Indonesia Butuh Gerakan Baru dalam Mengatasi Kemiskinan

-Catatan Temu Sosial: Kedermawanan Sosial, Agroforestry dan Literasi. Yayasan Odesa Indonesia Bandung, Senin 31 Desember 2018. Pasir Impun Cimenyan Kab.Bandung.

Ada kekayaan khazanah pemikiran dari pertemuan Dialog Malam Tahun Baru 2019. Beragam gagasan disampaikan memperkaya pemikiran, terutama model gerakan sosial yang bertujuan untuk menghadirkan perubahan masyarakat, terutama pada kaum marjinal yang tersisihkan di pinggir Kota Bandung.

Sementara itu Harri Safiari dari Gerakan Hedjo menilai, setiap pengalaman pergerakan akan memperkaya khazanah pemikiran karena itu para pegiat sosial harus senantiasa berbagi pengalaman.

“Forum seperti ini selain memberi pencerahan juga bisa jadi pengembangan kebersamaan bersama. Kita kekurangan banyak manusia untuk mengurus masyarakat lapisan bawah dan lingkungan. Kita butuh banyak gagasan rekayasa sosial,” katanya.

Henda S Atmaja , Pegiat Lingkungan melihat apa yang dilakukan Odesa Indonesia dalam mengurusi bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak tahun 1980an. Jiwa-jiwa kelas menengah sipil di era itu cukup kuat karena negara tidak memperhatikan persoalan masyarakat lapisan bawah. Saat itu, banyak orang cerdas tersandera dalam pemikiran dan tindakan sehingga mereka membuat ruang alternatif untuk melakukan tindakan sesuai kapasitas masing-masing. Ketika era reformasi muncul 1998, di satu sisi muncul kebaikan namun di pihak lain juga muncul melemahnya gerakan sipil karena terjebak pada euforia.

“Mabuk kebebasan dan lupa kepedulian sehingga tingkat partisipasi sosial sangat rendah sekarang,” kata Henda.

Atas dasar keadaan itu, menurut Henda S. Atmaja, langkah penguatan gerakan sipil mesti diperkuat seperti yang dilakukan Odesa Indonesia karena sekarang sudah makin langka gerakan penguatan sipil di masyarakat.

“Saran saya, diperluas rekrutmen kesukarelawanan ini dengan sistematis dan ideologis untuk menjawab problem kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan sosial,” terangnya.

Sementara Akhmad Taufik Moekhith yang pernah mengorganisir korban penggusuran kampung-kampung di Kawasan Dago Resort Cimenyan juga menyambut pentingnya gerakan masyarakat sipil di kalangan petani pinggiran Kota Bandung karena dari tahun ke tahun selalu muncul problem, terutama hilangnya hak-hak dasar ekonomi warga.

“Munculnya gagasan pengembangan Sorgum Odesa misalnya, ini menarik karena bisa membawa perubahan dalam hal pangan,” katanya.

Seniman senior, Boy Worang menilai, perubahan masyarakat di kalangan petani pinggir kota membutuhkan perhatian serius karena bukan saja menyangkut kemiskinan, melainkan juga terhubung dengan masalah lingkungan, terutama banjir. Model-model baru gerakan penyelamatan lingkungan atau kemiskinan melalui literasi misalnya, harus terus dilakukan.

“Literasi itu penting. Modelnya harus kreatif dengan memancing anak-anak desa lebih menyenangkan dalam setiap kegiatan belajar. Trik khusus harus terus dimunculkan,” katanya.

Sementara itu, Eka Santosa, Ketua Gerakan Hedjo Jawa Barat yang selama ini bergiat menghijaukan lingkungan dengan penghijauan di Pasir Impun Kecamatan Cimenyan berpendapat, pentingnya perluasan gerakan tanaman untuk mengatasi masalah erosi dan lingkungan hidup.

“Problem terbesarnya pada sumberdaya manusia. Banyak hambatan untuk gerakan hijau karena masyarakat kita secara pendidikan kurang bagus. Buat saya, penting semua elemen memberi perhatian pada pertanian yang ramah lingkungan,” paparnya.Ad/In

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *