Kisah Sedih Petani Pra Sejahtera di Balik Bukit

Bagaimana mereka hidup? Apa saja yang mereka lakukan? Pertanyaan ini sudah kami temukan jawabannya setelah dua bulan berinteraksi. (5-6 kali pertemuan). Dua keluarga, Pak Dadang-Bu Imi dengan satu cucunya yang yatim-piatu (suaminya pergi, ibu dari cucunya meninggal 40 hari setelah melahirkan. Nengsih dengan dua anaknya yang hidup tanpa suami di usia 25 tahun. Dua keluarga di Cikored Desa Mekarmanik ini menjadi bagian dari ratusan keluarga buruh tani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung yang sering kami temui di tengah-tengah kegiatan pendampingan kegiatan pertanian dan penghijauan.

Keluarga Pak Dadang dan Nengsih bekerja sebagai pencari rumput untuk ternak milik orang lain yang dititipkannya. Bekerja mencari rumput antara 6-8 kali sehari. Waktu mereka habis untuk mencari makan domba. Pekerjaan ini setelah kita analisis tidak tepat. Sebab dengan fokus mencari rumput, apalagi pada musim kemarau panjang sebelumnya, mereka sengsara naik turun bukit sejak jam 06.00 hingga sore hari. Anak-anak mereka tidak disiapkan sarapan untuk sekolah. Bahkan sangat sering anak-anak mereka tidak masuk sekolah tanpa alasan.

Mereka ditinggal pergi oleh orangtuanya, terkadang juga diajak mencari rumput. Kerja keras mereka tidak bisa cepat menghasilkan uang untuk konsumsi harian karena hasil ternak domba lebih tepat sebagai tabungan. Makanan mereka sangat memprihatinkan. Keseharian mereka masak nasi di sore atau malam hari. Paginya mereka makan nasi malam. Supaya tidak berurusan dengan busuk lauk, mereka memilih menu tempe atau tahu goreng dengan ikan asin. Itu saja. Sangat jarang mereka masak sayuran dengan kuah melimpah.


Setahap demi setahap kami mencoba menemukan solusi. Pertama tentu dengan bantuan praktis yang bisa memberikan gizi kepada mereka dan meringankan beban hidupnya. Tidak mudah menemukan akar persoalan dan pola hidup mereka. Baru kemudian pada minggu ini kami menemukan fakta baru yang konkret dan itu sangat tidak enak dirasakan.

Kurang gizi mengantarkan kami mengambil sebuah tindakan untuk dua keluarga berisi 6 orang yaitu memasok bahan pangan bergizi, mencari tukang masak secara khusus supaya nutrisi segera membaik. Ini karena 4 anak kecilnya sakit-sakitan sulit sembuh. Fisik mereka lemah. Ada yang sudah terbukti kena paru-paru pada usianya 11 tahun.

Targetnya 6 bulan perbaikan melalui jalan tindakan konkret amal. Lalu kami akan membersihkan lingkungannya rumahnya yang sudah reyot. Barangkali juga nanti bisa membangun rumah baru supaya lebih efektif, sehat, dan pekarangannya bisa digunakan untuk pertanian yang menghasilkan pangan bergizi dan sebagian bisa meningkatkan pendapatan mereka. Kita juga harus mengurangi jumlah ternak domba yang kebanyakan sehingga menyiksa waktu mereka mencari rumput. Ternak domba mereka sebaiknya cukup antara 4 ekor supaya waktunya bisa mengerjakan pertanian. Konsep yang tepat, petani memiliki ternak dan hasilnya sebagai tabungan jangka panjang tahunan serta merta laba pupuk sehingga pertaniannya membaik. Jangan sampai mereka bisa mencari makan dombanya sementara anak cucu mereka kekurangan sumber pangan bergizi.

Mendalami kisah hidup harian mereka mengantarkan pemahaman kepada kita. Bahwa pesakitan dan kesengsaraan yang mereka alami itu tidak mereka pahami karena berlangsung sejak mereka lahir. Kami yakin mereka baru sadar nanti kalau sudah ada kesejahetaraan pada diri mereka. Persis seperti kasus disekitarnya di mana orang-orang yang puluhan tahun tidak memiliki air bersih tak merasa memiliki persoalan serius. Begitu dipenuhi kebutuhan airnya, mendadak mereka sadar bahwa masa lalunya suram.

Jadi ini kemiskinan oleh mereka dianggap “nasib”. Dan bukankah nasib bisa diubah? Kita coba. Satu tahun mendatang semoga berhasil tuntas dalam beberapa hal. Lantas bisa bersyukur dan lebih bisa beraktualisasi sebagai manusia. (Faiz Manshur)

Berbagi untuk mereka saluran zakat baznas kitabisa untuk fakir miskin

Akibat Perkawinan Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *