fbpx

Sorgum Cimenyan: Makanan Bergizi untuk Keluarga Petani

Satu bulan sejak hujan mulai turun, kebanyakan petani datang ke ladang dengan satu tujuan, menggarap lahan. Namun bagi Toha, ia datang untuk dua tujuan, menggarap dan memanen.

Sore itu mendung menggumpal di langit perbukitan Oray Tapa, Desa Mekarmanik Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Toha sibuk mengibaskan arit, memotong batang Sorgum. Sementara Irah, Istri Toha, mengumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung.

Apakah ini langsung dimasak?

“Tidak. Harus dikeringkan dulu. Dan nanti setelah kawinan anak saya baru diurus,” kata Toha.
Ceritanya, dua hari lagi, Rabu 25 Desember 2019, Toha sedang punya hajatan, menikahkan anak keduanya, Risma Wulandari.

“Saya mau memasukkan sorgum dan kelor pada acara kawinan anak saya. Nanti dekorasinya ada sorgum dan kelor. Nasinya bisa memilih sorgum. Sayuran urapnya ada kelor, daun singkong, daun pepaya,” papar Toha.

Rabu, 25 Desember 2019, Toha dan Irah benar mewujudkannya. Pada dekorasi panggung perkawinan tersebut dimasukkan biji-biji sorgum yang belum dikupas, coklat kemerah-merahan mewarnai dekorasi panggungnya. Sementara di sekitar area resepsi terdapat banyak tanaman kelor. Ketika jamuan makan tiba, para pengunjung bisa memilih nasi beras atau nasi sorgum. Irah memasak sorgum merah dengan mencampur kelapa sehingga nasi sorgum terasa sedikit manis. Sementara di bagian panci lain, terdapat gumpalan sayur kelor.

Mengapa Toha melakukan itu?

“Saya ini kan petani. Apa yang saya miliki itulah yang harus menjadi sesuatu yang patut disajikan ke masyarakat. Pesan dari Pengurus Yayasan Odesa Indonesia agar kita punya jati diri dan bisa bangga atas apa yang kita lakukan,” kata Toha.

Dalam hal kebanggaan produk pertaniannya, Toha punya catatan bahwa hal itu bukan untuk kesombongan, melainkan sedang membawa misi mengampanyekan gerakan budidaya tanaman-tanaman baru penghasil gizi dan sekaligus ramah lingkungan yang merupakan salahsatu misi Yayasan Odesa Indonesia, tempatnya ia berkiprah pertanian model baru di Kawasan Bandung Utara.

Toha merupakan salahsatu petani Teladan dalam hal kesediaan memulai perubahan-perubahan kerja pertanian. Ia rela mengambil peran sebagai eksperimen tanaman-tanaman pangan baru seperti Sorgum, Kelor, Kopi Arabica, Hanjeli, Daun Afrika dan lain sebagainya.

Ketika Ir. Basuki Suhardiman dari Institut Teknologi Bandung mendorong Toha menanam sorgum awal 2017, Toha melakukannya. Ia menanam sorgum putih. Tiga bulan kemudian ia berhasil memanen. Tidak terlalu menggembirakan karena panen pertama dan kedua banyak sorgum disantap burung. Toha tak patah arang. Ia mencoba tanam sorgum di musim kemarau, awal Agustus 2019 lalu. Hasilnya sekarang cukup baik karena hanya burung besar yang menyantapnya, itupun porsinya tidak sampai 10 persen dalam setiap gumpalan per-pohon.

Bagi Toha, sorgum (sorghum) maupun hanjeli (coix lacryma jobi) merupakan tanaman yang bisa dikembangkan untuk masyarakat petani di Kawasan Bandung Utara karena memberikan kesempatan pada petani untuk bekerja di musim kemarau. Sorgum dan Hanjeli, termasuk Kelor memungkinkan para petani tetap mendapatkan hasil sebagaimana yang ia alami sendiri. Tiga jenis tanaman itu paling tidak sudah dibuktikan hanya sedikit membutuhkan air sehingga cocok untuk pertanian masa kini yang sering dilanda kemarau hingga 7 bulan.

“Apalagi banyak petani mengurus ladang tanpa sumber air yang mencukupi. Kalau semua hanya menanam sayuran, pasti pertumbuhannya akan buruk karena air sering kekurangan dan akibatnya petani hanya bisa bekerja satu musim selama satu tahun,” jelas Toha.

Celah Perubahan Selalu Ada

Membawa misi kerja Yayasan Odesa Indonesia, Basuki Suhardiman sebagai pendamping ekonomi keluarga pertanian, selalu menekankan agar kita banyak menanam beragam jenis tanaman dengan waktu yang bertahap. Jenis-jenis tanaman pun selalu diperhitungkan dari berbagai sisi.

Ada sisi tujuan perolehan gizi, sisi stabilitas harga, dan juga sisi perawatan lingkungan hidup. Ketiga hal ini menurut Basuki penting dilakukan di Kawasan bandung Utara, bahkan di seluruh pertanian Indonesia karena petani selalu memiliki persoalan gizi, persoalan pendapatan ekonomi dan juga masalah lingkungan di mana ladang telah banyak mengalami kerusakan.

“Kami ingin membangun tradisi baru yang tradisi kerja pertanian itu goal-nya untuk pekerjaan yang lebih beradab. Jangan para petani itu terjebak pada satu kepentingan ekonomi sementara kesehatan dan lingkungan hidup mereka rusak,” terang Wakil Direktur Teknologi dan Sistem Informasi Institut Teknologi Bandung itu kepada Pikiran Rakyat.

Mengubah budaya pertanian menurut Basuki membutuhkan keseriusan pendampingan. Selain menyediakan beragam benih tanaman pangan, tanaman herbal dan tanaman buah, juga perlu memodali para petani di masa-masa awal, dan bahkan menjamin harga yang baik sehingga petani mendapatkan kepastian atas keuntungan.

“Petani sudah kenyang pengalaman merugi, apalagi bertani sayuran yang penuh perjudian. Kita pastikan bahwa setiap apa yang dilakukan petani harus untung karena mereka hidup menanggung beban berat ekonomi anak-anak dan orangtua lanjut usia,” terang Basuki.

Supaya usaha tani berjalan baik, Basuki dan teman-teman pengurus Yayasan Odesa Indonesia memberikan jalan keluar atas pasca panen. Setiap hasil panen difasilitasi untuk diurus secara sistematis.Barang yang berkualitas dibedakan dengan yang tidak berkualitas. Kontiunitas didorong terus supaya petani menghasilkan panen berulang kali dalam satu tahun.

Menurut Basuki Suhardiman, perubahan model pertanian untuk perbaikan gizi, ekonomi dan lingkungan ini disadari membutuhkan proses panjang. Tetapi ia optimis bisa dilakukan. Terbukti sepanjang 2 tahun pertanian intensif ladang digerakkan, para petani mulai membuka diri, bersedia menanam sorgum, hanjeli, kopi, dan bahkan bersedia menanam kelor yang sebelumnya tidak dipikirkan oleh petani.

Menurut Basuki, Sogum dan hanjeli mudah diterima petani karena dua hal. Pertama masyarakat Cimenyan pernah menanam puluhan tahun silam sehingga mereka bisa mudah menerima karena tahu akan manfaatnya. Yang memastikan mereka mau tanam karena soal kesediaan kami membeli bahkan dengan harga yang bagus sehingga mereka selalu untung.

“Sedangkan kelor agak lambat diterima, tetapi sekarang sudah massif ditanam ratusan petani karena mereka mendapatkan pengalaman kesehatan dari kelor,” papar Basuki.-Hamid

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: