Keuntungan Besar Mengenal Daun Afrika Vernonia amygdalina

Naskah ini tergolong baik karena memuat pengetahuan tentang Daun Afrika secara ilmiah. Sangat penting disebarluaskan sehingga redaksi Odesa Indonesia menerjemahkannya secara utuh. Supaya menjadi rujukan dasar kita semua.

Vernonia amygdalina Delile (Daun Afrika
Keluarga: Asteraceae (Compositae)
Jumlah kromosom: 2n = 40
Sinonim: Gymnanthemum amygdalinum (Delile) Walp. (1843).
Nama lain: Daun pahit, daun afrika,Vernonie, vernonie commune, ndole (Prancis). Sucumadeira, pau fede (Polandia).

Asal dan distribusi geografi

Vernonia amygdalina tumbuh liar di sebagian besar negara Afrika tropis, mulai dari Guinea timur hingga Somalia dan wilayah selatan hingga Afrika Selatan wilayah timur laut, dan di Yaman. Tanaman ini biasanya tumbuh sebagai sayuran di Benin, Nigeria, Kamerun, Gabon dan Kongo DR, juga di dataran yang lebih rendah, yaitu di negara-negara sekitarnya. Orang-orang Luhya di Kenya Barat memanfaatkan Vernonia amygdalina sebagai sayuran tetapi tidak mengembangbiakkannya.

Pemanfaatan
Daun Afrika merupakan sayuran yang sangat diminati di Afrika Barat dan Tengah, juga dapat dikonsumsi dalam bentuk aneka panganan. Di Nigeria, di mana nama Yoruba untuk tanaman ini disebut ‘ewuro’ dan orang Igbo menyebutnya ‘onugbu’, daun afrika ini direbus untuk sayur sup. Daun afrika juga terkadang dijual di pasar setelah sebelumnya diparut, dimasak setengah matang, dan dibentuk bola-bola.

Di Kamerun, daun afrika dimasak dengan daging dan/atau udang dicampur dengan kacang tanah untuk membuat makanan terkenal yang disebut ‘ndole’. Atau, daun utuh dimasak bersama dengan singkong, atau ubi, sementara itu daunnya juga dikeringkan dan dibuat serbuk atau bubuk sebagai bahan taburan sup. Di Kamerun, daun afrika terkadang dimakan mentah tanpa dimasak terlebih dulu, dicampur dengan minyak sawit dan garam.

Daun afrika juga dikonsumsi kambing. Batang dan cabangnya yang kering mengandung minyak. Ranting muda digunakan sebagai tusuk gigi atau stik kunyah. Tanaman ini juga terkadang tumbuh sebagai pagar. Cabang-cabang pohon digunakan sebagai tiang untuk memagar lahan.

Vernonia amygdalina umumnya digunakan dalam pengobatan tradisional. Air rebusan daun digunakan untuk mengobati demam, malaria, diare, disentri, hepatitis, dan batuk. Sebagai laksatif dan sebagai pemicu kesuburan. Daun Afrika juga digunakan sebagai obat untuk scabies, sakit kepala, dan sakit perut. Ekstrak akarnya digunakan sebagai obat melawan malaria dan gangguan gastrointestinal. Di Negeria, daun afrika digunakan di atas luka sebagai pengganti iodine. Salahsatu pemanfaatan pengobatan yang paling umum menggunakan Vernonia amygdalina adalah untuk memberantas cacing usus, termasuk nematodes. Tidak saja pada manusia, tetapi juga simpanse, untuk mengendalikan infeksi nematode pada usus.

Di Zimbabwe, air rendaman akarnya digunakan untuk mengobati penyakit menular seksual. Rendaman kulit batangnya juga digunakan untuk mengobati demam dan diare. Vernonia amygdalina juga berguna sebagai agen pengontrol untuk melawan penyakit pada tanaman. Abu dari cabang dan ranting yang dibakar digunakan untuk mengendalikan jamur pada biji (Curvularia, Aspergillus, Fusarium and Penicillium spp.) sehingga memperbaiki viabilitas benih dan perkecambahan. Selain itu digunakan untuk pembuatan bir. Vernonia amygdalina juga terkenal sebagai tanaman yang amat disukai lebah madu.

BACA KISAH PENYEMBUHAN DAUN AFRIKA PADA ASAM URAT Asam Urat sembuh dengan daun afrika

Produksi dan perdagangan internasional

Daun afrika terkadang diambil dari lahan-lahan liar, tetapi kebanyakan orang lebih suka mengambil daun dari tanaman yang dikembangbiakkan secara pilihan karena biasanya tidak begitu pahit. Daun afrika ini biasanya ditanam untuk konsumsi rumahan dan kurang banyak diperdagangkan di pasar, namun demikian ada kecenderungan untuk menjual hasil olahan daripada menjual batang dan daunnya begitu saja. Di Kamerun, daun olahan dijual hingga lima kali lipat harga bahan mentah. Daun olahan diekspor dari Afrika Barat dalam bentuk kering atau dibekukan kemudian ditawarkan di pasar-pasar sayuran asli Afrika, di Eropa. Tidak tersedia statistik produksi.

Karakteristik alami

Komposisi nutrisi daun Vernonia amygdalina per 100 g porsi makan adalah: air 82,6 g, energi 218 kJ (52 kcal), protein 5,2 g, lemak 0,4 g, karbohidrat 10,0 g, serat 1,5 g, Kalsium 145 mg, P 67 mg, Besi 5,0 mg, asam serap 51 mg (Leung, W.-T.W., Busson, F. & Jardin, C., 1968). Komposisi ini setara dengan sayuran daun hijau gelap lainnya.

Daun afrika memiliki rasa pahit disebabkan sesquiterpene lactones (yaitu, vernodalin, vernolepin dan vernomygdin) dan glukosida steroid (vernoniosides). Sebagian dari senyawa ini memiliki kandungan antiparasit sangat tinggi, terutama vernodalin dan vernonioside B1. Vernolepin menunjukkan karakteristik anti agregasi trombosit. Vernodalin dan vernomygdin memiliki kandungan sitotoksik.

Ekstrak air daun Vernonia amygdalina mengeluarkan aksi kritostatik untuk menghambat pertumbuhan sel kanker payudara. Dalam uji pada tikus, ekstrak sesquiterpene daun afrika menunjukkan aksi antihepatotoxic. Ekstrak daun dan kulit akar menunjukkan aksi malaria. Mengunyah stik yang dibuat dari kayu Vernonia amygdalina akan melawan bakteri utama pada penyakit periodontal. Daun untuk melawan aneka bakteri dan virus.


Pertumbuhan dan pengganti

Daun Vernonia hymenolepis, dan beberapa spesies Vernonia lainnya digunakan untuk tujuan yang sama seperti pada Vernonia amygdalina. Olahan daun afrika menjadi produk mahal dan karena alasan ini penjual yang curang menambahkan akan bahan lain untuk meningkatkan volume.

Deskripsi

Semak atau pohon kecil tingginya bisa hingga 10 m, banyak cabang; diameter batang besar hingga 40 cm; kulit berwarna abu-abu hingga coklat, mulus, kemudian rusak; cabang yang masih muda menampakkan fase puber yang padat. Daun akan tumbuh silih berganti, sederhana, tidak ada stipula; panjang petiole 0,2–4 cm; bilah bulat telur hingga elips juga hingga seperti pisau bedah (lanset), 4–15(–28) cm × 1–4(–15) cm, pasak atau membulat di bagian dasar, meruncing di bagian puncak, margin bergigi tajam hingga bergerigi kasar, berbulu halus, berurat alami. berbunga di bagian kepala, bersusun di bagian dasar, bergerombol, bergugus; panjang batang kepala hingga 1 cm, puber; penutup silindris hingga berbentuk elips meluas, Panjang 3–5 m, bakal kembang berangkai 3–7, Panjang 1–4,5 mm, berdekatan. Kembang biseksual, reguler, 5 merozoit, sangat menonjol dari bagian tutupan; pappus terdiri atas linier luaran, skala panjang caducous (organ yang menempel di fase awal) hingga 1,5 mm dan panjang bagian berwarna krem atau berbulu coklat muda 4–7 m; Panjang corolla tubular 5–8 mm, keputihan, glandular, dengan lobus tegak; benang sari dengan kepala sari menyatu dalam tabung, dengan pelengkap di bagian puncak; ovarium inferior, sel 1, puber dan glandular, berbulu, bercabang 2. Buah satu benih, kecil dan kering (achene) bergaris 10 panjang 1,5–3,5 mm, puber dan glandular, coklat hingga hitam, dimahkotai bulu pappus lebih lama. Bibit dengan perkecambahan epigeal.
MENGOBATI DIABETES DAN STROKE DENGAN DAUN AFRIKA

Informasi botani lainnya

Vernonia merupakan genus terbesar dari rumpun Vernonieae, dengan hampir 1.000 spesies. Tumbuhan ini sering ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika. Lebih dari 300 spesies telah dipastikan berasal dari Afrika dan sepertiganya ditemukan di Madagaskar. Selain Vernonia amygdalina, beberapa spesies dikonsumsi sebagai sayuran, dimana Vernonia hymenolepis merupakan tumbuhan yang paling penting. Vernonia colorata (Willd.) W.F.M.Drake sangat dekat dengan Vernonia amygdalina. Perbedaannya hanya di jumlah daunnya yang lebih banyak atau lebih sedikit dan buahnya yang mulus. Daun tumbuhan Vernonia colorata sebagian besar diambil dari alam liar dan digunakan terutama sebagai tumbuhan obat. Spesies lain kadang dipanen sebagai sayuran. Namun Vernonia cinerea (L.) Less. seringkali diambil dari alam liar di Kenya dan Vernonia perrottetiiWalp. di Sierra Leone.

Pertumbuhan dan perkembangan

Vernonia amygdalina dapat tumbuh menjadi pohon, namun dalam penanamannya seringkali dipangkas menjadi belukar atau tanaman pagar. Setelah ditanam di kebun, daun atau tunas muda dapat dipanen hingga 7 tahun. Namun untuk produksi komersial, petani lebih memilih tamanan yang lebih muda. Tanaman ini berbunga di musim kemarau (Januari dan awal Februari di Afrika Barat dan Tengah). Panen tunas muda yang teratur menstimulasi pertumbuhan baru dan memperlambat pertumbuhan bunga, Hanya memanen daun dapat memperlambat pertumbuhan kembali. Menjelang musim kemarau, daun baru menjadi lebih kecil dan berwarna abu-abu gelap. Daun tersebut sangat kasar dan pahit, terutama yang dekat dengan titik bunga berkembang.

Ekologi

Vernonia amygdalina tumbuh alami sepanjang sungai dan danau, di tepi hutan, pepohonan dan padang rumput hingga ketinggian 2.000 m. Tumbuhan ini tumbuh di daerah yang terganggu, seperti tanah pertanian yang terbengkalai, dan dapat ditemui tumbuh secara spontan di hutan sekunder. Tumbuhan ini memerlukan sinar matahari dalam pemeliharaan. Pembungaan terjadi dalam beberapa hari pendek. Tumbuhan ini lebih memilih lingkungan yang lembab meskipun tahan musim kering. Tumbuhan ini dapat ditemukan di semua jenis tanah, namun tumbuh sangat baik di tanah yang kaya akan humus.


Perambatan dan penanaman

Perambatan dapat dilakukan dengan bibit, namun kebanyakan petani menggunakan stek batang. Stek batang dewasa yang digunakan untuk perambatan dipilih atas dasar beberapa sifat, seperti tingkat kepahitan, ukuran daun dan karakteristik pertumbuhan. Di kebun rumah seringkali terdapat lebih dari satu jenis yang ditanam karena anak muda lebih memilih jenis yang lebih manis dan tidak terlalu pahit, sedangkan orang tua lebih memilih jenis yang pahit. Stek batang dapat ditanam berdiri tegak atau miring pada sudut 45º untuk mendapatkan lebih banyak tunas samping. Stek batang tumbuh lebih cepat daripada bibit. Bibit dapat diambil dari bunga kering. Bibit tersebut ditabur di tempat pembibitan yang disiapkan dengan tanah kaya humus dan terlindungi dari panas yang berlebihan serta sinar matahari. Bibit membutuhkan 2-3 minggu untuk bertunas. Pada musim kemarau, sangat penting untuk menyiram tempat pembibitan secara teratur. Empat hingga enam minggu setelah tumbuh, bibit dapat dipindahkan. Di kebun rumah, orang biasanya menanam Daun Afrika diantara tanaman lainnya atau sebagai pagar tanaman atau pagar hidup, sedangkan di ladang komersial tumbuhan ini ditanam berbaris.

Pengelolaan

Penyiangan, penggunaan mulsa dan pemberian pupuk kandang organik pada tahap pembibitan membantu pertumbuhan bibit dan stek yang sehat dan cepat. Pemberian air yang teratur itu penting dan irigasi menguntungkan selama musim kemarau. Ranting tua harus dipangkas hingga pendek untuk menstimulasi produksi dedaunan yang lebih besar, segar dan banyak. Hal ini sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan. Ketika air memadai tersedia, hanya butuh 3 minggu untuk tunas baru tumbuh setelah dipangkas. Tumbuhan muda lebih produktif dibanding tumbuhan tua dan petani komersial lebih memilih menanam tanaman baru pada awal musim baru atau setelah tahun kedua. Mereka tidak menyingkirkan tanaman tua hingga mereka bisa memanen dulu pertumbuhan kembali pada awal musim karena menghasilkan harga premium.

Penyakit dan hama

Selain virus daun keriting, tidak ada penyakit besar yang mempengaruhi produksi. Hama juga tidak menyebabkan kerusakan parah, meski banyak spesies hama yang tercatat pada Daun Afrika di Nigeria utara. Hama seperti kutu trips, kutu aphis, semut, lalat putih, Empoasa spp., Sphearocoris annulus, Fabricius spp., Ptyelus grossus, Polyclaeis spp. dan Xanthochelus vulneratus. Sebagai obatnya, orang secara tradisional menaburkan abu kayu pada daun untuk menjauhkan semut dan kutu aphis. Kumbang Daun Afrika, Lixus camerunus, dapat merusak batang dan ranting dengan cara membuat terowongan dan menyebabkan ranting patah.

Panen

Selama musim hujan, panen dilakukan dengan cara memotong tunas berdaun, memungkinkan tunas samping baru untuk tumbuh yang dapat dipanen beberapa minggu kemudian. Batang dengan panjang berbeda dipotong di siang hari, disortir dan diikat berkelompok dengan panjang yang sama. Tergantung musim, batang yang dibawa ke pasar panjangnya sekitar 30-50 cm, seringkali lebih panjang selama masa puncak. Satu bundel sebanyak 15-20 batang seberat 1-2 kg, namun bundel yang lebih kecil biasanya dibuat selama masa kelangkaan. Bundel tersebut disimpan semalaman, ditempatkan tegak lurus di dalam sebaskom air dan terkadang ditutupi dengan karung goni untuk menghindari kekeringan. Bundel tersebut diikat menjadi bundel yang lebih besar sebelum dibawa ke pasar.

Selama musim kemarau, orang-orang hanya memilih daun dan meninggalkan tunasnya utuh. Tunas hijau muda dengan daun besar yang ditanam dengan irigasi selama musim kemarau memiliki harga tinggi di pasar, karena pada saat tersebut kebanyakan daun tanaman lain lebih kecil dan sangat pahit. Beberapa petani komersial tidak memanen tanaman mereka selama masa produksi puncak ketika kebun rumah dapat menyuplai semua sayuran yang dibutuhkan dan harganya rendah. Dengan tidak memotong pada saat ini, akan ada tanaman yang lebih baik pada akhir musim dimana harganya diharapkan lebih tinggi.


Hasil panen

Hasil panen tertinggi didapatkan selama musim hujan, dengan puncaknya pada bulan Mei-Agustus. Statistik produksi tidak tersedia.

Penanganan setelah panen

Daun-daun dapat dihancurkan dan ditumbuk di dalam lesung. Buih muncul selama penumbukan. Buih dan rasa pahit dihilangkan dengan mencuci daun dengan air berkali-kali diantara penumbukan. Garam atau jeruk nipis terkadang ditambahkan ke dalam lesung untuk mempercepat proses. Daun-daun tersebut dapat diparut dan direbus terlebih dahulu. Meremas daun yang telah direbus terkadang cukup, namun seringkali alu dan lesung digunakan untuk menghaluskannya.

Daun-daun yang telah ditumbuk dicuci hingga air yang mengalir tidak lagi hijau. Ketika air sudah ditiriskan, daun tersebut siap untuk digunakan. Daun tersebut dapat dijual seperti itu, atau diawetkan dengan cara dikeringkan (yang agak mengubah rasanya) atau dibekukan. Jika tidak, daun-daun tersebut dibentuk menjadi bola seukuran kepalan tangan sebelum dijual. Produk yang lebih pahit didapatkan dengan cara menghentikan pembentukan buih ketika menumbuk dengan menambahkan minyak kelapa sawit.

Sumber daya genetik dan pembiakan

Tidak ada koleksi plasma nutfah Vernonia amygdalina yang diketahui. Tumbuhan ini tumbuh di banyak negara Afrika dan dalam kondisi yang berbeda, sehingga mungkin terdapat keanekaragaman yang dapat dipilih melalui pemuliaan tanaman. Karena kultivar komersial belum digunakan, tidak ada ancaman terhadap erosi genetik.

Pembiakan

Tidak ada penelitian kultivar atau kegiatan pemuliaan apapun yang dilakukan di pusat penelitian resmi, meskipun petani membuat dan mempertahankan pilihan mereka sendiri.

Prospek

Daun Afrika merupakan sayuran penting di Afrika Barat dan Tengah, yang setelah terpancang, mudah diproduksi dan lebih tahan terhadap kekeringan serta membuatnya populer di kebun rumah. Tugas yang melelahkan dan memakan waktu untuk memproses Daun Afrika telah mendorong komersialisasi daun olahan.

Pengolahan ini dengan cepat menjadi sumber pendapatan di daerah perkotaan. Vernonia amygdalina memiliki beberapa khasiat medis yang patut diteliti lebih lanjut. Penelitian tentang keragaman genetik dan agronomi juga diperlukan.

PENGETAHUAN MANFAAT DAUN AFRIKA Budidaya dan Manfaat Daun Afrika

Referensi utama

• Beentje, H.J., 2000. Compositae (part 1). In: Beentje, H.J. (Editor). Flora of Tropical East Africa. A.A. Balkema, Rotterdam, Netherlands. pp. 1–313.
• Burkill, H.M., 1985. The useful plants of West Tropical Africa. 2nd Edition. Volume 1, Families A–D. Royal Botanic Gardens, Kew, Richmond, United Kingdom. 960 pp.
• Dupriez, H. & De Leener, P., 1989. African gardens and orchards, growing vegetables and fruits. MacMillan Press, London, United Kingdom. 333 pp.
• Kalanda, K. & Lisowski, S., 1995. Le genre Vernonia (Asteraceae) dans la flore d’Afrique Centrale (Zaïre, Rwanda, Burundi). Fragmenta Floristica et Geobotanica 40(2): 547–717.
• Misari, S.M., 1992. Further observation on the insects attacking bitterleaf in Samaru, Northern Nigeria. Savannah 13(1): 1–13.
• Okafor, J.C., 1997. Conservation and use of traditional vegetables from woody forest species in southeastern Nigeria. In: Guarino, L. (Editor). Traditional African vegetables. Proceedings of the IPGRI international workshop on genetic resources of traditional vegetables in Africa: conservation and use, 29–31 August 1995, ICRAF, Nairobi, Kenya. Promoting the conservation and use of underutilized and neglected crops 16. pp. 31–38.
• Schippers, R., 1997. Priorities for research on Africa’s indigenous vegetables. In: Schippers, R. & Budd, L. (Editors). Proceedings of a workshop on African indigenous vegetables, Limbe, Cameroon, January 13–18, 1997. Natural Resources Institute, Chatham, United Kingdom. 155 pp.
• Stevels, J.M.C., 1990. Légumes traditionnels du Cameroun: une étude agrobotanique. Wageningen Agricultural University Papers 90–1. Wageningen Agricultural University, Wageningen, Netherlands. 262 pp.
• van der Zon, A.P.M. & Grubben, G.J.H., 1976. Les légumes-feuilles spontanés et cultivés du Sud-Dahomey. Communication 65. Département des Recherches Agronomiques, Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam, Netherlands. 111 pp.
• van Epenhuijsen, C.W., 1974. Growing native vegetables in Nigeria. FAO, Rome, Italy. 113 pp.

PENERJEMAH: Siti Nur Aryani.
SUMBER NASKAH Daun Afrika Ilmiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *