Seorang Petani Lemah Jantung, Kini Sehat Karena Rajin Minum Kelor

Bertahun-tahun nafas Dedi Ading, 49 tahun, dirasakan tidak normal. Nafasnya kurang lancar. Sesekali normal sendiri. Tetapi kala waktu tertentu ia sesak kembali. Puncaknya, pertengahan tahun 2017 lalu, ia sering merasakan mual dan badan menggigil. Terkadang disertai batuk. Dan yang sangat menganggu, fisiknya terus melemah sementara ia harus bekerja di ladang menghidupi keluarganya.

Petani asal Kampung Cikored, Desa Mekarmanik Cimenyan Kabupaten Bandung itu, di awal tahun 2018 memeriksakan sakitnya ke puskesmas Pasundan di Sindanglaya Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Dari Puskesmas itulah Dedi mendapat informasi tentang keadaan sakitnya. Ia kaget karena ternyata jantungnya lemah. Beberapa hari setelah keadaannya sedikit membaik ia bertemu Toha, Ketua Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani), sebuah organisasi grup pertanian di bawah Yayasan Odesa Indonesia. Maksudnya meminta pekerjaan karena sudah lama tidak mendapat penghasilan.

Toha kebetulan sedang menanam kelor saat itu. Dan ia menganjurkan Dedi Ading untuk mengonsumsinya. “Makan saja secara rutin. Bisa disayur. Bisa juga direbus dan rebusannya diminum,” kata Dedi menceritakan pesan Toha.

Karena Dedi ingin sehat dan makan kelor bukan hal yang susah apalagi membayar, ia lakukan itu. Ia diberi daun kelor oleh Toha, dan setiap hari sehabis pulang kerja, Dedi membawa kelor.

“Setengah bulan sejak minum badan tidak menggigil lagi. Beban nafas mulai berkurang. Makin segar ya saya minum rebusan daun kelor terus tanpa henti. Setiap pagi dan sore 1 gelas. Setelah 30 hari minum kelor, badan saya terasa normal lagi,” terangnya dengan penuh ekspresi kegembiraan menceritakan kepada odesa.id, Kamis 17 Oktober 2019 di ladang kebun Oray Tapa.

“Saya akan menanam kelor lebih banyak tahun ini. Setelah musim hujan nanti dan akan mengajak petani lain ikut menanam,” ujarnya bersemangat.

Pengalaman Dedi Ading tersebut bukan yang pertamakali sejak Yayasan Odesa Indonesia menyebarkan pengetahuan dan pertanian Kelor di masyarakat Cimenyan Kabupaten Bandung. Telah banyak pengalaman dari praktik konsumsi kelor yang mampu menolong orang dengan beragam sakit. Ada yang sakit stroke, diabetes, asma, minim Air Susu Ibu, hingga masalah kolesterol.

Satu hal yang patut dicatat dalam pengalaman Dedi Petani Cikored tersebut, bahwa ternyata pada awal tahun 2017 lalu, Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Odesa Indonesia pernah mengambil bibit kelor dari pohon Kelor di salahsatu keluarga di Cikored. Waktu itu Budhiana sedang merintis pembibitan awal dan sekaligus mensosialisasikan kelor sebagai salahsatu tanaman bergizi. Namaun adanya pohon kelor tua di Cikored tersebut nyaris tidak berguna. Batang-batangnya sering dibuang dan daunnya hanya sering digunakan untuk pakan domba semata tanpa pengetahuan manfaat gizi bagi manusia dan penghijauan.

Pengetahuan ternyata lebih menentukan. Dengan pengetahuan itu masyarakat jadi tahu manfaat sebuah tanaman yang sebelumnya diabaikan. –Rizki.

Aksi Amal untuk Lingkungan Pertanian Ayo Dukung dengan Donasi Hijau untuk Petani

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: