Pancasila dalam Gerakan Odesa Indonesia (1)

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia.

Hari ini, Jumat, 18 Oktober 2019, saya kedatangan dua mahasiswi dari Universitas Al-Ghifari Kota Bandung. Mereka datang dengan maksud mengetahui gerakan Yayasan Odesa Indonesia terhubung dengan Pancasila. Bagaimana praktik Odesa Indonesia berkaitan dengan kepancasilaan? Itu pertanyaan mendasar yang diajukan untuk bahan wawancara.

Kalau urusan Pancasila, saya semangat melayani, bahkan menuliskannya pada website ini. Sebab, awal keberangkatan Odesa Indonesia itu lahir dari semangat republikanisme -yang pada tahun 2013 lalu kami bangun melalui diskursus Civic Islam. Amal kewargaan berbasis keagamaan itu juga terikat dengan kepancasilaan. Semangat keagamaan tentu tidak mengurangi semangat kami dalam bernasionalisme.

Sekalipun ide dasarnya berangkat dari pemikiran keagamaan Civic Islam, tetapi pada praktik sekarang menjadi gerakan Odesa Indonesia atau berwatak nasionalis (Civic-Indonesia). Setidaknya ada dua karakter jika ingin memahami gerakan Odesa Indonesia 1) kesadaran akan multikulturalisme (basis kebhinekaan pancasila), 2) Pembelaan terhadap kaum marjinal (Basis keadilan sosial pancasila).

Keanekaragaman Hayati dan Bhineka Manusia
Pluralisme, multikulturalisme, keragaman, keberagaman, hubungan lintas sektoral merupakan dasar kerja keorganisasian Odesa Indonesia. Sedangkan Bhineka Tunggal Ika kami jadikan dasar gerakan kewarganegaraan. Pada usaha pembumian gerakan di lapangan, kami menemukan pertautan antara kewargaan dan kewarganegaraan bersenyawa dengan praktik pertanian ramah lingkungan yang berpjak pada prinsip keanekaragam hayati (biodiversitas).

Kehidupan saat ini telah banyak mengalami kerusakan karena keanekaragaman hayati digerus terus menerus. Sementara kita sadar, usaha penyelamatan pangan, lingkungan, bahkan kemanusiaan itu sendiri harus mengarah pada sistem kerja alam. Agroforestry atau wanatani misalnya, menjadi model penting usaha penyelamatan hidup. Keanekaragaman hayati harus ditegakkan, dan keberagaman dalam hidup manusia juga harus dijaga.

Dalam keanekaragaman hayati, sesungguhnya ada semangat “deliberasi” antar tanaman, antar satwa dan manusia yang akan menghasilkan kebaikan hidup. Masing-masing rumpun botani dan spesies saling bergantung, tolong menolong berjalan dan tidak ada yang dirugikan. Kehidupan yang baik pada tanaman akan menimbulkan kebaikan pada hewan/satwa, dan kebaikan tanaman dan hewan juga akan membuat baik manusia serta lingkungan hidup.

Demikian juga dalam usaha pembumian Pancasila di desa-desa. Semangat berkebaikan antar individu harus diwadahi dalam komunitas dan antar komunitas harus sadar saling membutuhkan. Pancasila dalam pandangan Odesa Indonesia tidak semata merawat kebhinekaan antar penghuni warga, melainkan harus mengarah pada goal/tercapai-nya kemakmuran bersama spesies lain serta terjaganya lingkungan hidup.

Problem dalam bangsa Indonesia (pancasila) seperti radikalisme, kemiskinan, keterbelakangan semuanya akibat ketimpangan pembangunan. Pembangunan yang tidak adil (alias tidak memperhatikan rakyat jelata) adalah akar persoalan kehidupan berbangsa. Banyak praktik politik kepartian dan birokrasi yang tidak memiliki kesadaran saling menguntungkan antar sesama sehingga memunculkan kecemburuan, bahkan amarah satu sama lain.

Banyak orang mudah makmur di zaman modern ini, tapi jangan lupa banyak pula orang sengsara akibat modernitas yang tak memperhatikan mereka yang marjinal. Banyak sekali pembangunan yang terus dilakukan dengan berulang-ulang, sementara lebih banyak kawasan yang tak diperhatikan pembanggunannya. Banyak pembangunan infrastruktur bersifat makro, sementara orang miskin di pelosok tidak menikmati karena mereka tidak diberikan jatah pembangunan infrastruktur mikro di level rumah tangganya seperti sarana air bersih.

Odesa Indonesia bekerja untuk sila ke lima pancasila

Odesa Indonesia menaruh perhatian besar pada sila kelima (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Berada di balik slogan itu, kami ingin mengawal keadilan sosial mengurus keluarga petani kecil, kaum marhaen, bahkan sebagian proletariat, hingga lumpen proletar di pinggir kota Bandung.

Keadilan sosial kami pilih karena itu lebih utama dalam mengawal kepancasilaan ketimbang memilih keadilan hukum. Keadilan hukum perlu ditegakkan, semoga terus ada yang berkiprah di sana, sementara kami akan fokus mengambil “lahan” garapan keadilan sosial; memihak kaum papa di bidang pertanian yang nota-bene merupakan produsen pangan sekaligus subjek bagi penjaga lingkungan. Pilihan ini sangat penting karena demokrasi republikanisme dalam pandangan kami harus bekerja secara etis-substansial, mewujud sebagai tindakan konkret mengondisikan para warga agar serius bergerak mewujudkan kebaikan dalam ruang komunitas.

Dengan adanya komunitas yang penuh dengan partisipatif, warga juga perlu didorong untuk bertindak deliberasi yang total, siap bertemu dengan anekaragam komunitas sosial, siap menemui perubahan zaman, siap “bergantung” dengan komunitas lain, dan siap “digantungi” komunitas lain. Kepentingan-kepentingan yang baik harus ditautkan. Antara orang kota dan desa harus saling mengisi.

Para dosen yang aktif Odesa Indonesia punya kesadaran lebih untuk berbagi ilmunya di luar tugas formal di menara gading. Mereka sadar tidak etis hanya mau mengajar di kampus, sementara petani di desa-desa membutuhkan kiprah dengan ilmu dan pendampingannya. Seorang pengajar yang pancasilais sejati dalam urusan pengabdian masyarakat tak etis jika hanya melakukan kerja pengabdian karena tekanan birokrasi semata, melainkan harus bekerja dengan kesadaran penuh sebagai pelayan masyarakat dengan mengusung etika berderma dengan ilmu pengetahuannya. Kalau seorang pengajar hanya mau mengajar karena honor, apa bedanya dengan kuli kontrak?

Para teknokrat tidak boleh hanya bisa bekerja urusan teknologi tinggi, karena petani di desa-desa membutuhkan teknologi kecil tepat guna yang diharapkan mampu mengefisienkan kerja. Kalau teknokrat hanya mampu bekerja sebagai karyawan perusahaan, apa bedanya dengan buruh upahan lain? Teknokrat yang pancasilais mesti mampu membawa misi perubahan sosial. Teknokrat yang berguna bagi bangsa dan negara adalah mereka yang memiliki semangat hidup kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya ia bukan sekadar sukses melakoni karir sebagai teknokratnya, tetapi teknologinya harus untuk memajukan kemanusiaan, terutama bagi kaum papa. Ia harus sadar bahwa kesuksesan dirinya belum adil kalau belum berbagi, dan hanya akan menjadi manusia yang beradab kalau teknologinya mampu mengubah keadaan keterbelakangan menjadi kemajuan; mengubah keadaan tidak manusiawi menjadi manusiawi. Teknologi cangkul, teknologi air, teknologi sampah, perabot rumah tangga dan lain sebagainya sangat dibutuhkan petani di desa-desa.

Kaum jurnalis yang pancasilais juga tidak boleh menyia-siakan kemampuannya. Kemampuan menulis itu jarang dimiliki oleh orang Indonesia. Kalau yang ditulis hanya urusan tidak penting sebaiknya ditinggalkan. Gosip dan urusan rating atau viral adalah situasi yang instan dan tidak banyak bermanfaat bagi kehidupan kita. Lebih baik kita menulis tentang realita-realita buruk di masyarakat dan mewartakannya agar kita bisa mengubah keadaan tersebut. Kalau ada kabar baik yang inspiratif dari desa-desa juga harus diwartakan supaya orang desa menemukan jalan partisipasinya ke dalam jaringan luas pemberitaan. Menulislah dengan semangat perubahan, mengubah keadaan kaum papa di desa-desa. Baca Juga

Jurnalisme untuk Menjawab Ketidakadilan Sosial

Kerja penelitian sosial mestinya mengubah keadaan sosial, bukan sekadar mengubah nasib keadaan sang peneliti. Slogan bermanfaat bagi masyarakat harus dibuktikan dengan menancapkan prinsip kerja amal nyata. Apapun metode dan sasarannya mestinya membawa semangat kerja etnografi sehingga penelitian itu benar-benar mampu memperbaiki keadaan masyarakat. Proyek penelitian sebatas meneliti hanya akan membuat kita egois untuk karir kita sendiri, sementara masyarakat yang menjadi sasaran penelitian hanya menjadi objek semata tanpa pernah mendapatkan perubahan yang berarti. Peneliti yang pancasilais sejati mestinya mengutamakan kerja untuk mendukung perubahan sosial di masyarakat.

Demikian juga dengan siapa saja, warga yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih, semestinya harus menaruh keadilan untuk kaum papa. Banyak pakaian layak pakai yang masih bisa dibagikan untuk warga petani miskin. Lakukan itu. Jangan ditimbun. Banyak dari kita yang kelebihan makanan sehingga sibuk memilih kuliner sampai-sampai obesitas karena kecanduan junk food, sementara di desa-desa banyak orang mengalami kurang gizi. Anak-anak kita mungkin sepele urusan belanja buku dan alat belajar, tetapi anak-anak petani desa sangat kekurangan. Bahkan urusan sepatu dan seragam menjadi problem rumah tangga petani desa. Kita yang memiliki harta berlebih tidak boleh menggunakan untuk kemewahan (melampaui kebutuhannya) sementara saudara-saudara kita di perdesaan hidup serba kekurangan.

Princess Megonondo, Miss Indonesia 2019. Bekerja mengabdi untuk kaum papa di Cikawungsari Baleendah Kabupaten Bandung; melayani anak-anak dengan literasi, membangun sanitasi warga dan juga mengurus sampah bersama Odesa Indonesia Agustus hingga Oktober 2019

Bergiat mewujudkan keadilan sosial di desa, dengan subjek para petani berpendidikan rendah adalah sebuah kegiatan yang sangat menarik. Kami menemukan sejuta kebaikan, sekaligus sejuta keburukan. Ada banyak kebaikan yang harus diorganisir bahkan tanpa perlu melawan keburukan. Jika kita mampu mengorganisir kebaikan, ternyata sebagian besar keburukan itu akan berkurang. Ketika kami mampu membangun kepercayaan kepada warga untuk banyak kegiatan sosial, warga menjadi semangat bergotong-royong. Padahal sebelumnya mereka sangat individualis.

Orang-orang berpendidikan memang harus mengajar pada mereka yang kurang berpendidikan. Tetapi saat terjun di lapangan, faktanya kita banyak mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat kaya dari beragam corak dan beragam laku manusia yang tidak berpendidikan. Ada yang miskin tapi baik hati. Ada pula banyak orang miskin yang mentalnya buruk. Ada orang kaya hidup individualis di tengah-tengah kemiskinan dan tidak bahagia, ada pula orang kecil yang hidupnya gemar berderma dan lebih bahagia.[Berlanjut]

Herry Dim: Seni Mengatasi Ketidakadilan Sosial

Satu tanggapan untuk “Pancasila dalam Gerakan Odesa Indonesia (1)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: