fbpx

Kerja Kebudayaan Berbasis Budidaya Botani Bergizi

Sebuah Proses Kerja Kebudayaan Melalui Budidaya Kelor, Sorgum dan Hanjeli

KELOR: Tradisinya dibangun dari pembaharuan dilakukan oleh Odesa Indonesia sejak akhir tahun 2016. Kelor adalah botani yang berbasis sainstifik, tujuannya untuk memperbaiki gizi keluarga petani prasejahtera, dan memperbaiki jenis komoditi petani serta mengatasi erosi. Dimulai dari kebiasaan pengurus mengonsumsi kelor. Pengalaman terbaiknya dari eksperimen sembuhnya penyakit para pengurus dan anak-anak petani yang lebih sehat setelah mengonsumsi kelor di sela kegiatan sekolah hari Minggu. Lambat tapi pasti warga mengonsumsi dengan tujuan untuk obat. Agen perubahannya adalah orang sakit yang sembuh karena meminum kelor. Kasus sakit yang sembuh dari kelor antara lain, jantung, kanker payudara, asma dan asam urat. Kasus yang lain, badan lebih segar dari kebiasaan mudah lelah.

Sekarang di Cikadut dan Mekarmanik bibit kelor banyak yang minat. Kebiasaan mengonsumsi harus menjadi agenda kegiatan serius. Bibit-bibit dibagikan untuk tanam di pekarangan dan ladang supaya saat ada orang sakit tidak ribut mencari daun, apalagi mencuri sehingga sering merusak pohon kelor milik petani yang sudah menanam. Gerakan ini harus diseriusi karena kelor di Cikadut dan Perbukitan pertumbuhannya kurang bagus, kalah dengan pertumbuhan di perkotaan Bandung.

Standar gerakan tanam kelor sudah baku dan bagus. Warga kota atau orang yang memiliki kemampuan belanja untuk membeli benih atau bibit kelor. Sementara warga petani pra sejahtera dibagi gratis dengan komitmen keseriusan menanam, termasuk komitmen menanam tanaman tinggi jenis buah dan tanaman keras penghijauan. Bahkan ada 6 pembibit dari seleksi (22 petani binaan) yang serius membibit sehingga mendapatkan peningkatan ekonomi dari kerja tani pekarangan pembibitan.

KEBIJAKAN PENDAMPINGAN ODESA 2020: Kelor harus diperluas budidayanya oleh Yayasan Odesa Indonesia dengan tujuan sebagai sumber gizi keluarga sampai ke Mandala Mekar, Mekarsaluyu, Cimenyan, Cipanjalu, Cilengkrang dan Ciburial. Adapun tujuan kelor untuk ekonomi pertanian juga harus digarap, tetapi itu skala prioritas kedua, setelah gerakan tradisi tanam dan makan kelor keluarga berhasil. Jangan sampai petani sesat berpikir menanam hanya untuk menjual sementara mereka sendiri membutuhkan bahan makanan sehat dan bergizi untuk mereka, terutama untuk anak-anaknya. Kita masih sering menemukan kasus kurang gizi, bahkan beberapakali menemukan anak stunting di Kecamatan Cimenyan.

SORGUM DAN HANJELI: Dimulai dari gerakan tanam. Motifnya ekonomi pertanian. Pada akhir 2017, kita anggap sulit petani menerima tanaman ini. Tetapi ternyata petani punya memory masa lalu bahwa mereka punya pengalaman menanam dan memakan gandrung (alias sorgum), termasuk hanjeli sehingga petani mudah menerima. Ilmu cara tanam tidak terlalu merepotkan. Berbeda dengan budidaya kelor yang ternyata lebih sulit.

Kronologi Sorgum. Basuki Suhardiman mulai membawa benih sorgum Januari 2018. Enam bulan pergerakan sejak April 2018 disoslisasikan oleh Grup Pertanian Taoci (Tanaman Obat Cimenyan), 22 petani menanam sorgum, dan akhir tahun 2019 banyak permintaan menanam. Semua karena masih motif ekonomi, belum motif konsumsi. Saatnya kita membangun konsumsi dengan pangan hasil panen sendiri.

Hanjeli juga sama persoalannya dengan sorgum hanya saja volume tanamnya sedikit. Dulu Bibit Hanjeli diusahakan oleh Faiz Manshur, Budhiana Kartawijaya dan Herry Dim. Menyempatkan mengambil bibit Hanjeli dari Desa Cibodas Kab.Bandung saat bulan Juni 2018. Disusul Benih Hanjeli Ketan/Batu yang diusahakan Andy Yoes dari Temanggung. Kemudian langsung ditanam oleh Ujang Rusmana di area pembibitan Sekebalingbing. Lalu diurus bulan Agustus hingga oktober oleh Yayan Hadian bersama Alya Nursabrina (Miss Indonesia). Berkembang di petani Cisanggarung dan sekarang meluas sampai desa Mekarmanik.

REKOMENDASI PENDAMPING:
Rekomendasi umum agar dilaksanakan pada awal tahun 2020.
BASUKI SUHARDIMAN: harus semakin fokus mendorong petani berekonomi dengan Sorgum, Hanjeli dan Kelor untuk petani Hotani (Desa Mekarmanik). Pendampingan harus ditingkatkan dengan membentuk asistensi, termasuk menggerakkan lanjutan tanam kopi yang pada tahun 2019 kita kurangi. Harus dibangkitkan pada akhir tahun 2020 dengan kesiapan kita membibit puluhan ribu di lokasi pembibitan Sindanglaya dan Cikadut.

RUSMANA DAN TOHA: harus banyak berkiprah mengembangkan gerakan sosialisasi Kelor, Sorgum dan Hanjeli untuk Desa Mandala Mekar, Mekarsaluyu, Cimenyan, Ciburial. Toha harus membantu meluaskan gerakan di Cilengkrang dan Cipanjalu. Rusmana dan Toha mengaktifkan gerakan tanaman pangan sekaligus penghijauan dan juga mendedikasikan gerakan kesehatan dengan membangun sarana Sanitasi MCK.

DIDIN SUDENI: perlu mencari lahan-lahan pinggir kota dan tengah kota Bandung agar gerakan botani sehat bergizi berkembang di perkotaan dan memperkuat pembinaan kegiatan pembibitan tanaman herbal Taoci mendampingi Yayan Hadian, Huda dan Misbah.

ENTON SUPRIYATNA: harus makin rajin menemui ibu-ibu petani di sekitar Cisanggarung, Sentak Dulang hingga Cikawari. Tujuannya untuk mengampanyekan konsumsi hasil panen dari tiga tanaman tersebut. Kegiatan ini perlu menyertakan event-event kuliner bersama Pak Omas Witarsa dan melibatkan ibu-ibu perkotaan yang hobi menggerakkan kuliner. Tugas Enton Supriyatna ini sekaligus dimanfaatkan untuk membangun basis kegiatan Sekolah Samin yang baru dengan target mendapat 5 kampung di tahun 2020.

herry-dim-yayasan-odesa-indonesiaHERRY DIM DAN BUDHIANA: Tugas Herry Dim dan Budhiana Kartawijaya adalah merumuskan sekolah botani. Dengan basis kegiatan botani intensif beranekaragam tanaman herbal dan bunga yang dikembangkan huda dan misbah, Budhiana Kartawijaya dan Herry Dim mesti serius mengambangkan sekolah botani sebagai fasilitator pendidikan karakter untuk masyarakat desa sekaligus masyarakat perkotaan. Tujuannya adalah memperbaiki cara pandang masyarakat terhadap tanaman agar di masa mendatang banyak agen-agen perubahan sosial yang peduli lingkungan, pangan sehat bergizi dan bebas erosi.

HAWE SETIAWAN: bertugas merekap data gerakan Odesa Indonesia untuk kemudian membangun produksi ilmu pengetahuan melalui gerakan pemikiran etnografi kewargaan. Basis –basis produksi ilmu Odesa Indonesia sudah teramat banyak sejak tahun 2016. Mesti harus disusun serius sebagai bagian penting produksi literasi. [Faiz Manshur. Ketua Odesa Indonesia]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: