Herry Dim: Penghijauan Harus Melibatkan Petani

Pelukis dan Pegiat Lingkungan Herry Dim menilai, banyaknya kegiatan penghijauan di Indonesia masih dilakukan sebagai kegiatan basa-basi. Pasalnya, aksi penghijauan yang kebanyakan dilakukan oleh pemerintah itu tidak melibatkan unsur petani.

Kegiatan Agroforestry di Oray Tapa melibatkan siswa sekolah. Hadir para dosen, seniman, pegiat sosial. Juga hadir Komandan Sektor 22 Citarum Harum Kolonel Inf. Asep Rahman Taufik

Padahal petani memegang kendali utama dalam menjamin kegagalan atau kesuksesan. Misalnya di Kawasan Bandung Utara. Menurut Herry Dim, lahan-lahan kritis yang digarap petani mestinya hijau karena petani setiap waktu berurusan dengan budidaya. Sementara usaha penghijauan dari pemerintah biasanya mengalami jalan buntu.

“Bibit dari pemerintah sering turun ke petani. Tetapi petani hanya menerima instruksi tanpa mempertimbangkan jenis tanaman dan tujuan untuk menghasilkan panen. Belum lagi petani tidak diberikan jaminan soal bagaimana pemasaran hasil panennya. Dari situlah tanaman keras yang dibagikan kepada petani tidak berkembang karena petani malas mengurus tanaman yang tidak diminatinya,” kata Herry Dim saat berkegiatan menyatukan warga kota dengan para petani di Bukit Oray Tapa Kawasan Bandung Utara.

Di perbukitan tersebut, Kamis, 28 November 2019 bertepatan dengan Hari Menanam Pohon, Herry Dim mengajak solidaritas warga Kota untuk berjumpa dalam aksi menanam pohon buah, juga menanam kelor (moringa oleifera). Ada bantuan bibit nangka, sukun, jeruk, alpukat, durian, kelor, dan beragam jenis tanaman lain.

Terdapat beberapa komunitas yang hadir di sana, antara lain Blazer Indonesian Community (BIC) Sapagodos Rayon Bandung, Aliansi Bandung Cinta Damai, Koperasi KUKAMI, Odesa Indonesia, Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani), Petani Kelor Cimenyan, Petani Peduli Bandung Utara,. Pada kegiatan tersebut juga hadir rombongan Siswa Sekolah Cendekia Leadership Awiligar Bandung yang bergiat mempelajari tanaman dengan praktik bersama petani di Bukit Oray Tapa.

Herry Dim. Pelukis Kenamaan Bandung itu aktif mendorong warga kota bergiat bersama petani.

Herry Dim menyampaikan, bahwa masalah Kawasan Bandung Utara pada pertanian masih mungkin diperbaiki setahap demi setahap jika melibatkan para petani. Petani tidak sepenuhnya suka menanam sayuran secara monoculture. Dari pengalaman Odesa Indonesia, tempatnya Herry Dim mengorganisir petani, banyak petani yang mengingginkan bibit tanaman buah. Telah banyak pula bukti bahwa tanaman jeruk, durian, jambu, sukun, dan juga tanaman keras penghasil panen seperti kelor menghasilkan panen.

“Kalau Bandung Utara ingin keluar dari situasi buruk, kita semua harus menyatu dengan petani. Ada jutaan bibit yang dibutuhkan dan masih mungkin petani menanam dan merawatnya. Kita tidak perlu menyerukan berhenti menanam sayuran karena itu merupakan sumber pangan kita semua. Yang perlu dilakukan adalah menambah jenis tanaman buah, termasuk mendorong petani menanam kelor, sorgum, hanjeli sebagai sumber gizi penting kita semua,” terang Herry Dim.

Pada kesempatan itu Herry Dim juga menyampaikan apresiasi kepada Pihak Sekolah Dasar dan Menengah Cendekia Leadership School dari Awiligar Bandung yang telah menyatu dalam kegiatan. Dari kegiatan anak-anak belajar beberapa hal yang penting, seperti mengenal jenis tanaman, mengenal masalah erosi, dan mengetahui tentang gizi baik dari tanaman kelor.

“Adik-adik kita telah menanam harapan. Jika pohon ditebang berarti kita menebang harapan yang baik itu. Mari kita rawat,” kata Herry Dim kepada para petani. []

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: