fbpx

Wabah Corona, Kesempatan Membenahi Pertanian

Putut Trihusodo
Situasi wabah Corona (Covid-19) yang berkepanjangan telah banyak menjungkirbalikkan keadaan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Yang paling menghawatirkan di atas semua bidang itu adalah soal pangan.

Melihat situasi pangan berarti harus menengok situasi pertanian. Kajian #ZoomOdesa Yayasan Odesa Indonesia Bandung pada Sabtu, 25 April 2020 lalu membahas masalah ini. Putut Trihusodo, Wartawan Senior dari Jakarta menyampaikan pemandangan umum situasi pangan dunia bahwa, tidak ada satupun negara yang meminta aktivitas pertanian dihentikan.

“Semua mendorong aktivitas pertanian digerakkan. Bahkan Amerika Serikat sekalipun berpikir mendorong hal itu. Trump juga mendorong pertanian dengan kebijakan insentif,” kata Mantan Wakil Redaksi Liputan6 SCTV itu.

Lanjut Putut, di Belgia petani-petani juga bekerja. Australia bahkan mensuport pertanian secara luar biasa, termasuk memasukkan edukasi dengan membangkitkan norma-norma ekologis yang selama ini hilang, juga memfasilitasi ekspor barang-barang pertanian yang berharga seperti lobster, anggur dan jenis panen pertanian lain.

“Lembaga-lembaga dunia seperti FAO dan WHO juga mengambil sikap yang sama. FAO misalnya, hanya mengatakan kegiatan pertanian tetap dijalankan tetapi harus dengan tetap taat pada protokol kesehatan menghadapi corona,” jelasnya.

Soal insentif pada pertanian juga dilakukan di banyak negara. Di Amerika untuk petani kedelai saja 9 milyar USD. Kelompok petani lain minta 50 USD sekitar 700 triliun. Ini artinya apa? Bahwa pertanian adalah kegiatan sangat penting karena menyankut stok pangan. “Nah saya sendiri lebih menaruh perhatian pada stok pangan ketimbang ekonomi,” kata Putut.

Putut melanjutkan, di dalam situasi darurat di mana kita sedang “diembargo ekonomi oleh Corona” sekarang ini merupakan momentum bagi pemerintah dan siapa saja yang ingin berpikir soal pangan rakyat.

Sebuah ironi menyatakan negara agraris tetapi semua pangan kita impor. Kita mesti dekonstruksi pemikiran bahwa tanah kita subur. Tetapi mana hasilnya. Menyediakan padang rumput untuk sapi juga tidak bisa. Semua impor. Menurut Putut, kita harus lebih realistis melihat bahwa tanah kita subur hanya untuk tanaman-tanaman tropik, sementara bahan pangan kita tergantung pada tanaman non tropis.

“Kita sudah jauh masuk ke dalam kultur ketergantungan pada pangan impor. Saatnya kita bisa berpikir ulang tentang pangan kita. Misalnya mengusahakan kedelai model brasil yang luar biasa bagus,” katanya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: