Inilah Cara Hidup Maju di Lahan Terbatas

OLEH Basuki Suhardiman. Koordinator Pendampingan Ekonomi Petani Odesa Indonesia. Wakil Direktur Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi ITB.

Salahsatu problem mendasar kemiskinan adalah ketidakmampuan memanfaatkan peluang yang ada di lokasi terdekat. Orang miskin banyak kesulitan pendapatan ekonomi karena tiga faktor mendasar. 1). Kesulitan pekerjaan. 2) Pekerjaannya tidak mencukupi pemenuhan dasar hidup, 3) Pemborosan pengeluaran.

Bahkan pada orang tidak miskin sekalipun tani pekarangan layak dijadikan model hidup karena sayuran sehatnya sekaligus usaha meraih kebahagiaan dengan botani. Banyak orang yang hidupnya lebih bahagia karena mengurus botani, sebuah spesies yang secara genetis sama dengan manusia.


TANI PEKARANGAN MELAWAN KEMISKINAN

Kemiskinan itu bukan semata pendapatan yang sedikit, melainkan juga disebabkan oleh pemborosan. Mayoritas keluarga miskin menghabiskan separoh dananya (Antara Rp 400.000-5000.000) perbulan hanya untuk bahan pangan pokok, yakni beras. Selanjutnya konsumsi lauk-pauk menghabiskan antara Rp 240.000 hingga Rp 360.000 perbulan.

Tani pekarangan menciptakan peluang kerja guna memenuhi kebutuhan dasar hidup sekaligus mengurangi pemborosan dari pengeluaran dapur rumah tangga. Tani pekarangan juga berdampak pada dua manfaat besar, 1) Kultur produksi rumah tangga dan 2) Mendapatkan pangan bergizi dan lebih sehat.

Tidak semua orang miskin hidup dalam rumahnya sendiri. Bahkan rumahnya sendiri pun belum tentu ada pekarangan. Lebih parah lagi, seringkali orang miskin itu mengalami kekurangan air. Ini adalah masalah yang mudah muncul dalam setiap kita menggulirkan wacana. Tetapi sebenarnya jawabannya singkat, Tani Pekarangan tentu membutuhkan pekarangan. Karena pertanian membutuhkan air juga wajib ada airnya karena tanaman sebagaimana makhluk hidup lain membutuhkan air.

Dengan begitu, rumus tani pekarangan bagi kalangan keluarga miskin adalah golongan miskin yang memiliki pekarangan dan juga terdapat air. Lalu bagaimana dengan keluarga miskin yang tidak memiliki pekarangan dan air yang mencukupi? Jawabnya, tentu saja solusinya harus di luar tani pekarangan.

Dengan acuan berpikir strategis sekaligus simple seperti ini kita lebih enak menjalankan strategi gerakan. Masih banyak peluang gerakan ini diwujudkan karena terdapat banyak orang miskin yang memiliki pekarangan disertai air yang cukup. Tani pekarangan juga tidak sekaku menerapkannya di setiap area dekat rumah.

Manakala terdapat lahan kecil di pinggir kampung yang kosong, mestinya bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Istilah pekarangan hanya mencacu pada unsur pemanfaatan lahan kecil, supaya produktif untuk ekonomi (minimal memangkas pemborosan belanja rumah tangga), dan menyegarkan lingkungan.

Tani pekarangan harus menjadi kekuatan penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.

Orang-orang yang tidak miskin pun harus mengondisikan gerakan ini sebagai gerakan teladan. Bahkan sebaik-baiknya sumber pangan, apalagi manarget gizi dan kesehatan, mesti sadar bahwa tani pekarangan adalah mutlak perlu dijalankan. Dengan memanen sayur secara langsung kita akan dapatkan sumber makanan sehat bergizi karena kita bisa menanam tanpa kimia dan lebih terkontrol kebersihannya.

Selama ini kita hanya memahami bahwa sayuran adalahsumber pokok gizi sehingga harus makan sayur. Tetapi kita abai bahwa banyak dari gizi sayuran yang telah tereduksi akibat kandungan pupuk kimia, debu, bahkan kotoran. Sayuran yang sering kita makan beralih dari tangan ke tangan, berpindah dari tempat ke tempat yang kita tahu tidak menjaga kesehatan.

Mencuci adalah solusi, tetapi tidak menyelesaikan masalah pengurangan kandungan gizi dari proses yang tidak sehat itu. Tani pekarangan menghasilkan sayuran segar berkala, berantai terus menerus dan itu membuat kita lebih merdeka dalam mengonsumsi karena kita tidak lagi membayar dari panen.

Bahkan jika melimpah panen, kita bisa menjualnya ke warung terdekat. Itu artinya masyarakat sekitar kita juga akan mendapatkan limpahan sumber gizi yang lebih baik ketimbang mendapatkan sayuran dari tempat-tempat jauh yang sudah layu.

MANFAAT TANI PEKARANGAN

Terapkan Tani Pekarangan, terutama untuk keluarga miskin yang memiliki pekarangan. Sebab dengan memiliki kebun sendiri kita akan dapat manfaat.

1) Mengurangi konsumsi belanja harian setidaknya antara 8-15 ribu( Rp 240.000-360.000 perbulan).

2) Mendapat sayuran segar yang gizinya lebih baik ketimbang sayuran dari luar daerah.

3) Jika surplus bisa didorong untuk nilai tambah penghasilan, atau minimal bisa berbuat baik dengan berbagi kepada tetangga atau saudara.

4) Pekerjaan tani pekarangan tidak mesti mengganti pekerjaan tetap. Memanfaatkan 1 jam pagi hari dan 1 jam sore hari serta mengurus setengah hari pada setiap akhir pekan bisa dilakukan.

Penuhi air di musim kemarau. Nikmati berkebun tanpa menyiram di musim hujan. Pupuk tanpa kimia, cukup dengan pupuk kandang berkala setiap 2 bulanan.

Beragam jenis sayuran bergizi dengan mudah kita tumbuhkembangkan, bahkan hanya dengan pupuk sederhana model petani.

Mari bertani, berbudidaya karena itu merupakan gerakan kebudayaan yang akan membawa kita kepada perubahan perilaku hidup ke arah yang lebih sehat dan produktif. Membangun kebudayaan dari rumah tangga sama dengan membangun peradaban di masyarakat.[]

TANI PEKARANGAN EFEKTIF MENGHASILKAN EKONOMI KELUARGA Hitungan Ekonomi Tani Pekarangan

KESADARAN MENGOLAH LAHAN PEKARANGAN Mengolah Lahan Sekitar Rumah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: