fbpx

Erosi Melanda Bandung Utara Karena Pemerintah Tak Paham Kebutuhan Petani

Lahan pertanian di Cimenyan Kabupaten Bandung bak padang pasir. Hamparan perbukitan tempat kerja para petani di perbukitan tersebut lebih mirip padang pasir ketimbang lahan pertanian. Setiap musim kemarau petani kesulitan kerja karena minim air. Setiap musim hujan turun butiran tanah cokelat pucat itu mengalir ke kali-kali kecil bergerak ke kota Bandung dan menimbulkan banjir lumpur.

Puluhan tahun berlangsung, tak ada banyak perbaikan karena pemerintah, dalam hal ini Bupati Kabupaten Bandung dan Gubernur Jawa Barat tak pernah punya program mendasar yang bisa mengubah praktik pertanian dari model monokultur ke arah polikultur. Hal tersebut dikatakan oleh Herry Dim, Ketua Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam Yayasan Odesa Indonesia.

Seorang petani di Merak Dampit Desa Cimenyan Kabupaten Bandung sangat senang menerima bibit tanaman buah. Mereka siap menanam dan merawatnya di ladang yang selama ini hanya ditanami sayuran.

“Ini sudah puluhan tahun terjadi pembiaran. Setiap kepala daerah tak punya program menjawab masalah. Sementara petani sudah lama menunggu datangnya bibit tanaman tinggi. Ada yang butuh Bibit jeruk, ada yang butuh bibit durian, ada yang butuh bibit alpukat, ada juga yang butuh bibit jambu,” kata Herry di saat kegiatan Aksi Tanam Pohon bersama petani dan warga Kota Bandung di kawasan ladang pertanian Merak Dampit, Desa Cimenyan Kabupaten Bandung, Minggu, 23 Pebruari 2020.

Herry Dim menambahkan, setiap program Gubernur atau Bupati kebanyakan hanya berorientasi menjalankan program semata, bukan memenuhi kebutuhan para petani. Bibit-bibit tanaman dari Bupati Bandung atau Gubernur Jawa Barat sering bermasalah bagi para petani.

“Saya banyak mendapat masukan dari ratusan petani di Cimenyan. Pemerintah salah karena beberapa hal, antara lain jenis bibit tidak sesuai dengan keinginan petani. Kemudian juga keadaan bibit belum siap tanam. Ditambah lagi sering memaksa tanaman kayu di sekitar ladang dengan jarak terlalu dekat. Selain tidak sesuai kaidah tanam, juga justru menganggu tanam para petani. Mestinya berikan bibit tanaman besar yang diminati petani, dan biarkan petani menerapkan model tanamnya karena yang terbaik bukan mengganti tanam sayuran,melainkan menambahkan jenis tanaman,” kata Herry.

Herry Dim menjelaskan, ribuan petani di Cimenyan sudah lama ingin berubah dari model tanam yang hanya mengutamakan sayuran karena petani juga sadar masih berkesempatan memanen tanaman buah dari jenis pohon tinggi. Karena alasan itulah Yayasan Odesa Indonesia menghimpun solidaritas warga Kota untuk berbagi bibit tanaman buah.

Dari laporan kegiatan hari minggu 23 Pebruari 2020 dan berlanjut penyaluran hingga 08 Maret 2020 tersebut, Yayasan Odesa Indonesia menyalurkan bantuan 5.000 tanaman buah yang berhasil dihimpun dari Donasi Alumni ITB angkatan 81, Alumni ITB umum, Umat Wihara Kota Bandung, Umat Wihara luar kota Bandung, Komunitas ABCD, dan beberapa bantuan personal dari berbagai pihak. Jenis-jenis tanaman hasil Galang Dana yang dikoordinir oleh Dr. Megawati Santoso, Dosen Institut Teknologi Bandung tersebut antara lain bibit sukun, nangka, sirsak, durian, mangga, pepaya, kelor, pete, jengkol, jambu air, jambu mete, daun afrika, matoa, dan juga tanaman pangan sorgum dan hanjeli.

“Kami dari Yayasan Odesa Indonsia sebelumnya telah survei lapangan dan memahami pola pikir petani. Mereka itu telah lama menunggu bibit tanaman buah. Terbukti setiap kami membagikan bibit tanaman buah para petani menerima antusias menanamnya. Tetapi ribuan bibit tentu belum menyelesaikan masalah karena yang dibutuhkan untuk kawasan Kecamatan Cimenyan saja paling tidak 4 juta bibit,” jelas Herry.

Mengapa Odesa Indonesia Menggerakkan Petani Tanam Pohon?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: