Mengubah Petani dengan Memanfaatkan Sorgum

Oleh Basuki Suhardiman. Pendamping Ekonomi Petani Yayasan Odesa Indonesia. Wakil Direktur Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung.

Kita mendambakan pertanian yang berkelanjutan. Kenyataan yang terjadi; petani miskin berkelanjutan, impor pangan berkelanjutan, dan kerusakan lingkungan pertanian juga berlanjut.
Bayangkan, setiap tahun rata-rata impor gandum Indonesia melebihi $ 2,4 Billion. Sementara ladang-ladang petani mulai banyak yang menganggur tiap kesulitan air di musim kemarau. Bahkan kita saksikan, banyak lahan pertanian berubah bak padang pasir yang tanahnya coklat pucat karena kehilangan air.

Kita membaca situasi. Kita pun membaca literatur. Dan kita memahami pentingnya perubahan ekonomi dan lingkungan di kalangan petani. Jangan sampai mereka tidak produktif. Tanaman seperti Sorgum, termasuk Hanjeli dan Kelor serta jenis tanaman lain harus menyertai kerja para petani. Banyak tanaman yang bisa tumbuh berkembang di musim kemarau. Model-model pertanian yang praktis sesuai keadaan lingkungan menuntut kita untuk kreatif.

Kami punya pengalaman misalnya, Sorgum, Hanjeli dan Kelor bisa mengubah keadaan pekerjaan pertanian. Puluhan petani di Cimenyan (periode 2018-2019) banyak yang merasakan manfaat karena mereka bisa bekerja di ladang saat musim kemarau dengan mengurus sorgum, hanjeli dan kelor. Pendapatan ekonomi pun diraih. Petani muda Yayan Hadian yang mengkoordinasi puluhan petani melaporkan para petani lumayan mendapat penghasilan tambahan.

Dari tanam sorgum setiap tiga bulan selalu ada yang meningkat pendapatan para petani. Ada yang mendapat Rp 600.000, ada yang mendapat Rp 1,6 juta, ada yang mendapatkan Rp 4,8 juta dan ada pula yang memanen sorgum bersama hanjeli dengan perolehan Rp 6,1 juta. Ini belum pada mereka yang bertani di pekarangan dengan pembibitan. Di pekarangan mereka, para petani tanpa pengaruh musim terus bergulir pendapatan. Ada yang setiap 2 bulan sekali meningkat Rp 600.000, ada yang meningkat Rp 1,2juta.

Tidak selamanya petani susah diajak berubah. Kita harus selalu kreatif mencari celah sampai akhirnya mereka mendapatkan semangat menerima hal yang baru. Pada sorgum dan hanjeli misalnya, petani banyak yang menerima dan begitu antusias membicarakan kedua tanaman ini karena kakek-nenek mereka, atau kehidupan mereka di masa 30-40 tahun silam sehari-harinya berurusan dengan sorgum dan hanjeli. Sejak tahun 1990an tanaman ini lenyap karena tidak ada yang membeli.

Pemerintah tidak pernah melakukan tindakan dini mengondisikan kekayaan lokal sehingga semakin lama para petani justru semakin kehilangan potensi. Akibatnya begitu bergeser kepada trend pertanian sayuran, para petani meninggalkan dua aset sumber pangan bergizi yaitu Sorgum dan Hanjeli. Ini pelajaran penting agar jangan sampai kita menghilangkan sejarah, karena sejarah merupakan sumber masa lalu yang bisa memperbaiki masa kini. Kita kembalikan semangat lama yang baik, dan menambah kekayaan dengan tanaman baru. Dengan menggali yang lama dan menambah yang baru, setiap orang akan punya kesempatan untuk berkembang.

Kelor misalnya, merupakan tanaman baru yang diacuhkan saat sosialisasi. Tetapi kita juga bisa membuktikan bahwa kelor diminati petani. Sekalipun lambat tetapi nyatanya petani mau menanam. Unsur penggerak petani menyambut kelor karena banyak bukti di masyarakat tanaman ini merupakan sumber pengobatan.

Dengan banyaknya informasi kesembuhan warga yang sakit seperti stroke, diabetes, kanker payudara, penyakit jantung, sakit gigi dll, para petani mulai menemukan kesadaran karena telah merasakan manfaatnya sebelum mereka menanam. Jadilah sekarang, di akhir 2019 ini, ratusan petani mau menanam kelor. Puluhan ribu pohon kelor pun di tanam di pekarangan dan sebagian ditanam di ladang Perbukitan Cimenyan Kawasan Bandung Utara.

Dunia membutuhkan sorgum karena kemakmuran sumber pangan selama ini tidak senantiasa membawa dampak kesehatan. Salahsatu faktor yang akan membuat sorgum diterima dunia adalah karena kesadaran pada Gluten Free. Ini harus terus dikampanyekan dan disebarkan kepada masyarakat Indonesia; dengan sorgum kita akan hidup lebih sehat. Sorgum selain dapat digunakan untuk bahan pangan juga dapat digunakan untuk pakan ternak karena mengandung gizi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dedak yang dihasilkan dari padi. Sehingga kita bisa membuktikan secara praktis , sorgum ini tidak ada sisa atau byproduct. Bahkan batang sorgum dan daunnya juga berguna bagi para petani untuk kompos dan pakan ternak.

Sorgum Merah. Dikembangkan Yayasan Odesa Indonesia. Benih pertama berhasil pada bulan Mei 2019. Kemudian ditanam di ladang Oray Tapa yang akan panen bulan Desember 2019.

Sorgum bisa mendukung pertanian ramah lingkungan selagi diterapkan dengan sistem polyculture. Bahkan di Cimenyan Kabupaten Bandung, karena kontur tanam berubah-undak sempit, sorgum perlu disandingkan dengan hanjeli. Tanaman lain bisa berderet berjajar bersama sorgum tanpa problem.

Kami sering eksperimen juga petani kita anjurkan menanam sorgum beberapa ratus di sekitar tanaman sayuran atau tanaman lain, termasuk di kebun kopi. Dan hasilnya bagus. Selain tetap panen sayuran, mereka juga panen sorgum sekalipun hanya puluhan kilogram.

Sorgum harus didorong untuk berkembang meluas. Bumi kita subur dan beragam tanaman bersanding dengan sorgum adalah cara yang menguntungkan para petani. Prinsip kami di Yayasan Odesa Indonesia dalam hal pertanian sorgum ini adalah menjalankan subsistence crops dan cash crops. Bertani secara praksis untuk sumber pangan keluarga dan sekaligus untuk tujuan ekonomi. Tidak hanya itu, industri pasca panen ( post harvesting) juga kita kembangkan melalui peralatan mesin yang sedang kami bangun. []

Semua Bacaan Sorgum Odesa Indonesia ada di Link Pertanian Sorgum Odesa

Jual Beras Sorgum Putih Bandung

Jual Benih Sorgum (Putih)
Benih (biji) Sorgum putih. Kemasan 30gram (isi -+ 450 biji) Rp 30.000. Tersedia juga benih Hanjeli Beras dan Ketan.
Harga belum termasuk ongkos kirim. Pesan Hubungi Tlp/WA Admin 087700346275

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: