Kemiskinan dan Naluri Empati

Oleh Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia.

Kita bisa mengabaikan orang miskin akibat faktor individual, seperti malas, tetapi mereka yang miskin akibat keadaan struktural, korban ketidakadilan sosial harus diberi perhatian. Buka kesempatan untuk berubah.

Mengapa kita perlu berbuat untuk orang yang miskin?

Semua ajaran kebaikan dari paham pemikiran hingga agama menaruh perhatian untuk peduli pada kelompok yang tidak beruntung. Mereka sering disebut miskin, fakir, sengsara. Ada yang disebabkan karena cacat fisik, tragedi alam, atau persoalan lingkungan hidup.

Sejak manusia lahir, kita tidak bisa bergantung pada diri sendiri. Ada pihak lain dari manusia, hewan dan lingkungan yang menentukan survival kita. Jika manusia lain memberikan pertolongan, merawat kita secara baik kita akan menjadi baik. Jika hewan di lingkungan kita tidak sehat, bisa jadi kita akan terkena dampaknya dari virus/bakterinya. Jika lingkungan kita buruk, kita tidak akan hidup sehat.Makanan dan lingkungan yang sehat menentukan kualitas hidup kita, termasuk menentukan kadar kualitas pemikiran dan bahkan jiwa kemanusiaan kita.

Naluri manusia mengondisikan kita untuk saling membutuhkan satu sama lain. Orang miskin yang terlantar membutuhkan pihak lain. Bukan semata karena kebutuhan mereka. Sementara kita yang keadaannya lebih beruntung, juga membutuhkan mereka agar tidak terpuruk, sebab jika mereka dibiarkan sengsara bisa menjadi malapetaka kolektif.




Orang-orang miskin, mereka yang terlantar merupakan korban dari tragedi sosial. Sama dengan mereka yang tertimpa bencana alam. Kita selalu iba dan merasa wajib menolongnya dengan memberi bantuan, menggalang solidaritas, dan berempati untuk mengorbakan kepemilikan kita dan menyerahkan kepada mereka.

Sayangnya kita selama ini menganggap masalah kemiskinan bukan sebagai tragedi sosial-kemanusiaan, melainkan menganggapnya sebagai takdir yang kadang tidak perlu ditindaklanjuti. Padahal keadaan mereka juga ditentukan oleh pihak lain, mungkin salahsatunya karena kita, atau karena negara yang punya kewajiban tetapi selalu abses memperhatikan mereka.

Kemiskinan mungkin tidak perlu diurus jika penyebabnya adalah individu, seperti malas. Tetapi kemiskinan massif/struktual disebabkan oleh keadaan lingkungan yang belum baik. Mereka orang-orang miskin akibat korban struktural yang tidak adil (ketimpangan) jelas harus diperhatikan. Bangsa kita tidak akan beranjak baik kalau kita membiarkan mereka, atau cuek karena menganggapnya sebagai takdir, atau bahkan kita berpikir, itu semata urusan negara.

Berpikir orang miskin merupakan tanggungjawab negara itu tidak salah. Tetapi bergantung pada negara untuk menyelesaikannya itu mimpi yang mungkin tak akan kesampaian sampai kita mengalami kerugian besar di masa depan. Jangan pula kita berpikir metafisis bahwa gelombang kemiskinan di desa atau kota akibat persoalan struktural ini akan selesai secara otomatis dengan dana pembangunan negara seperti dana desa atau dana alokasi daerah lainnya. Itu sudah berlangsung, nyatanya tidak setiap pembangunan berdampak pada mereka yang miskin dan sengsara. Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani

Naluri kita adalah kemanusiaan. Karena itu setiap ada manusia yang hidup tak manusiawi pentinglah kita mengambil peran tersebut. Bisa dengan cara yang kita mampu, membagikan pewartaan yang jujur dan objektif, berderma, menggalang solidaritas, dan bahkan jika ingin amal kita berkualitas, kita mendampinginya sampai mereka terbebaskan dari belenggu kemiskinan menjadi lebih sejahtera.

Menarik kalau kita kaitkan bahwa urusan perhatian kita terhadap kemiskinan dan kesengsaraan hidup orang lain itu dengan empati. Psikolog Martin Hoofman pernah bilang, akar moralitas manusia terletak pada empathi. Lawan empati adalah antipasti; ketidakpedulian. Yang punya moralitas tinggi letaknya pada kepedulian terhadap sesama; Mereka sengsara berarti diri kita ikut sengsara, bukan menyalahkan mereka dengan berbagai alasan, melainkan langsung berpikir memahami akar penyebabnya, lalu cepat bertindak mengatasinya, mengolongnya agar korban keluar dari jeratan kesengsaraan.

Ada satu ilmu pengetahuan baru, bahwa solusi untuk melepaskan belenggu kemiskinan itu adalah dengan cara membuka kesempatan bagi mereka untuk berubah. Karena itu amal sosial seperti derma harus diarahkan untuk kegiatan “pendidikan” dengan cara pendampingan. Setiap amal adalah baik, sebaik-baiknya amal adalah yang mampu mengubah keadaan. []

(Foto Relawan dkk dari Yayasan Odesa Indonesia bersama keluarga Pra-sejahtera (sangat miskin) ini merupakan fakta kecil dari ratusan ribuan fakta di Kecamatan Cimenyan, jutaan fakta di Jawa Barat, dan puluhan juta di Indonesia. )[]

Saluran Amal Zakat Amal Zakat untuk Petani Prasejahtera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *