Bumi Pucat Petani Melarat. Apa yang Harus Kita Lakukan?

OLEH FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

Materi pendidikan pertanian Yayasan Odesa Indonesia adalah untuk sebuah perubahan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.

Kesadaran kami bergiat di lapangan bersama para petani kecil di Cimenyan Kabupaten Bandung, sebuah kawasan di sebelah utara Kota Bandung yang mengalami kerusakan parah adalah untuk perbaikan yang kompleks. Kompleksitas problem sosial satu persatu bisa kita urai dalam rangka membuka kesempatan mengambil skala prioritas tindakan, dalam rangka menyelamatkan ekonomi petani dari ketidakmampuan mencukupi kebutuhan sehari-hari, menyelamatkan lingkungan dari ancaman erosi hebat di Kawasan Bandung Utara, dan juga memberikan kontribusi perubahan pada dunia melalui sistem kerja membumi dalam kebersamaan.

Petani adalah aktor strategis pada perubahan ini karena dunia kita yang murung disebabkan oleh masalah tanah yang tak sehat lagi. Kita menjelaskan ada masalah global dengan sainstifik. Ilmu-ilmu pengetahuan yang kami sampaikan kepada petani adalah ilmu penting untuk menyelesaikan krisis global.

Bisakah itu? Sangat bisa! Selagi kita memiliki kemampuan komunikasi yang baik; menyampaikan dengan bahasa kaumnya, memberikan contoh-contoh konkret disertai cara mengatasinya dengan mudah dengan modal dasar alam sekitarnya.

Apa yang harus dipahami setiap orang dalam menghadapi krisis global lingkungan ini?

Tanah adalah keajaiban. Di dalam tanah banyak kehidupan yang luar biasa hebat untuk menyokong permukaan tanah, tempatnya manusia hidup dan mendapatkan kemakmuran (atau kesengsaraan). Segenggam tanah adalah segenggam nasib hidup kita. Hidup kita menjadi neraka yang panas dan sumpek atau menjadi surga yang penuh aliran air dan kebun yang menyenangkan adalah pilihan kita saat ini.

Jangan sampai tanah itu lari di bawah banjir, atau dilepaskan dijual kepada orang yang tidak akan bertanggungjawab merawat tanah. Jika tidak memahami keajaiban tanah ini, niscaya kita akan kehilangan penghargaan terhadap tanah, lalu menganggap sebagai barang murah, yang tidak perlu dirawat sehingga terlantar atau dijual demi kepentingan sesaat para petani miskin seperti saat butuh kawinan atau membangun rumah. Padahal dengan merawat tanah beberapa puluh meter niscaya kehidupan kita akan tercukupi.

Tanah adalah anugerah, tempatnya berjuta ragam kehidupan di dalamnya. Makanan yang sehat berasal dari tanah yang sehat. Sekarang tanah kita sakit, pucat pasi setiap kemarau. Para petani kelimpungan menghasilkan panen karena perubahan iklim. Ketika musim hujan tiba rumput dianggap musuh besar, ketika musim kemarau datang kehidupan menjadi neraka. Hujan atau panas adalah keluhan karena kita hidup dalam kegelapan zaman modern.

Obor pencerahan dari negara dan ilmuwan tidak datang ke lapangan, padahal mestinya soal menumbuhkan tanaman adalah langkah mudah bagi petani. Pohon-pohon besar hasil kerja alam ditebangi, separoh dari karbon yang seharusnya masuk ke tanah pun lari ke langit, bumi menjadi kian panas Sedangkan jauh dari Bandung, laut juga ikut terancam.

Kita harus mengubahnya. Langkahnya sederhana, yaitu menanam pohon dengan beragam jenis (keanekaragamaman hayati). Yang utama dalam proyek ini adalah mencanangkan konsep menanam pohon besar, pohon menengah dan pohon sedang. Barulah di bawahnya kita tumbuhkan tanaman pendek penghasil makanan secara produktif; yang produktif bukan panen 3 atau 6 bulanan, melainkan panen harian. Itu bisa dilakukan asalkan manusia dan alam sama-sama bekerja: “membumi dalam kebersamaan”.

Hanya dengan pola ini kita akan memberikan peran kepada tanaman untuk kembali merumahkan karbon di akar-akar tanaman yang lari ke langit. Lalu karbon yang betah di akar tersebut akan memberi “makan” pada mikroorganisme. Kita yakinkan kepada petani bahwa menebang pohon besar bukan keuntungan bagi pertanian mereka hanya karena alasan tanaman pendek butuh sinar matahari. Semua spesies memang butuh sinar matahari, tetapi seberapa kebutuhannya itu harus diketahui. Nyatanya dengan membalak pohon besar pertanian kacau balau. Hama mengintai setiap waktu, angin kencang menjadi ancaman yang bisa menggagalkan hasil panen kapan saja, dan curah hujan deras bisa menjadi malapetaka pertanian. Sementara fakta di hutan-hutan, segala jenis tanaman lebih suburdan produktif ketimbang yang dihasilkan kerja petani.

Sedangkan para petani yang bekerja keras menghasilkan tanaman di ladang tanpa keanekaragaman tanaman nyatanya didera penderitaan besar: panas matahari yang kini semakin tajam menyengat akan terus menekan bumi, memecah kegemburan menjadi gumpalan, mematikan banyak cacing dan mikroorganisme. Tanah pucat pasi, kehidupan petani sengsara tak berkesudahan.

Tanam pohon yang beragam adalah langkah pertama. Petani berpendidikan rendah sekalipun bisa melakukan itu jika ada kepemimpinan untuk mengawal keilmuan gerakan menghidupkan fotosintesis ini berjalan. Setelah tanam, agar bumi cepat terselamatkan dan manusia mendapatkan berkah dari kegiatan pertanian maka harus ada usaha pengomposan lahan secara massal. Ilmu kompos dan pupuk kita sudah sedemikian banyak, tetapi kebanyakan modelnya bukan untuk melayani lahan luas, melainkan melayani para penghobi di level terbatas perkotaan.

Orang-orang desa tidak banyak mengambil peran massal dalam hal ini, padahal jutaaan hektar lahan pertanian butuh tindakan massal penyelamatan cepat sekarang juga. Dengan pengomposan yang baik, pohon-pohon yang kita tanam akan lebih cepat berkembang. Tanaman yang banyak akan semakin banyak mempertahankan air. Jangan lupa, satwa harus kita kembangkan, jika perlu dalam area terbuka guna mendorong produktivitas mikroorganisme. Jangan mengeksploitasi ternak dengan apa yang manusia mau, melainkan berikan kesempatan kepada ternak untuk hidup secara bahagia sesuai dengan naluri dan kebutuhannya.

Jangan menjadi manusia egois yang hanya mahir merekayasa pikiran, tetapi tidak memahami subjek-subjek penting dari satwa yang memiliki “jalan pikiran” berbeda dengan manusia. Hargai perbedaan pikiran, keadaan, dan kebutuhan serta tujuan hidup masing-masing spesies.

Hanya itu? Ya. Itu saja asal dilakukan akan mengubah banyak kebaikan. Kita belum bicara bicara teknologi yang muluk untuk menyelamatkan lingkungan bukan?.

Itu adalah tindakan kebaikan mendasar yaitu mendorong pengembangan fotosintesisme. Semua paham ideologi, paham aliran termasuk paham agama harus menjadikan gerakan fotosintesis ini menjadi agenda penting menyelamatkan bumi.

Di luar itu tentunya juga harus diimbangi dengan kontrol terhadap para perusak, yaitu industri pemasok emisi akibat kerja pembakaran yang terus menerus berlangsung tanpa peduli lingkungan.[14 Des 2018]

BACA Pemuda Desa ini mengambil jalan hidup sebagai petani
BACA Pentingnya keterhubungan intelektual dan petani

3 tanggapan untuk “Bumi Pucat Petani Melarat. Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *