Basuki Suhardiman: Hindari Kebiasaan Sesat Bisnis Pertanian

Pertanian atau Agribisnis seringkali dianggap primadona oleh banyak orang karena laba menggiurkan. Sayangnya banyak orang terjun ke agribisnis secara asal-asalan dan tak jarang babak belur karena apa yang diprediksikannya hancur. Menurut Kepala Pendampingan Ekonomi Pertanian Yayasan Odesa Indonesia, Basuki Suhardiman, hal tersebut disebabkan banyak orang melakukan tindakan tanpa perhitungan yang matang, alias ngawur.

“Orang bisa menghitung laba di atas kertas tapi tidak bisa membuktikan laba dalam praktik. Orang mudah tergiur menghitung agribisnis hanya pada sisi keuntungan pelipatgandaan nilai lebih urusan uang, tetapi jarang berpikir efisiensi. Orang menganggap tenaga kerja pertanian selesai hanya dengan membayar upah rendah, sementara skill pelaku tani diabaikan,” kata Basuki Suhardiman di hadapan para petani binaan Yayasan Odesa Indonesia Cimenyan Kabupaten Bandung, Sabtu, 26 Januari 2019.

Menurut Peneliti Comlabs Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, pelaku usaha bisnis terkadang juga hanya mengandalkan modal finansial dan membangun infrastruktur besar, tetapi lupa pentingnya menjadikan tenaga kerja petani harus dibangun dengan keseriusan. Banyak orang yang hanya menempatkan tenaga kerja petani sebagai kuli suruhan dengan membayar upah rendah karena alasan efisiensi, dan tidak memberikan perhatian pada penguatan skill petani. Akibatnya, pelaku bisnis ini justru belepotan karena tidak percaya terhadap pekerjanya yang kurang kompeten mengawal kerja harian. Akan lain urusan kalau tenaga kerja pertanian kita memiliki kompetensi yang matang.

Tani Pekarangan Efektif Menjawab Problem Ekonomi

“Nah, di Odesa Indonesia kita memulai tradisi baru untuk melepaskan kebiasaan sesat dalam urusan pertanian. Tenaga kerja harus terampil menguasai pembibitan, pengembangan botani, perawatan tanah, mengatasi hama secara organik dan juga pengelolaan pasca panen serta berwawasan dalam urusan konsumen. Dan yang harus dilanjutkan, pertanian kita tidak merusak lingkungan melainkan merawat. Pertanian kita mendayagunakan kemampuan internal dari rumah tangga setahap demi setahap meningkat,” terang Basuki.

Menurut Basuki, para petani harus terus berusaha bersama dengan menjalin hubungan dengan banyak pihak supaya terasah pemikirannya. Selain itu, petani juga tidak boleh malas belajar karena terbukti hanya dalam waktu 1 tahun proses, setiap usaha pertanian skala kecil pun bisa meningkatkan nilai lebih. Selain itu, semua sumberdaya keluarga harus dioptimalkan untuk saling mendukung kegiatan. Dan hal tersebut hanya bisa efektif dilakukan di dalam tani pekarangan karena urusan waktu bisa dikonsentrasikan pada kegiatan secara produktif. Model mobilisasi keluarga petani menurut Basuki Suhardiman sangat strategis untuk mengatasi ekonomi keluarga petani yang selama ini kesulitan mengakses sumberdaya alam.

“Tani pekarangan misalnya, adalah konsep penting sebagai basis dasar penilaian sejauh mana usaha pertanian bisa dirasionalisasi. Hanya beberapa meter lahan dan bekerja dari rumha nyatanya bisa memberi keuntungan berlipat,” terangnya.

Menurut Basuki Suhardiman, ada dua model pertanian konvensional yang tidak efisien dan beresiko tinggi. Pertama model pertanian konvensional tradisional monoculture di kalangan petani. Selain boros modal dan penuh resiko karena masalah hama dan harga, juga merusak lingkungan.

Ingin Sukses Agribisnis Harus……

Kedua, model pertanian modern yang boros biaya seperti kebanyakan dilakukan oleh pengusaha yang ingin cepat kaya dengan menanam uang dalam jumlah besar. Hal tersebut tidak realistis untuk memperbaiki pertanian karena pasti dikejar untuk satu hal dengan mengabaikan hal lain. Terkadang yang dilihat hanya dari sisi penghasilan, tetapi begitu dihitung modal dan prosesnya ternyata jeblok.

Selain itu, pertanian berangkat dari modal besar ratusan juta juga tidak akan menjadi pelajaran praktis bagi para petani kecil. Karena dari itulah dibutuhkan terobosan agar usaha pertanian dari modal kecil mendapat kesempatan menjadi besar. Syaratnya adalah praktik pembelajaran model baru.

“Kita mesti belajar dari banyak negara seperti Cina, India,Thailand, Vietnam dan lain sebagainya. Banyak pertanian yang ditegakkan dengan cara baru yang minim modal, efisien dalam penggunaan dana, efektif bekerja dan hasilnya lebih rutin sekaligus merawat lingkungan. Odesa Indonesia mengambil peran itu,” jelasnya. Har/Rz

Agroekologi Odesa Indonesia Memperbaiki Kehidupan

2 tanggapan untuk “Basuki Suhardiman: Hindari Kebiasaan Sesat Bisnis Pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *