkan tanah sebagai sumber pendapatan ekonomi. Dampaknya, banyak tanaman yang berkualitas di zaman lalu sekarang hilang.

Budhiana menyebut beberapa sumberdaya alam yang hilang dari peredaran pertanian Cimenyan antara lain Sorgum atau orang desa menyebutnya gandrung. Ada pula Hanjeli (jali-jali) yang pernah tumbuh tetapi petani belum sempat mengetahui manfaat sumber gizinya kemudian punah. Bahkan di masa lalu sering terdapat Bunga Matahari.

Ketiga tanaman pangan ini sekarang menjadi primadona dunia dan disarankan lembaga Pangan Internasional Food Organization Agriculture (FAO). Sorgum dan Hanjeli oleh Odesa Indonesia ditanam kembali bersama petani karena keduanya mudah tumbuh tanpa banyak memerlukan air sehingga petani bisa lebih efektif dan hemat dalam biaya tanam. Adapun pasca panennya, Odesa Indonesia mempersiapkan penampungan untuk pembelian dan pengolahan. Langkah ini ditempuh supaya petani mendapatkan kemudahan menjual hasil panen.

“Tanaman pangan seperti Sorgum dan Hanjeli yang pernah ada itu sekarang sangat diperlukan masyarakat. Pangan petani harus bergizi dan warga kota nanti bisa mendapatkan sumber gizi lokal. Sedangkan Bunga Matahari juga demikian, selain gizinya bagus, juga bermanfaat untuk ekosistem karena penyerbukannya mendorong produksi tanaman pangan dan tanaman buah lebih produktif,” jelas Budhiana.-Ad/In
Memilih Tempat Amal yang tepat
Kisah Pergerakan Odesa Indonesia
Saluran Donasi untuk filantropi

2 tanggapan untuk “Kualitas Amal Kemanusiaan: dari Charity ke Arah Philanthropy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *