fbpx

Arief Budiman dan Teladan Sikap Kritis

Oleh Tri Agus S. Siswowihardjo *)

Saya tak tahu persis berapa kali, kapan dan di mana bertemu Arief Budiman. Dua pertemuan yang saya ingat, pertama saat Arief Budiman hadir di PIJAR Indonesia, kemudian liputannya dimuat di Kabar Dari Pijar (KDP).

Kedua, saat ngobrol sambil ngopi dengan beberapa aktivis di depan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, usai menghadiri sebuah acara di pusat budaya itu. Semuanya terjadi sebelum 1998, tapi saya lupa tepatnya. Meski demikian, bagi saya, ada dua tempat yang kemudian mengingatkan pada sosok intelektual aktivis penentang orde baru itu. Dua tempat itu adalah Balai Budaya dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Sebagai aktivis pers mahasiswa 1980an, saya beruntung masih bersinggungan dengan tokoh angkatan 1966 yang kemudian menentang orde baru termasuk Arief Budiman. Dua aksi yang menginspirasi para mahasiswa yang digagas dan dilakukan oleh Arief Budiman dan kawan-kawan yaitu aksi menentang pembangunan TMII dan Golongan Putih (Golput). Satu tempat yang saat itu sering dipakai untuk berbagai pertemuan adalah Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia 47 Menteng, Jakarta Pusat.

Balai Budaya bagi saya mempunyai nilai sejarah. Karena di tempat itu untuk pertama kali saya ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Meski tak ditahan, hanya diperiksa beberapa jam di Kantor Polisi Resort Jakarta Pusat di jalan Kramat Raya, tapi itulah kali pertama berhadapan langsung dengan aparat orde baru. Itu terjadi sekitar tahun 1986 atau 1987. Saat itu saya adalah salah satu panitia temu aktivis pers mahasiswa se-Jawa dan menghadirkan beberapa tokoh alumni pers mahasiswa yang kini terjun di pers umum atau menjadi akademisi yang kritis terhadap pemerintah.

Kalau soal Taman Mini bagi saya aksi ini menunjukkan Arief Budiman menentang pembangunan dengan dana besar namun tak langsung menyentuh kepentingan masyarakat banyak. Kabarnya hingga sekarang Arief Budiman belum pernah menginjakkan kakinya ke obyek wisata yang digagas oleh Ibu Tien Soeharto itu. Saya kadang membandingkan dengan para aktivis zaman now yang menentang pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo. Apakah ketika bandara baru kelak dioperasikan menggantikan Bandara Adisoetjipto para aktivis konsisten tak memanfaatkan bandara baru? Kita lihat saja nanti.

Saat ngobrol ringan di TIM, Arief Budiman sempat bercerita dirinya dulu sering berdiskusi dengan Nono Anwar Makarim, kini pengacara terkenal, di rumahnya. Saat itu adik Nono mungkin masih SMP atau SMA sering ikut mendengarkan obrolan para mahasiswa. Kadang-kadang oleh Nono ia disuruh membuat minuman atau membeli sesuatu di warung. “Nah anak yang dulu sering disuruh-suruh itu kini menjadi orang yang paling ditakuti oleh para aktivis,” ujar Arief Budiman disambut tawa para aktivis termasuk almarhum Amir Husin Daulay dan Nuku Soleman. Adik Nono yang dimaksud Arief Budiman tak lain adalah Zacky Makarim. Saat itu ia adalah orang paling berpengaruh di intelejen tentara, BIA.

Pada tahun 1995 suasana politik di Indonesia kian panas. Setahun sebelumnya tiga media nasional – Tempo, Editor, Detik – dibredel. Dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, ada tiga dosen yang sedang naik daun di kalangan aktivis Indonesia. Tiga nama itu yakni Arief Budiman, George J. Aditjondro, dan Ariel Heryanto. Ketiga dosen ini menjadi inspirasi tak hanya buat almamaternya tetapi juga aktivis Indonesia pada umumnya. Karena sikap kritis mereka, trio dosen itu dipecat dari UKSW menyusul konflik internal di kampus itu.

Dalam buku “Aktor Demokrasi: Catatan tentang Gerakan Perlawanan di Indonesia” oleh Arief Budiman dan Olle Tornquist (ISAI, 2001) ditulis, di antara sejumlah ornop yang terlibat, PIJAR (Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi) adalah yang paling penting dengan dua orang aktivisnya: Beathor Suryadi, yang kukuh memimpin aksi turun ke jalan di Jakarta tanggal 22 Juni; dan Tri Agus S. Siswowihardjo, yang mempublikasikan dan menyebarkan terbitan bawah tanah menentang pembredelan. Selanjutnya ditulis, dari namanya saja, PIJAR mempunyai spesialisasi dalam menyebarkan informasi independen. PIJAR didirikan pada tahun 1989 oleh beberapa aktivis kampus dari berbagai universitas di Jakarta, seperti Universitas Nasional, IKIP Jakarta, Universitas Jayabaya, IISIP, Universitas Pancasila. Pada awalnya, kegiatan PIJAR yang utama adalah mempromosikan pers dan jaringan informasi kampus di kalangan mahasiswa. Namun ketika pemerintah kian otoriter PIJAR memilih untuk menempuh jalan radikal dan dengan cara itu mereka sering melakukan protes deng dan spontan menggelar aksi protes dengan turun ke jalan, Selama seminggu setelah pengumuman pembredelan (21 Juni 1994), PIJAR secara terus-menerus dan spontan menggelar aksi protes dan membawa spanduk-spanduk di jalanan. Mereka tampaknya dengan sadar mempersiapkan diri untuk membangun jaringan aksi-aksi politik reformasi melalui penyebaran informasi alternatif – pekerjaan yang memang mereka definisikan sendiri sejak awalnya.

PIJAR sendiri pada mulanya adalah sekadar nama yayasan bukan singkatan. Pada saat itu nama-nama lembaga banyak yang menggunakan idiom yang dekat dengan api, misalnya api, obor, dian, geni, pelita, sampai teplok. Ketika itu para pendiri belum terpikir PIJAR sebagai singkatan. PIJAR sebagai singkatan Pusai Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi, seingat saya, baru muncul setelah pembredelan tiga media nasional pada Juni 1994.

Dengan Yayasan Geni di Salatiga yang sebagian besar aktivisnya adalah mahasiswa Arief Budiman, PIJAR juga berjejaring. Jika aktivis PIJAR berkunjung ke Salatiga tentu akan mampir ke markas Yayasan Geni. Begitu juga sebaliknya. Belakangan ada seorang aktivis ganda (double agent), ia seorang Geni yang berpijar atau Pijar yang bergeni. Antara PIJAR dan Geni mempunyai banyak persamaan isu yang diangkat. Yang utama tentu saja, pembangunan waduk Kedung Ombo. Isu ini mampu merajut aksi bersama di beberapa kota. Saya masih ingat saat demo pertama di halaman kantor Departemen Dalam Negeri Jakarta. Bisa jadi itu merupakan demo pertama di kementerian dalam negeri sejak orde baru.

Di luar isu nasional, sebagian besar aktivis PIJAR dan Geni juga satu frekuensi soal isu Timor Leste. Sama-sama setuju penentuan nasib sendiri secara demokratis melalui referendum. Saat PIJAR bermarkas di Jalan Masjid Bendungan, Cawang Jakarta Timur, PIJAR bahkan pernah mengundang aktivis Geni yang mempunyai keahlian khusus bermain sulap, Paulus. Ia menghibur anak-anak di sekitar sekretariat PIJAR yang sebagian anak-anak tentara. Anak-anak itu tampak antusias dan tak ragu-ragu menonton sulap meskipun di pintu PIJAR ada tulisan “Ragu-ragu Pulang Saja.”

Kepada Arief Budiman sesungguhnya kita (aktivis yang lebih muda) berhutang. Arief Budiman sebagai salah satu penandatangan Manifesto Kebudayaan (Manikebu), telah memberi teladan bahwa mendukung sebuah rezim itu harus tetap kritis. Ketika rezim yang didukung mulai menyimpang Arief Budiman juga mulai mengritik rezim orde baru. Tak peduli sebagian kawan-kawannya telah menjadi bagian rezim yang dikritisi itu. Pelajaran buat kita di zaman now, mendukung sebuah pemerintahan itu boleh-boleh saja, tapi harus tetap kritis. Jika pemerintah yang kita dukung mulai melenceng beranikah kita ramai-ramai “nempeleng”?

*) Penulis adalah aktivis dan pendiri PIJAR, kini mengajar di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Stpmd Apmd Yogyakarta

Tulisan ini untuk buku Arief Yang Budiman saat berulang tahun ke 77 pada 2018.

Hari ini (23/4) pak Arief Budiman meninggal dunia. Selamat jalan pak Arief. Terima kasih telah memberi contoh bagaimana menjadi seorang intelektual sekaligus aktivis.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: