Kelor, Menyuburkan Kebun Menyelamatkan dari Serangan Hama

Menanam Kelor (moringa oleifera) adalah langkah cerdas untuk menyelamatkan kebun kita dari serangan hama. Tanaman menjadi lebih sehat dan hama pergi dengan cara memanfaatkan daun kelor.

Ketika kita tidak menanam kelor sementara kita memiliki kebun atau taman, itu sebuah kerugian. Apa sebabnya sehingga kelor harus bersanding dengan tanaman kebun kita?

Pertama, saat ada tanaman kurang nutrisi, daun kelor adalah pemasok gizi makanan terbaik. Angrek, bunga-bunga, atau tanaman herbal sangat membutuhkan gizi dari daun kelor. Nutrisi dan senyawa dari daun kelor yang begitu melimpah merupakan sumber pupuk terbaik. Salahsatunya adalah kandungan zeatin (sitokimin) yang merupakan elemen penumbuh tanaman, terutama pada tanaman kecil. Daun kelor dipetik lalu diremas dan ditaburkan pada pot atau sekitar akar tanaman saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanaman lain. Jika ingin lebih bagus, daun kelor dibuat cairan penyemprotan. Dan itu bukan saja menyuburkan tanaman, melainkan sekaligus mengusir hama.

Di Odesa Indonesia, melalui Grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) kegiatan ini sudah bukan lagi ujicoba, melainkan sudah menjadi cara simple mengatasi kekurangan NPK pada setiap tanaman, terutama di musim kemarau. Bahkan kami sudah memiliki pengalaman, pemupukan cairan kental kelor hasil blenderan itu cukup dengan komposisi 1 banding 30. Jadi untuk menghasilkan pupuk cair 30 ember, cukup memproduksi 1 ember cairan daun kelor. Beragam pepohonan herbal dan bunga di 12 petak ladang selesai dengan pemenuhan gizi kelor.

Manfaat hebat lain dengan adanya kelor adalah kemampuan tanaman ini mendatangkan microorganisme yang baik untuk tanaman di kebun, dan mengusir hama buruk. Ketika tahun 2017 lalu situs Universitas Brawijaya Malang menerbitkan publikasi penelitian berjudul “Bioaktivitas Fumigan Ekstrak Daun Kelor Moringa oleifera Terhadap Tungau Umbi Rhizoglyphus robini,” dengan rekomendasi pemanfaatan daun kelor untuk mengusir tungau, itu bukan hal yang mengagetkan karena di Odesa Indonesia praktik tersebut sudah sering dijalankan, dan banyak kutu-kutu yang menghilang.

Bahkan praktik terpenting yang pernah kami alami adalah saat mengusir ulat bulu dari daun-daun Tin/Ara yang bergelantungan. Dengan menyemprotkan dua kali sehari selama dua hari, semua ulat bulu tersebut berpindah tempat.

Jika jumlah pohon cukup banyak, itu cukup menolong persoalan hama di lingkungan sekitarnya. Ketika musim kemarau panjang dan tanaman pangan berkurang, memang kelor kemudian menjadi korban karena hama-hama tanaman lain menyerbu, bahkan ayam sekalipun ikut berburu kelor. Namun ketika kami memperbanyak jumlah pohon kelor, masalah-masalah hama dengan sendirinya menyusut.

Sebelum ada tanaman kelor, banyak sekali penyakit yang menimpa tanaman di kebun Odesa Indonesia. Sejak kehadiran kelor, apalagi ditunjang tanaman pengusir hama lain seperti cocor bebek, alamanda, kembang telang (butter fly), juga kecubung, hama semakin menghilang. Bahkan dengan cara itu pula ketika kami menanam sorgum dan hanjeli semuanya tumbuh berkembang baik.

Kelor menyokong terciptanya ekosistem yang lebih baik. Ramah lingkungan, dan memiliki guna yang besar bagi tanaman kebun dan ladang kita. Kebun perumahan atau kebun villa sangat membutuhkan kelor. Memanam kelor 10 pohon di area 200 m2 akan tercipta sebuah kesuburan. Dan semakin banyak pohon kelor yang membesar itu artinya akan menciptakan kesuburan tanah di sekitarnya karena akar kelor memiliki kemampuan luar biasa dalam membentuk pori-pori tanah yang memunkinkan produksi cacing semakin baik.[amy]

BACA TULISAN LAIN:
Manfaat Kelor untuk Pupuk, Tanah dan Air

Manfaat Kelor untuk Pakan Ternak

Manfaat Kelor untuk Pupuk penyubur tanah

Satu tanggapan untuk “Kelor, Menyuburkan Kebun Menyelamatkan dari Serangan Hama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *