Pohon Kehidupan: Jangan Tebas Harapan Anak

Oleh Herry Dim. Budawayan. Pelukis. Penggurus Odesa Indonesia.

Saya ingin mengajak siapapun untuk memembaca tanda-tanda (semiotika), memaknai, dan memetik hikmah dari video teramat pendek yang tak lebih dari 22 detik ini.

(1) Dua subjek dari video ini adalah sosok Mang Toha, seorang petani dan peternak sapi dari Kampung Waas, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung; dan seorang anak siswa dari Cendekia Leadership School Awiligar Bandung.

Apa makna dari adegan ini?
Toha yang sehari-hari bertani dan beternak di bebukitan Kampung Waas, ini berbagi pengetahuan secara praktik menanam pohon kelor kepada sang anak yang notabene dari kota. Sila perhatikan ketulusan Toha dan antusiasme sang anak hingga menimbun benih pohon kelor dengan tangannya sendiri yang tampak pula dilakukannya dengan cinta-kasih.

Di sela adegan tersebut serta bersambung pada kesempatan lain dalam rangkaian acara Hari Menanam Indonesia, 20 November 2019, Toha yang bertitel “Mamang” sehingga tertera menjadi panggilan Mang Toha, itu antara lain berujar: “Ini pohon kelor. Kita (maksudnya Odesa Indonesia, hd) mulai tanam sejak akhir tahun 2016 lalu. Tujuan utamanya, memberi sumber gizi kepada masyarakat dan supaya petani menanam sumber pangan tanpa merusak lingkungan. Sebab selama ini petani disalahkan karena tanam sayuran pendek dan negara tidak pernah memberikan solusi sayuran berupa pohon tinggi yang bisa berguna mencegah erosi.

Mang Toha sering bicara kepada petani, kita tetap tanam sayur, tapi sayurannya ditambah jenis kelor. Tetap sayur, tapi pohonnya bisa tinggi. Menanam sekali saban 35 hari sekali bisa panen. Berbeda dengan tanam kubis atau bawang, sekali tanam panen sekali juga. Tapi Toha juga tidak berpikir seperti para pengamat yang menyalahkan sayuran jenis pendek. Semua tetap menanam sayur pendek, hanya saja harus ada tanaman tinggi. Bukan hanya sayur, melainkan juga tanaman buah dan jenis tanaman lain yang semuanya akan memberi manfaat. Keanerakaraman hayati akan memberi warna-warni manfaat.

“Kalau tanamannya pendek semua nanti tanahnya erosi. Jadi, kalau bertani itu yang benar jenis tanamannya harus macam-macam. Ada yang pendek, yang menengah dan yang tinggi. Ada yang untuk sayuran, untuk buah, untuk makanan pokok, dan juga makanan ternak,” kata Toha menjelaskan prinsip Agroforestry secara sederhana. Bukankah itu ilmu dan di sana telah terjadi transfer pengetahuan?

(2) Perhatikan lingkungan tempat benih pohon kelor itu ditanam, seperti tampak pada video pohon kelor tersebut ditanam di antara tanaman sayuran blumkol.

Apa maknanya?
Seperti sepele tapi sejatinya menyimpan makna besar dari persoalan besar seputaran terjadinya proses penghilangan hutan (deforestasi) yang melanda Indonesia.

Sekali lagi kita ulang pertanyaannya: apa maknanya?
Baik, salasatu saja hal lain di balik umumnya kejadian deforestasi tersebut, yaitu adanya konflik kepentingan yang satu sama lainnya sangat mendasar; berkenaan dengan keberlangsungan hidup.

Petani menanam sayur secara monoculture (bukan polyculture) karena amat-sangat membutuhkan hasilan yang bersegera, terhitung siklus dari masa tanam hingga masa panennya; sementara petani sekelas Mang Toha seperti umumnya jutaan petani lainnya di bumi nusantara, itu tergolong petani yang tak memiliki tanah sendiri untuk bercocok tanam karena umumnya lahan luas yang sepatutnya untuk bertani itu sudah dikuasai orang-orang perkotaan, sebagian di antaranya lagi justru orang-orang kaya yang abai atau tak peduli terhadap problem lingkungan hidup bahkan tega babat habis demi membangun istana-istana untuk kegenahan hidupnya.

Bersebab keterdesakan hidupnya itulah maka terjadilah “pembukaan hutan” dan pengubahan fungsi hutan sebagai penyangga ekologis menjadi lahan pertanian. Di sini pula konflik kepentingan itu bermula. Manakala membela ekologi berarti menutup ruang hidup petani, sebaliknya manakala membela kepentingan hidup petani maka ekologi jebol menjadi serangkaian bencana yang “mematikan” kehidupan lainnya.

Di sini pula letaknya semiotika “pohon kelor yang ditanam di antara tanaman sayuran blumkol,” itu setidaknya menjadi semacam tanda jalan tengah untuk tetap saling menjaga kehidupan.
Bersamaan dengan itu, kita pun menjadi kian faham akan makna pentingnya pernyataan Mang Toha seperti yang telah dipetik di atas.

(3) Perhatikan kembali sang anak manakala menanam, sentuhan tangannya pada bagian akar saat benih mulai keluar dari polybag itu mengekspresikan kehati-hatian sekaligus rasa kasih kepada benih tanaman tersebut. Perhatikan juga saat sepersekian detik benih tanaman lepas dari tangannya, itu seperti ada pandang mata sekaligus helaan nafas penghantar harapan; lantas segera bersambung pada antusiasme sang anak ketika ikut mengubur bagian akar tanaman tersebut adalah antusiasme seperti yang berkata-kata: tumbuhlah, tumbuhlah, tumbuhlah.

4) Di luar anak-anak dan petani, yang harus diapreasi juga adalah kesediaan Kepala Sekolah Cendekia Leadership School karena memiliki perhatian untuk mengajak siswa-siswinya mengenal para petani dengan alam pertanian serta memahami sumber erosi yang sering menimpa kotanya.

5) Yang perlu kita baca, bahwa anak tersebut sedang “menanam harapan.” Fisiknya adalah harapan agar benih pohon yang ditanamnya itu tumbuh dan membesar, ‘beyond’ dari harapan kasat mata itu adalah harapan yang lebih besar bahwa dedaunannya kelak menjadi oksigen yang senantiasa dibutuhkan seluruh mahluk hidup termasuk manusia, sementara batang dan akar-akarnya menahan tanah agar tidak longsor serta menyerap air agar tidak menderas menjadi banjir di kawasan yang lebih rendah.

Kelak, jika ada sembarang orang dengan ‘lalawora’ menebas pohon yang ditanam anak tersebut, itu akan sama dengan menebas harapannya, menebas harapan satu generasi manusia yang berkehendak hidup lebih baik.**

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: