Sehari Bersama Pak Kiai di Kebun Taoci

Menggali dan berbagi adalah prinsip hidup pada diri KH. Abdul Muhaimin. Di usianya yang ke 68 tahun ia pun tetap semangat menyelami kehidupan, apalagi jika urusannya adalah gerakan. Kehadirannya di Yayasan Odesa Indonesia Bandung Minggu 6 Oktober 2019 benar-benar ia gunakan untuk kegiatan keilmuan. Sehari di kawasan pertanian Tanaman Obat Cimenyan (Taoci), ia bersua dengan pengurus Yayasan Odesa Indonesia, petani muda, dan juga menyempatkan menjadi fasilitator belajar anak-anak petani desa.

“Saya ini orang pergerakan sejak tahun 1960. Jadi urusan gerakan seperti Odesa ini sangat menarik karena berkhidmat untuk warga lapisan bawah secara serius. Apalagi urusannya pertanian, juga masalah air,” terang Ulama Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kota Gede Yogyakarta ini kepada Odesa.id.

Berkegiatan sehari semalam di Odesa Indonesia, Kiai yang dikenal sebagai budawayan dan gerakan kerukunan antar umat beragama ini bertemu dengan para pengurus Yayasan Odesa, Herry Dim, Basuki Suhardiman, Faiz Manshur, Enton Supriyatna dkk.

kh-muhaimin-di-kebun-taoci
KH. Muhaimin sedang menerangkan manfaat bunga matahari kepada para petani muda, (dari kiri) Misbah, Jajang, dan Huda. Selain bermanfaat untuk penyerbukan, bunga tersebut bisa juga digunakan untuk bahan baku parfum, Minggu (6/10/2019).

Malam Minggu ia berdiskusi dengan pengurus Odesa hingga larut malam. Pagi hari ia memberikan wawasan pendidikan kepada anak-anak petani desa dengan penguatan materi dunia internasional, cita-cita dan pengetahuan seputar kehidupan pesantren. Siang harinya, Kiai Muhaimin mendampingi para petani muda berkebun dan memberikan semangat untuk melakukan perubahan sosial.

BACA JUGA: Perubahan Cepat, Relasi Sosial Mesti diperbaiki

“Kita ini hidup di negeri subur, tapi kenapa banyak pengangguran dan hidup tidak kunjung membaik, itu karena dua hal. Pemerintah tidak responsif terhadap potensi alam, masyarakat kita juga tidak inovatif. Padahal kalau berpikir sungguh-sungguh, segala peluang ada dalam setiap jengkal tanah kita,” kata Muhaimin.

Semua yang disampaikan Kiai Muhamimin adalah ilmu berdasarkan pengalaman. Para petani dan relawan Odesa terlihat antusias saat mendengarkannya karena nyambung dengan setiap kegiatan yang dilakukan di Yayasan Odesa Indonesia. Ia menceritakan pengalamannya bergumul dengan ilmu pengetahuan meski pendidikan formalnya hanya berhenti di Sekolah Rakyat (setingkat dengan SD). Ia rela kehabisan uang untuk membeli buku dan selalu membawa buku ke mana pun.

KH. Muhaimin didampingi para pengurus Odesa Indonesia saat menyambangi kebun Taoci (Tanaman Obat Cimenyan).

Namun, kegiatannya tidak hanya sampai baca buku. Ia terjun ke masyarakat langsung. Melayani orang sebagaimana kiai-kiai pesantren. Di sini ia menerangkan bagaimana pesantren sebagai ruang pendidikan yang mampu menyebarkan nilai-nilai pada generasi muda. Sehingga menjadi agen perubahan sosial.

“Santri itu tidak disuruh pesantren untuk jadi spesialis, ia diajarkan agar bisa menyelesaikan masalah di kampung halamannya masing-masing,” imbuhnya.

Murid-murid Sekolah Samin (Sabtu-Minggu) Odesa sangat antusias menyimak pembicaraan KH. Muhaimin, ia berbagi pengalaman bersama anak-anak tentang Indonesia maupun kehidupan di luar negeri.

Misi santri untuk melayani masyarakat ini sebagaimana yang kiai sampaikan soal “Ulul Albab”. Istilah yang diambil dari Quran itu ditafsirkannya sebagai sosok orang yang tidak ada hal lain di pikirannya kecuali untuk membantu orang lain. Menurutnya, nilai inilah yang sedang diamalkan oleh para pemuda di Odesa.

BACA JUGA: Tiga Komponen Pengabdian Sosial untuk Orang Miskin

“Saya senang berada di tengah-tengah pemuda seperti kalian ini.”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: