Inilah Solusi Pertanian di Lahan Kritis Kawasan Bandung Utara

Wawancara dengan Herry Dim, Koordinator Bidang Revitalisasi Sumber Daya Alam Odesa Indonesia
Strategi Praktis Memperbaiki Pertanian Kawasan Bandung Utara

Bagaimana Odesa Memperbaiki Lingkungan Pertanian di Kawasan Bandung Utara?

Pertanyaan ini sangat penting untuk dibicarakan karena Kawasan Bandung Utara (KBU) selain bermasalah dari sisi pembangunan yang merusak lingkungan, juga terdapat ribuan hektar tanah yang mengalami erosi dan menyebabkan banding lumpur di Bandung.

Rusaknya Tanah, Rusaknya Kehidupan

Herry Dim, Koordinator Bidang Revitalisasi Sumberdaya Alam Yayasan Odesa Indonesia menyampaikan beberapa hal dari kegiatan Yayasan Odesa Indonesia yang sejak 2016 bergiat mendampingi para petani di Desa Cikadut, Desa Mekarmanik dan beberapa petani di beberapa desa lain di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

“Yang pertama harus disampaikan bahwa bukan sayuran penyebab masalahnya, melainkan model monoculture, satu jenis tanaman sayuran. Setiap pertanian yang menjaga lingkungan mestinya polyculture yaitu menjamin kehidupan keanekaragaman hayati,” kata pelukis asal Cibolerang Bandung itu.

Menurut Herry, pertanian di Kawasan Bandung Utara banyak sayuran pendek yang cepat panen tetapi sekaligus menimbulkan masalah. Ketika banyak area pertanian bekas huma dan hutan dibabat diganti tanaman pendek secara massal, terjadilah persoalan.

Pertama, tanah kehilangan pelindung sehingga cepat memanas. Tanah juga kehilangan “bahan makanan” dari dedauanan. Bersamaan dengan itu air juga hilang dari endapan tanah serta merta karbon juga cepat lari ke langit karena ketiadaan daun dari pohon.

Kedua, eksploitasi tanah yang melewati 20 tahun menjadikan tanah tidak sehat karena petani mengabaikan kebutuhan perkembangbiakan microorganisme. Praktik pertanian organik model kompos alamiah tidak dilakukan sehingga tanah menjadi kehilangan banyak nutrisi. Tanah diaduk setiap waktu tanpa henti bersamaan itu pupuk kimia menyebar. Akibatnya butiran tanah berwarna coklat pucat atau yang disebut “tanah sakit” itu mudah terbawa erosi saat musim hujan.

Ketiga, hilangnya keanekaragaman hayati yang dulu berkembang dalam situasi forest atau kehutanan selain merusak tanah juga mematikan banyak makhluk hidup yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Ketika tanah menjadi sakit, maka kehidupan di atas bumi itu ikut sakit juga. Manusia kekurangan Air, Hewan juga kehilangan sumber hidup. Populasi menyusut dan udara juga semakin tidak bersahabat.

Menemukan Jalan Keluar

Dari masalah itu menurut Herry Dim, Yayasan Odesa Indonesia meletakkan pemikiran mendasar agar petani dan juga para pemilik tanah untuk menanam keanekaragaman hayati. “Prinsip untuk meraih lingkungan yang baik tentu harus berangkat dari ekosistem yang baik. Karena itu mau tidak mau kita harus bicara tentang agroekologi tujuannya adalah mewujudkan pertanian berbasis kehutanan yaitu agroforestry,” terang Herry.

Petani KBU harus banyak diberi bibit tanaman tinggi


Bagaimana secara praktis Yayasan Odesa Indonesia mengawal kerja ini? Bukankah praktik ini tidak bisa dijalankan oleh sekelompok tim intelektual karena urusannya harus dengan pemilik tanah dan para petani?

Menurut Herry Dim, sebenarnya program agroforestry itu tidak susah dijalankan. Pasalnya, Kawasan Bandung Utara itu puluhan tahun sebelumnya merupakan hutan dan huma. Pada bagian yang sudah banyak pohon tinggi mestinya tetap dipertahankan. Pertanian harus menyesuaikan tanaman-tanaman yang ada. Bahkan semak belukar yang nota bene memiliki banyak manfaat untuk herbal jangan diganti oleh tanaman lain, melainkan harus dimaksimalkan sebagai komoditi.

“Misalnya para petani bilang dulu banyak sekali cecendet, atau ciplukan. Sekarang harganya mahal dan gizinya sangat luar biasa baik,” kata Herry.

Memanfaatkan Potensi Lama

Selain modal dari hutan, di masa lalu, banyak juga tanaman yang sangat baik untuk pangan sehat dari bergizi. Orang Cimenyan misalnya paham tentang Hanjeli dan Sorgum yang dikenal Gandrung. Puluhan tahun mereka telah hilang tanaman sumber gizi karena petani ikut-ikutan menanam komoditi baru berupa sayuran dengan menghilangkan tanaman lama. Artinya, dengan sebelumnya adalah pernah mengalami pertanian semi agroforestry kemudian berubah menjadi sayuran itu juga sebuah proses perubahan.

Sekarang strateginya dibalik dari sayuran ke arah komoditi baru misalnya kombinasi antara pohon buah, sayuran, dan juga tanaman herbal. Perlahan-lahan juga bisa diproses dengan penambahan tanaman untuk revitalisasi sumber mata air yang semakin hilang dengan menanam pohon besar seperti beringin dan menyebarkan pohon bambu di lahan-lahan yang memungkinkan.

“Ketika sorgum dan hanjeli kita kembalikan ditanam, para petani menyambut secara antusias. Tentu pelaksanannya tidak sekadar memberi bantuan benih, melainkan juga pendampingan dengan menjelaskan kandungan gizinya, pengolahan secara modern, dan yang penting lagi memberi arahan untuk penjualannya,” jelas Herry.

Dengan tanaman Hanjeli dan Sorgum misalnya, Yayasan Odesa Indonesia bisa membuktikan tiga manfaat sekaligus.

1) Memberikan ruang pekerjaan sekaligus hasil panen tambahan kepada petani, apalagi di musim kemarau. Kedua tanaman ini tidak banyak membutuhkan air sebagaimana tanam sayuran. Dari situlah petani mendapat nilai lebih ekonominya.

2) Para petani juga didorong untuk mengonsumsi kedua sumber pangan tersebut karena urusan setiap orang adalah makan. Kalau bisa memakan sumber pangan dari ladangnya, secara otomatis pengeluaran belanja atau jajan anaknya berkurang sehingga menciptakan situasi kesejahteraan dapur rumah tangga.

3) Menyehatkan tanah. Ladang pertanian yang kurang kompos alami dengan tanahnya menjadi lebih subur karena akar-akar tanaman hanjeli sorgum bisa memperbaiki lahan dengan indikasi tanah menghitam dan nyaman dipegang serta lebih gembur.

4) Menguntungkan bagi ternak para petani karena petani mendapatkan pasokan rumput dan biji sorgum.


“Belum lagi kalau kita bicara soal pohon penghijauan berbasis buah dan kopi . Fakta di lapangan tanaman kopi yang banyak kita sebarkan turut mendorong keanekaragaman hayati karena petani dituntut untuk menanam pohon pelindung lainnya sehingga sekarang Yayasan Odesa Indonesia mengajak warga kota untuk membantu menyediakan bibit buah,” kata Herry Dim.

Anak-anak Petani adalah agen perubahan sejak saat ini hingga masa mendatang. Ajarkan pertanian ramah lingkungan.

Evaluasi Pemerintah untuk Kebijakan KBU

Menurut Herry Dim sebenarnya pemerintah sudah sering memberi bantuan baik bibit kopi, maupun tanaman tegakan. Tetapi Pemerintah tidak peka akan kebutuhan petani. Setiap program dilakukan secara minimalis dan tidak terkonsep bahkan cenderung menyulitkan para petani. Dan menurut Herry pemerintah tidak serius dalam jumlah bibit yang diperuntukkan petani.

Herry mencontohkan kesalahan pemerintah misalnya, petani dibagi bibit tanaman keras berupa kayu, tidak sekaligus disertakan tanaman buah dan tanaman lain. Akibatnya petani malas menanam karena komoditi kayu terlalu lama. Namun sekalipun malas, masih beruntung pemerintah karena petani juga tetap menjalankan dengan kemauan menanam. Malangnya, saat kayu harus dipanen petani kelimpungan karena ditanam dipuncak bukit yang sulit medan dan biaya penebangannya lebih besar dari harga kayunya. Kalaupun ditebang, menurut Herry Dim masyarakat juga kehilangan sumber fotosintesis karena harus mengulang tanam.

“Jadi bukan maksud saya mengkritik penananam pohon penghasil panen kayu, melainkan harus jeli memilih bibit supaya hari mendatang kita tidak menghadapi problem baru. Tanaman buah lebih menjanjikan karena yang dipanen bukan pohonnya, melainkan cukup buahnya. Petani bisa memakan buah, dan sebagian bisa dijual. Intinya, kalau mau memberi bantuan mestinya memahami kebutuhan dan kemampuan petani. Ketika kami bekerja juga berbasis observasi lapangan terlebih dahulu,” kata Herry.

Petani sangat senang dengan bibit tanaman buah. Bahkan kelor pun juga suka karena bisa untuk kesehatan badan mereka

Faktanya Petani Mau Berubah

Pada tahun 2016. Yayasan Odesa Indonesia pernah melakukan survei lapangan terkait kesediaan petani menanam kopi dan tanaman buah. Tujuannya bukan untuk mengganti sayuran karena menurut Odesa Indonesia sayuran juga merupaka tanaman yang sangat dibutuhkan setiap orang, termasuk petani. Begitu pendataan dilakukan, ternyata fakta di lapangan menunjukkan petani menanam sayur kebanyakan hanya ikut-ikutan karena kemampuan mereka dalam benih, bibit dan ilmu penanaman juga berdasar mengikuti kebiasaan sekelingnya.

“Jadi bukan karena sayuran itu menjamin keuntungan. Petani juga sadar tanam sayuran melulu itu melelahkan dan tidak menjamin keuntungan. Para petani punya bahasa, menam sayur itu perjudian. Kapan saja bisa untung, tapi nyatanya lebih banyak buntung. Panen bagus pun terkadang harus bangkrut karena sangat sering harga anjlog di pasaran. Belum lagi saat hujan es, angin puting beliung atau tanaman diserang hama,” Jelasnya.

Dari sengkarut persoalan tersebut menurut Herry Dim, gerakan Agroforestry mesti ditegakkan. Pemerintah tidak boleh parsial dalam mengagendakan perubahan. Tak cukup juga hanya menghimbau apalagi para petani tidak membaca koran atau memegang ponsel.

“Petani itu aktor perubahan sosial, harus terus dikawal kegiatannya dan diberikan kesempatan untuk membangun kapasitas mereka dengan pertanian yang peduli lingkungan. Jangan lupa juga perhatikan sisi kesejahteraan hidupnya, terutama masalah sanitasi dan pendidikan anak-anaknya,” jelas Herry.

Lahan Mangkrak jadi produktif untuk pembibitan

Bertindak dengan Pembibitan

Menurut Herry, masalah krisis lingkungan Kawasan Bandung Utara (KBU) sudah sangat akut. Ia berharap Gubernur Ridwan Kamil tidak sekadar berencana tanpa punya program yang jelas, apalagi hanya digitalisasi e-tanam. Sebab kalau urusan elektronik, nanti tidak akan nyambung dengan para petani. Sinyal di Cimenyan saja menurut Herry belum semua lokasi ada. Belum lagi soal petani kalau harus mengambil bibit dari lokasi jauh akan butuh ongkos.

“Ada benih, ada bibit, ada pupuk, ada ilmu, ada pengelolaan pasca panen, ada pemasaran dan yang penting harus terus diagendakan pendidikan untuk mengawal hasil pertanian. Jadi Gubernur Jangan Ribut terus soal kewenangan dengan para bupati. Sering-sering datangi petani, bukan kepala desa atau kelompok tani dikumpulkan. Masuk langsung ke dapur dan WC petani berulangkali. Toh di sana bisa sambil selfie di padang pasir,” saran Herry.

Herry menyarankan hal demikian karena fakta di lapangan banyak kesempatan bagi pemerintah untuk memperbaiki keadaan. Tidak usah berasumsi soal kepemilikan tanah. Saya jamin banyak peluang petani menanam pohon buah yang bisa menjaga tanah dari erosi dan menciptakan udara segar serta merawat sumber air.

Pohon Nangka cocok untuk lahan erosi. Penghasil buah penuh gizi

Pohon Nangka cocok untuk lahan erosi. Penghasil buah penuh gizi[/caption]“Tanaman tinggi seperti nangka, sirsak, durian, jambu,jengkol, pete diminati petani Cimenyan. Sedangkan pohon menengahnya petani juga minat menanam kopi, pepaya, sorgum, hanjeli, jeruk, kelor, dan tanaman herbal lainnya. Sekali lagi, jenis-jenis itu membutuhkan massal, jutaan sehingga perlu memiliki pembibitan sendiri di setiap desa supaya petani memiliki kebebasan memilih waktu tanam. Jangan seperti kebiasaan, petani disuruh tanam mengikuti program kerja kedinasan tidak tepat waktu dengan musim tanam,” paparnya.[Abdul Hamid/Odesa.id]

BUMI PUCAT PETANI MELARAT. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Memahami Krisis Pertanian Kawasan Bandung Utara

SOLUSI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN Solusi Pertanian Cimenyan

PEMBIBITAN SEBAGAI SYARAT DASAR PERTANIAN KAWASAN BANDUNG UTARA Pembibitan Sebagai Syarat Dasar Pertanian Bandung Utara

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: