Kelor Diminati Warga, Pencurian Terjadi. Solusinya?

Kamis, Sore 21 November 2019, Mang Toha, Petani dari Mekarmanik datang ke sekretariat Taoci di Pasir Impun Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Ia meminta bibit kelor lagi kepada Yayan Hadian, Ketua Grup Pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci).

Salahsatu yang menjadi perbincangan sore itu adalah perihal hilangnya beberapa pohon kelor yang ditanam Toha.

“Edun, dicuri terus pohon kelornya. Dibongkar,” kata Toha.

Pencurian kelor ini sudah bukan wacana lagi di Yayasan Odesa Indonesia. Sejak tahun 2017 lalu sejalan dengan sosialisasi manfaat kelor untuk gizi dan pengobatan, dan seiring dengan pengalaman warga mendapatkan manfaat gizi kelor, masyarakat di desa Cikadut dan Mekarmanik sangat membutuhkan kelor. Di Desa Cikadut dulu sering banyak orang memetik daun kelor tanpa izin.

“Mereka itu memetik tanpa izin karena alasan malu meminta,” kata Yayan Hadian.
Mengapa malu, “ karena minta daun terus-terusan,” lanjut Yayan.
Mengapa terus-terusan meminta daun,” karena mereka merasakan manfaat untuk kesehatan,” kata Yayan.

Mereka mencuri kelor bukan karena motif ekonomi karena hanya digunakan untuk pengobatan. Yang membuat Yayan dan kawan-kawan di Taoci dongkol bukan karena kehilangannya, tetapi karena masalah moral dan kerusakan pohonnya.

“Kalau memetik mestinya pakai aturan, bukan asal samber sehingga merusak batang,” keluh Yayan Hadian.

SEORANG PETANI LEMAH JANTUNG KINI SEHAT BERKAT DAUN KELOR


Perlahan masyarakat di Cikadut sekarang tidak mencuri kelor lagi. Karena Yayan Hadian aktif membagikan bibit ke petani. Siapapun petani di Cikadut yang butuh kelor boleh mengambil, dengan syarat serius ditanam dan dirawat. Tujuannya supaya kalau ada yang sakit tidak usah repot-repot mencari daun kelor ke tempat lain dan tidak mencuri lagi. Bulan Oktober dan November ini, Yayan Hadian membagikan lebih 1000 bibit untuk Desa Cikadut untuk ditanam di pekarangan, dan 7.000 bibit ditanam di ladang.

Nah, di Kawasan Pertanian Mekarmanik, Toha sekarang sedang mengalami masalah yang pernah menimpa Yayan Hadian dan kawan-kawannya. Sering orang memetik daun kelor dari kebun Toha tanpa izin, bahkan belakangan puluhan pohon kelor hilang diambil dengan akarnya.

Menghadapi masalah itu, Toha hanya tertawa. Bahkan sore itu juga pihak Yayasan Odesa Indonesia sekalian membekali Toha dengan brosur manfaat kelor. Puluhan brosur akan dibagi, supaya masyarakat semakin paham manfaat daun kelor. Dan yang terpenting lagi harus ada usaha pembagian bibit lebih banyak lagi ke masyarakat di Mekarmanik. Yayan Hadian melaporkan hal tersebut kepada Didin Sudeni, sebagai pendamping pertanian Yayasan Odesa Indonesia di Kawasan Mekarmanik.

“Baik. Akan kita rancang program pembibitan khusus untuk mekarmanik supaya jumlahnya mencapai ribuan. Selama ini untuk desa mekarmanik bibit kelornya masih mengambil dari Cikadut. Segera akan kita programkan ribuan bibit kelor untuk mekarmanik. Dibagi gratis ke para petani, dan sebagian dijual ke warga kota untuk saling subsisi pembiayaan,” kata Didin.

Menurut Didin Sudeni, Pihak Yayasan Odesa Indonesia sebagai penggerak pertanian ramah lingkungan yang peduli kesehatan warga tidak menjadikan kasus pencurian kelor ini sebagai masalah kriminal. Justru Didin menyatakan bahwa hal itu merupakan keberhasilan sosialisasi manfaat tanaman.

“Kita hanya tertawa kalau mendengar pencurian daun kelor. Itu pertanda positif. Artinya masyarakat makin mengetahui manfaat kelor. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana para petani menolak kelor karena alasan yang tak rasional. Dengan merasakan langsung, mereka sangat antusias mengonsumsi kelor. Tinggal kita harus memperkuat gerakan budidaya-nya,” jelas pengusaha mobil Blazzer itu.[]

Daun Kelor Segar: Menanam untuk Mendapatkan Manfaat Gizi Terbaiknya

Memilih yang terbaik dari Daun Kelor

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: