Salman ITB Mengusung Ide Peradaban. Kata Ketua Odesa, Aneh Kalau Tidak Tanam Pohon

Yayasan Odesa Indonesia menyampaikan masukan kepada Yayasan Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) agar bersedia mengambil peran dalam bercocok tanam. Hal itu disampaikan oleh Ketua Odesa Indonesia Faiz Manshur dengan pertimbangan Salman telah berani mengambil gagasan “meneguhkan jati diri masjid sebagai pusat peradaban.”

“Salman mengambil gagasan Peradaban. Kalau mau serius membangun peradaban, maka harus komitmen dalam urusan menanam pohon. Sebab fakta sejarah pembangunan peradaban, selain kuat dalam literasi, tak pernah lepas dari urusan gerakan tanam atau pertanian. Islam boleh bangga dengan memunculkan istilah peradaban yang diakui dunia, tetapi kebanggaan itu harus dalam bentuk amal, tindakan nyata,” kata Faiz Manshur dalam Seminar yang digelar di Aula Komplek Masjid Salman ITB, Sabtu, 12 Oktober 2019.

Di hadapan ratusan peserta tersebut Faiz Manshur juga menyertakan kajian sejarah tentang masjid dengan semangat membumi dalam kebersamaan. Menurut Faiz, masjid sebagai tempat sujud punya spirit untuk tunduk, taat, patuh kepada Tuhan. Menyatukan kepala, menyatukan pikiran dan tindakan secara membumi dan dari situlah kerja peradaban adalah mengurus tanah. Sebelum shalat juga butuh wudlu artinya ada urusan dengan air dan kehidupan yang sehat mensyaratkan udara yang sehat.

“Menanam pohon berarti kerja peradaban karena dengan begitu oksigen akan kita dapatkan. Menanam pohon berarti pula menyehatkan tanah karena karena dengan pohon air akan terjaga. Jadi itulah kerja keadaban yang konkret. Aneh kalau Masjid Salman punya ide peradaban tapi tidak mau menanam,” terangnya.

Peradaban dibangun dari pertanian menurut Faiz Manshur merupakan fakta yang tak terbantahkan karena setiap bangsa yang kuat peradabannya selalu kuat dalam urusan pangan atau pertaniannya. Di dalam Makalahnya, Faiz menulis;

“Semua peradaban besar dibangun di atas fondasi pertanian yang kuat. Berawal dari penanaman lahan subur di antara Sungai Tigris dan Eufrat, berdirinya Mesopotamia merupakan contoh kebutuhan dasar produksi pertanian dalam peradaban mana pun. Pertanian memainkan peran penting dalam perkembangan Amerika Serikat. Para penjajah membawa serta keterampilan mereka bercocok tanam di lahan dengan tujuan tertentu. Peristiwa-peristiwa penting terkait pertanian telah membentuk perjalanan Amerika Serikat, termasuk Revolusi Industri, Depresi Besar, Badai Debu, dan Revolusi Hijau,” jelasnya.

Secara garis besar, kriteria bangsa berperadaban biasanya ditandai oleh empat hal, yakni 1) Kekuatan budidaya Pangan, 2) Kekuatan Ternak atau satwa, 3) Kekuatan Literasi dan 4) Kekuatan Teknologi.

Atas dasar alasan itu Faiz Manshur mendorong Yayasan Salman Masjid ITB agar serius dalam menyelamatkan lingkungan, membantu para petani agar mengembangkan banyak tanaman, dan para teknokrat ITB agar berkontribusi kepada kelompok fakir miskin dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

“Saya mengharapkan agar Program Masjid Salman ITB ini tidak hanya bekerja berburu doktor. Masih banyak anak petani di dekat kota Bandung yang butuh beasiswa agar bisa lulus SMP dan SMA. Doktor ada gunanya. Tapi gunanya untuk apa? Itu tantangan,” ujar Faiz blak-blakan.

Faiz menyampaikan hal tersebut karena melihat bahwa para petani miskin di desa-desa, bahkan sangat dekat dengan Masjid Salman ITB, tetapi tidak pernah mendapat solusi praktis padahal urusannya terkadang kecil. Karena itu Faiz mendorong alumni ITB agar membuatkan teknologi pertanian kecil yang efisien untuk petani.

“Masak cangkul impor? Alumni ITB mestinya membuatkan cangkul model baru yang efisien untuk petani. Alumni ITB juga perlu membuat pengolahan pupuk skala rumah tangga. Membuat teknologi yang tepat dan berguna bagi petani miskin,” terangnya.-Abdul Hamid.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: