Ingin Sukses Agribisnis? Sekolahkan Dulu Petani

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia.

Orang minat bertani. Itu banyak. Saya punya bukti kualitatif yang barangkali penting dicatat di sini. Teman-teman dari kota, Jakarta, bandung, Bogor dll datang ke rumah untuk sharing pertanian. Mereka yang minat di pertanian ini sebagian sedang ingin memulai karena punya tanah investasi di desa tetapi belum dikelola. Ada juga yang sudah dikelola tapi asal-asalan dan tidak menghasilkan apapun, bahkan pengalaman nombok karena banyak membiayai tenaga kerja.

Ada satu hal yang patut diperhatikan dalam pertanian ini. Saya membuat ilustrasi yang mudah untuk merangkum persoalan. Ibaratnya kita ini ingin membangun perusahaan, setelah aset atau modal meyakinkan, urusan kedua adalah urusan SDM. Pertanyaannya bukan berapa banyak SDM yang dibutuhkan, melainkan seberapa tangguh SDM yang akan memegang kendali setiap pekerjaan. Nah, di pertanian ini kadang kita sering jomplang tidak berpikir tentang kualitas SDM dalam pertanian. Menganggap petani (yang maaf bisanya nyangkul, ngarit, bakar-bakaran ranting) sebagai SDM yang mencukupi. Itu kesalahan mendasar sampai kini tidak dijawab oleh kita.

Saya merasakan hal itu sejak awal mendirikan Odesa Indonesia. SDM adalah ganjalan pertama. Beberapa petak tanah saya dikelola oleh petani mengandalkan kepercayaan akhirnya hancur. Bukan saya menyesali kehancuran itu, tapi yang saya rasakan justru; betapa kasihan petani; bekerja keras memeras keringat tetapi hasilnya nihil. Mereka masih untung jika jadi buruh tani karena upahan tidak menanggung rugi. Sementara yang bertani; memodali tenaga, bebih, kerja, kadang hasilnya lucu. Bermodalkan uang Rp 4,5juta, menanam padi, sepanjang 4 bulan hasil akhir finansialnya adalah Rp 500.000. Ada pula kisah lain. Memodali 17juta, pada 3 bulan kemudian labanya adalah Rp 5,2juta. Dari dua laba ini kalau dipecah perbulan, berapa pendapatan petani setiap bulannya? Ini belum termasuk jika ada kisah petani diserang hama atau gagal panen akibat cuaca, dan lebih ngeri lagi sering gagal duit akibat harga anjlog.

Pajang kisah pengamatan kami saban hari bersama petani, masalah SDM ini adalah masalah mendasar. Petani hanya mengetahui satu dua model usaha, tidak membuat skema model lain. Termasuk pengembangan pertanian pekarangan untuk skema tambahan penghasilan.

Masalah SDM inilah yang kemudian saat para petani bekerja untuk kita juga tidak akan menguntungkan. Karena itu solusi praktisnya kami membuat “Sekolah Pertanian”. Ilmunya dari hasil perenungan, diskusi dengan pedagang, ujicoba dan praktik lapangan. Kajian-kajian model pertanian kami serap dari luar, diuji di lapangan. Tujuannya agar petani memiliki ragam model usaha tani.
Secara umum ada dua model yang harus dimiliki para petani. 1) penguasaan kerja ladang dengan konsep polyculture atau tumpang sari. 2) pengusaaan kerja di lahan pekarangan untuk pembibitan dan penanaman tanaman pangan atau herbal kecil.

Pada tani pekarangan ini penting ditegakkan karena punya tiga tujuan mendasar yang sangat menguntungkan. Pertama, tani pekarangan bermanfaat untuk pembibitan. Bibit untuk menopang pertanian ladang, bahkan bisa dikomersilkan sebagai penghasilkan sampingan. Kedua, tani pekarangan membuat sistem kerja lebih efisien karena saat ada waktu pendek sekalipun hanya beberapa jam di pagi hari atau sore hari, petani masih bisa mengerjakan. Jika waktu ini dimanfaatkan, akan terkumpul banyak hasil dari pekerjaan di rumah. Ketiga, menjadi sumber pangan internal rumah tangga dengan tanaman sayuran atau herbal yang dikembangkan. Panen tani pekarangan bisa menghemat belanja dapur, jika panen berlebih bisa dijual. Model tanam polybag atau pot ini memungkinkan petani bekerja dengan cara yang lebih halus, lebih mikro, dan lebih detail. Jika praktik tani pekarangan ini ditegakkan, niscaya akan membuat petani memiliki kemampuan memperlakukan tanaman, tanah dan lahan lebih terarah dan lebih bijaksana.

Yayasan Odesa Indonesia bekerja untuk hal itu. Tak peduli seberapa kemampuan kami dalam mengusai ilmu pertanian. Toh nyatanya bisa cepat karena dua faktor. Pertama setiap hari bergiat bersama petani terbukti menghasilkan kecepatan ilmu pengetahuan. Kemudian, kita hubungkan dengan sumber ilmu pengetahuan dari belahan dunia. Banyak sekali ilmu pengetahuan baru dari internet, dan salahsatu yang menarik adalah ilmu menyehatkan tanah dengan konsep “tanah tertutup sepanjang waktu. Penutupnya bukan dengan green house yang memboroskan anggaran melainkan dari nabati dedaunan. Tidak lagi (atau tidak selalu) harus memakai mkompos olahan, melainkan dengan sistem kompos tanpa olah. Dengan begitu lebih efisien kerjanya, tanah subur jangka panjang dan tanpa perlu pupuk kimia.

Beranjak lebih lanjut, petani harus memiliki bekal-bekal dasar penguasaan pestisida nabati, baik mengolah dalam bentuk cair maupun menerapkan konsep penanaman herbal untuk mengatasi hama dengan model keanekaragaman hayati. Misalnya, kami memiliki dua sumber pestisida nabati yang efektif dalam mengatasi hama, yaitu biji jarak dan tembakau. Dua praktik pestisida ini menghasilkan pengalaman yang baik pada petani karena mereka sadar bahwa pestisida nabati lebih hemat biaya, lebih mujarab dan tanpa resiko sebagaimana penerapan pestisida kimia.

Ini kita baru bicara SDM dari sisi keilmuan yang mendasar. Jika petani, calon tenaga kerja pertanian kita menguasai beberapa hal mendasar seperti itu dipastikan lebih baik keadaan pertanian kita. Tidak lagi monoculture, melainkan polyculture. Syarat untuk menguasai beragam tanaman ya harus rajin eksperimen dan didukung oleh kegiatan literasi.

Kami di Yayasan Odesa Indonesia juga punya pengalaman yang penting dicatat:
Untuk menghasilkan SDM tani terdidik yang memiliki kemampuan bekerja dengan teknis tradisional, mampu mengatur pekerjaan secara efektif harian sistem kerja modern butuh waktu 12 bulan. Biaya hidup masa pendidikan adalah Rp 2.500.000 x 12= 30.000.000. (mahir memproduksi media tanam, memahami model hidup antara 15 hingga 20 jenis tanaman, dan mampu mengelola pasca panen).

Investasi SDM ini penting seperti yang kami lakukan di Odesa Indonesia. Saban hari bekerja dengan sistem terpola dan setiap individu wajib belajar terus menerus melalui diskusi dan bacaan yang ketat. Setelah berhasil begitu? Baru digenjot untuk penerapan modeling bisnis.

Ke depan saya tidak khawatir petani menjadi tenaga kerja produktif yang bernilai jual tinggi jika memiliki basic keilmuan mendasar, terutama pada pertanian wanatani/agroforestry. Mari kita membangun Sumber Daya Manusia petani agar Sumber Daya Alam kita ternahkodai sebagai alam yang produktif menghasilkan pangan, pemasok oksigen yang segar dan juga menyelamatkan air.[]

Satu tanggapan untuk “Ingin Sukses Agribisnis? Sekolahkan Dulu Petani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *