fbpx

Keberagaman Gerakan Odesa Membuka Ruang Luas Pengabdian

-Catatan Akhir Tahun 2019. Yayasan Odesa Indonesia Bandung.
-Keberagaman memnbuka partisipasi yang luas untuk berbagi kepada kaum papa.

Mereka yang terlibat dalam gerakan Kesukarelawanan Odesa Indonesia sangat beragam. Menurut Pendiri Odesa Indonesia, Enton Supriyatna, keberagaman para pengurus maupun sukarelawan, bahkan donatur tersebut merupakan kekayaan sumber daya manusia untuk kebaikan sosial.

Atas dasar itu, Pengurus Odesa Indonesia bersungguh-sungguh dalam usaha merawat kekayaan atas ragamnya sumber daya manusia ini. Tidak ada satupun dari pengurus Odesa Indonesia yang merasa memiliki organisasi secara ekseklusif. Semua bergiat dengan semangat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Selain itu, Odesa Indonesia sendiri sangat inklusif sehingga membuka ruang kerjasama kepada siapa saja tanpa sekat identitas seperti Agama, Ras, Golongan, Etnik dan Profesi. Siapapun yang terlibat untuk kepentingan pengabdian sosial para petani, terutama golongan kaum papa bisa menjadi bagian dari Odesa Indonesia.

“Keberagaman itu bagi kami di Odesa adalah aset. Tugas pengurus Odesa merawat hal ini untuk dikembangkan agar setiap sukarelawan mengambil peran optimal dalam mengurus masyarakat lapisan bawah,” kata Enton Supriyatna, yang selama 3 tahun lebih mendorong warga perkotaan untuk mengambil kepedulian pada urusan pertanian, sanitasi, dan juga pendidikan anak-anak petani di Cimenyan Kabupaten Bandung.

Hal yang penting dari model Gerakan Odesa Indonesia menurut Enton Supriatna adalah soal konsistensi atau keberlanjutan dalam kegiatan. Odesa Indonesia bergiat melakukan pendampingan rutin, bukan semata menggelar even. Dengan rutinitas kerja harian ini menurut Enton tujuan untuk berbuat baik ke masyarakat itu lebih tercapai.

“Warga kota bisa mengambil peran kapan pun karena Odesa Indonesia setiap waktu membuka peluang untuk bergiat amal. Ada program pendidikan pertanian yang dipraktikkan setiap hari, ada kegiatan sekolah setiap minggu untuk anak petani, ada pula kegiatan penghijauan kontribusi dari teman-teman perkotaan, ada yang membangun sanitasi secara berkelanjutan, dan ada pula kegiatan sedekah untuk kaum fakir-miskin yang membutuhkan santunan karena ketidakmampuan bekerja,” terang Enton.

Selain menyampaikan prinsip tersebut, Enton juga menyampaikan perihal donasi yang ada di Odesa Indonesia. Sejauh ini donasi lebih karena kedermawanan warga perkotaan yang tidak mengikat.

Donasi tersebut bisa berupa finansial, bisa berupa barang, atau makanan. Biasanya bantuan finansial untuk beasisiwa sekolah anak petani, pembangunan sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK), penghijauan petani, atau modal usaha petani yang mau mengelola ladangnya untuk program pertanian ramah lingkungan.

“Ada juga donasi untuk honorarium mahasiswa yang mengajar setiap minggu. Kalau pengurus tidak ada gaji, tapi untuk adik-adik mahasiswa perlu kami perhatikan, walau honornya hanya sedikit untuk sekadar transportasi dan service motor,” terang Enton.

Odesa Indonesia pada pertemuan malam akhir tahun 2019 itu juga menyampaikan, kebutuhan amal untuk keluarga petani pra sejahtera sebenarnya sangat banyak. Kalau untuk pakaian relatif selalu tersedia stok. Namun untuk bantuan pangan bagi anak-anak kurang gizi maupun keluarga petani yang sudah tidak mampu bekerja seringkali mengalami kekurangan.

Pohon Sebagai Aktor Perubahan

“Kita juga menaruh kepedulian pada kaum papa yang tidak bisa berekonomi lagi, atau anak kekurangan gizi. Selalu ada info dari lapangan. Karena itu bantuan makanan bergizi atau bahan makanan pokok juga diperlukan. Nanti adik-adik mahasiswa yang menyalurkan ke warga yang dimaksud,” pesan Enton.

Sekalipun kegiatan Odesa Indonesia ini lebih mengambil peran pembangunan SDM yang hasilnya jangka panjang dan tidak kelihatan dalam sekejap, namun ia optimis di masa mendatang akan terjadi perubahan sosial yang mendasar karena dunia pendidikan memang tidak menyajikan hasil yang instan.

“Kelak anak-anak petani yang setiap pekan kita damping itu akan mendapatkan manfaat besar entah berapa tahun ke depan. Kelor yang kita tanam juga akan berguna jangka waktu panjang karena hal itu kita lakukan sebagai solusi mendasar. Semua butuh kesabaran,” Papar Enton.


Jurnalisme Solutif

Pada kesempatan itu, Enton Supriyatna juga menyampaikan pengalaman kerja Yayasan Odesa Indonesia yang menghubungkan antara jurnalis dan peneliti. Bekerja dengan mengambil spirit etnografi juga memungkinkan membuka fakta-fakta lapangan tentang banyak hal yang tidak diketahui masyarakat, bahkan tidak diketahui pemerintah.

“Banyak persoalan di masyarakat yang bisa digali dan dijadikan tulisan. Dari situ kita sering menemukan reaksi pemerintah yang gagap terhadap berita. Ini membuktikan karena selama ini masalah-masalah di lapisan bawah tidak diketahui, tidak mendapatkan perhatian,” terang Enton.

Jurnalisme Solutif Model Odesa sebagai Gerakan

Menurut Enton, program jurnalisme untuk para sukarelawan Odesa Indonesia di tahun 2020 harus lebih dioptimalkan terutama bagi para relawan supaya pada setiap kegiatan bisa menulis secara baik. []
Odesa Indonesia Tegakkan Pertanian Bernilai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: