Air Mata Ayub Kini Mulai Berkembang di Cikadut

Hanjeli atau Jali-jali, bernama ilmiah Coix lacryma-jobi. Jauh dari nama botani itu, pernah dikenal dengan istilah unik air mata ayub (Job’s tears). Nama lain yang perlu kita ketahui adalah adlay atau adlay millet.

Biji hanjeli ada dua jenis. Satunya hitam keras yang biasa dibuat ketan, satunyanya lagi berjenis lunak yang biasa dibuat untuk beras/nasi.

Memanfaatkan hanjeli keras untuk perhiasan atau main-mainan telah banyak terekam di sejarah lama masyarakat Hindia Utara, Tibet, Cina, hingga daratan Arab bahkan Afrika.

Kisah Air Mata Ayub merupakan ilustrasi tentang tetesan air yang unik pada gumpalan air yang berada di ujung butiran biji hanjeli. Butiran air biasanya terlihat bening menggantung lama.
Al-Kitab perjanjian lama punya kisah derita Sang Nabi yang memiliki kesabaran melakoni hidup menderita dalam jangka panjang. Jadi, butiran air yang bertahan lama di biji jal–jali tersebut merupakan kiasan tentang lamanya penderitaan. Penggunaan kiasan ini bukan satu-satunya cerita. Ada yang menyebut David’s tears (air mata David), Saint Mary’s tears (air mata Santa Maria), Christ’s tears/Lacryma Christi (air mata Kristus), just plain tear drops (air mata biasa), orang Cina menyebut Yi-Yi dengan mengilustrasikan sebagai biji air mata.

Struktur biji hanjeli/jali ini cukup unik karena bukan bijian murni, melainkan ada lubang dan sangat keras. Para ahli botani sepakat hanjeli jenis keras mengantung bunga betina. Sedangkan proses penyerbukan oleh jantannya dilakukan oleh keberadaan serbuk sari pada batang ramping yang memanjang keluar dari ujung biji berpori kecil. Selain bisa menyerbuki sendiri, jail-jali ini terkadang dibantu proses penyerbukan angin.

Ketika saya mengetahui proses penyerbukan seperti ini, saya langsung memantabkan eksperimen sederhana di Pertanian Odesa Indonesia Pasir Impun Desa Cikadut Kab.Bandung. Sebagian tanaman jali-jali itu itu saya dekatkan dengan tanaman Bunga Matahari (sun flower), sebagian lagi saya tanam tanpa sun flower. Secara fenomenologis hasilnya berbeda. Lebih bagus yang berdekatan dengan bunga matahari karena bunga matahari adalah menyediakan prosesi penyerbukan yang baik untuk setiap tanaman.

Sejarah tanaman ini cukup tua. Seorang ahli tanaman alam, Georg Eberhand Rumphius (Lahir di Jerman 1627 – meninggal di Ambon, 15 Juni 1702) punya cerita, jali-jali ini sudah lama digunakan untuk makanan tradisional masyarakat Asia Tropis. Eberhand menyebut petani di Jawa dan Sulawesi sudah terbiasa menanam di pinggiran sawah. Sedangkan Agnes Arber dalam tulisannya tahun 1965 mengisahkan orang Cina juga sudah bertanam jail-jali pada awal abad masehi.
Sejauh ini kegunaan jali-jali bisa untuk bahan makanan selain beras. Jali-jali termasuk serealia sebagaimana sorgum, jagung dan gandum. Jenis jali-jali mudah diolah secara tradisional adalah jenis beras (putih kecoklatan). Sedangkan untuk jenis hitam biasanya digunakan untuk ketan atau mainan, termasuk perhiasan.

Untuk makanan, jali-jali bisa diproses mudah, ditumbuk menjadi tepung, dibakar untuk roti. Hal yang paling enak tentunya saat jail-jali ini dibuat bubur untuk keperluan sarapan.

Korea Selatan sudah lama menjadikan teh dengan menyebutnya Yulmu Cha, yang artinya adalah teh air mata ayub. Orang Cina lebih kreatif lagi mengembangkan sumber pangan ini dengan banyak hal. Ada minuman rebusan air mata ayub yang disebut Yi Ren Jiang. Rebusan jali-jali itu diaduk dalam air dan ditambah pemanis cairan.

Butirannya dipisahkan dengan cairan, tetapi dimakan bersamaan atau terpisah. Bahkan herbalis Cina kuno juga sudah lama mengembangkan jail-jali ini sebagai sumber pengobatan tradisional untuk memperkuat fungsi limpa, memproses kemudahan buang air kecil, meredakan radang sendi, menghentikan diare, meredakan panas.

Berbeda dengan itu, Vietnam punya tradisi menjadikan jail-jali sebagai sup manis atau dingin, sedangkan di Thailand, sering dikonsumsi dalam teh dan minuman lain, seperti susu kedelai.
Sementara di India petani seringkali menggunakan biji jail-jali ini untuk menyeduh bir.

Sedangkan di Jepang ada tradisi menyeduh jali-jali yang disebut “Ma-Yuen” ini menjadi teh atau minuman beralkohol, dan biji panggangnya dibuat minuman seperti kopi.

Secara umum manfaat daunnya untuk pakan ternak. Itu luar biasa karena daunnya bisa melimpah. Batang jail-jali ini juga sangat berguna untuk kompos tanaman baik dengan sistem olah maupun tanpa olah untuk menutup tanah dari serangan hujan dan terik matahari.

Yayasan Odesa Indonesia mulai pertengahan 2018 lalu mulai mengujicoba ditanam di Pasir Impun Desa Cikadut Kabupaten Bandung. Dua jenis jail-jali ditanam tumbuh berkembang baik, bahkan pada tanah kurang produktif tanpa banyak mencangkulnya pun bisa menghasilkan panen.

Batangnya untuk pengomposan tanpa olah para petani kelor. Sedikit cerita lama, warga di Cikadut sebenarnya sudah mengenal jali-jali ini di masa lalu. Kebanyakan sebatas mengenal sebagai mainan anak-anak karena banyak jenis jali-jali hitam yang keras. Sementara di jenis putih/coklat beras jarang berkembang. Sekarang Air Mata Ayub ini mulai mudah ditemukan setelah ribuan pohon tumbuh di Cikadut [Faiz Manshur]

Benih Hanjeli Bandung

2 tanggapan untuk “Air Mata Ayub Kini Mulai Berkembang di Cikadut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *