fbpx

Praktik Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan

Praktik Konservasi atau pelestarian alam di lingkungan pertanian oleh Yayasan Odesa Indonesia.

Pelaksana Praktik 1). Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (TAOCI) 2). Himpunan Orang Tani Niaga (HOTANI)


Mekanisasi atau proses kerja perubahan alam dengan mesin dimimalisir dan dikerjakan dengan mempertimbangkan keamanan ekosistem baik yang berada di dalam tanah, di atas tanah maupun di udara. Praktik pembibitan, penanaman dan Perawatan pohon diusahakan tidak menyebabkan erosi.

Mengingat situasi pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) konturnya lereng dengan kemiringan ekstrem, maka memilih jenis tanaman tinggi yang permanen, solusi terbaiknya menanam pohon penghasil pertanian berupa buah-buahan. Kalau pun non permanen minimal yang bisa mendukung kelangsungan penyehatan tanah seperti menanam sorgum, hanjeli dan bunga matahari.

Jenis-jenis tanaman buah yang digerakkan Yayasan Odesa Indonesia antara lain, mangga, sukun, durian, kelapa, aren, sirsak, nangka, pisang, matoa, belimbing, pepaya dan lain sebagainya. Juga menanam tanaman pangan herbal kelor karena tanaman kelor sebagai pembaharuan pertanian dan perbaikan gizi. Tanaman pangan hanjeli (jali-jali), Sorgum, Bunga Telang, Bunga Matahari juga menjadi tanaman penting dalam usaha agroekologi di Cimenyan.

Setiap kegiatan pertanian dipastikan membutuhkan perawatan tanah. Solusinya adalah menutut tanah sepanjang waktu minimal 30 persen supaya gulma tidak menyerang tanaman, rumput tetap tumbuh tetapi terkendali.

Kompos dedaunan baik berbahan aktif (cepat membusuk) dan berbahan stabil (busuk jangka lama) dibutuhkan. Dengan cara itu, sebagimana praktik alami di hutan, setiap tanaman akan tumbuh berkelanjutan. Dampaknya bagi manusia adalah bekerja lebih efisien, program tanam berkurang, konsentrasi pekerjaan ke perawatan tanah dan tanaman, hasil panennya lebih rutin dengan siklus berantai dengan memanen anekaragam hasil pohon dari beragam pohon.

Ini berbeda dengan model pertanian monoculture sayuran yang petani harus bekerja menanam terus dengan biaya dan waktu yang terkuras sementara pada monoculture sayuran harus terus menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang mudah merusak panen, biaya pupuk dan tenaga kerja yang tinggi, dan di luar itu petani masih mendapat ancaman instabilitas harga komoditi.

Praktik keanekaragaman tanaman harus terus dilakukan karena gol dari praktik kesehatan lingkungan pada lingkungan pertanian adalah keanekaragaman spesies. Aneka ragam tanaman yang terjaga akan berpeluang menjaga anekaragam spesies. (Faiz Manshur) http://odesa.id

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: