Miss Indonesia dan Bunuh Diri Kelas Selama 3 Bulan

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia.

Rabu, 23 Oktober 2019. Menjelang magrib itu, saya memasuki kampung yang padat di Kecamatan Baleendah. Ini kedatangan saya yang keempatkalinya mengontrol aktivitas relawan Odesa. Ada kegiatan penting di sini. Miss Indonesia, Princess Megonondo di bawah Yayasan Miss Indonesia dan tim kerja MNC/RCTI setiap pekan bergiat sosial dini kampung Kawung Sari Girang, Kelurahan Wargamekar kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung.

Odesa Indonesia menjadi bagian kerja dalam program Beauty with a Purpose (BWAP). Program ini merupakan kewajiban seorang Miss di sebuah negara yang hendak tampil di ajang Internasional (Miss World).

Tentang BWAP bisa dibaca di Tentang BWAP

Kerjasama Program BWAP ini untuk yang keduakali, setelah sebelumnya Miss Indonesia 2018, Alya Nurshabrina, mengambil pelaksanaan program selama tiga bulan (Agustus-Oktober) di Cimenyan Kabupaten Bandung untuk ajang Miss World Desember 2018. Video BWAPnya meraih peringkat 2 Internasional.

Lihat Video Kegiatan Sosial Miss Indonesia 2018 Alya Nushabrina Cimenyan Bandung

Princes Megonondo Miss Indonesia 2019 saat bergiat membangun biogas dan pengolahan sampah Baleendah Bandung Oktober 2019-

Malam itu, spesial bagi kampung ini. Lebih 80 anak-anak desa, Ibu-ibu wali siswa kegiatan literasi dan bapak-bapak yang selama 3 bulan bergotong-royong itu menyatu di area persawahan yang kering. Di sudut kampung padat yang penuh sampah itu, mereka mendirikan perkemahan untuk kegiatan literasi anak. Dan satu hal yang unik adalah aksi teman-teman kameramen RCTI yang menggelar tontonan film selama kegiatan amal sosial.

Selain menonton layar tancap, juga ada kegiatan menari bersama, penampilan pencak silat, dan sejumlah kegiatan yang menyenangkan. Malam itu harus semaksimal dibuat bahagia karena telah 3 bulan bekerja keras membangun dua RT di kampung yang padat sesak itu.

VIDEO KEGIATAN LITERASI PRICES MEGONONDO Kegiatan Sosial Miss Indonesia 2019 Bandung

Dukung Anak-Anak Petani Mendapat Pendidikan yang Layak

Anak-anak desa itu menonton hasil kerja para jurnalis. Mereka menonton kiprah mereka sendiri pada layar lebar setelah sebelumnya videonya juga tayang di RCTI dan Inews. Sekilas urusan ini sederhana karena mereka hanya masuk televisi. Namun sebenarnya hikmahnya tidak sesederhana itu. Bagi anak-anak desa yang hidup dalam lapisan bawah garis kemiskinan, tampil di layar televisi RCTI adalah pengalaman yang berguna yang didapat sejak masa awal pertumbuhan mereka.

Pengalaman terpentingnya tentu bukan semata mereka terkena syuting kamera, melainkan karena mereka mengikuti proses panjang kerja para jurnalis selama 3 bulan. Dengan pengalaman itu, sebagaimana yang telah kami rekam ceritanya dari proses kerja di Cimenyan tahun 2018 lalu, anak-anak mulai menyadari pentingnya proses kreatif terkait dengan televisi dan kerja jurnalis teks/news.

Selain memahami proses jurnalistik, mereka juga mengenal dekat dengan dunia jurnalisme hasil interaksi dengan para jurnalis. Ada Jimmy Yasin yang kocak. Ada Ade yang familiar terhadap anak-anak. Ada Arinda yang setiap senggang kegiatan menyempatkan interaksi edukatif terhadap anak-anak desa.

Sedangkan Khoiril Anwar dan Pungkit Wijaya yang bertugas berkomunikasi dengan warga setidaknya banyak memberikan pengalaman tentang model berhubungan dengan pihak luar dalam urusan sosial, termasuk urusan jurnalistik dengan arah tujuan tertentu disertai dengan ragam model proses kerjanya untuk meraih keberhasilan. Dan proses anak-anak serta ibu-ibunya dengan Princes Megonondo menjadi bagian penting dalam interaksi sosial.

Syuting kegiatan Miss Indonesia bukan semata syuting, apalagi jika dihubungkan dengan model syuting sinetron. Ada tekanan proses edukatif yang mendalam; urusan sampah, kesehatan, literasi, dan sikap keseharian, selama masa cukup panjang memungkinkan sebuah inspirasi untuk perubahan.

Dari proses panjang kerja tersebut, warga desa yang terlibat mendapat pengetahuan berbasis praktik tentang produksi. Tentu saja dampaknya bukan lantas mereka tiba-tiba menjadi wartawan, tetapi dengan pengalaman itu mereka telah mendapat wawasan kerja dengan profesi yang berbeda dan khususnya pada anak-anak ada semacam “kursus” produksi.

Princes Megonondo saat packing sabun untuk kegiatan edukasi kesehatan badan anak-anak Baleendah di Kantor Odesa Indoensia September 2019.

Hal lain dari keterlibatan kerja Miss Indonesia selama kurun waktu panjang dengan mengelola sampah, membersihkan selokan-selokan yang puluhan tahun kumuh, memberikan kegiatan literasi berulangkali dan termasuk menyuplay buku di dalam rumah pustaka adalah pengalaman baik yang tak terhingga bagi anak-anak terbelakang.

Belum lagi tentang pengetahuan mengelola hasil panen dari ikan. Pengemasan ikan dari kolam-kolam itu membuat puluhan petani merasakan pengalaman langsung usaha mengelola pasca panen. Mereka menjadi lebih mengerti pentingnya kebersihan produk yang hendak dijual, mengemas menjadi bersih dengan merek, dan dengan begitu mereka tumbuh percaya diri berjualan ikan di Bandung sebelumnya yang mengambil ikan dari kolam tanpa diproses langsung dibawa ke pasar dijual dengan harga tak menentu.

Ayo Dukung Bangun Toilet untuk Kesehatan Keluarga Petani

Demikian juga pada program praktik edukasi kesehatan terkait dengan sanitasi. Membangun sarana MCK bukan semata bernilai menyumbang material, melainkan lebih kepada usaha memberi teladan bagaimana semestinya MCK itu harus tertutup, air harus bersih dan rutin terpenuhi. Penggunaan tidak boleh boros, dan kebersihan lingkungan di sekitarnya harus dijaga. Air adalam sumber primer kedua setelah udara. Karena itu air harus memenuhi setiap manusia, bahkan makhluk hidup.


Praktik Perubahan Bersama

Setiap proyek disertai program. Itulah doktrin Odesa Indonesia dalam menjalankan misi pembangunan manusia. Orang-orang miskin memang butuh sarana infrastruktur, terutama sanitasi. Tetapi tanpa ada edukasi dengan praktik kebersamaan, akan sulit tercapai perubahan ke arah yang lebih baik.

Praktik kegiatan kebersamaan dengan jalan pembumian (Membumi dalam kebersamaan) yang menjadi pegangan Odesa Indonesia dalam berkhidmat untuk kaum papa; menjadi proses yang terbaik untuk masyarakat. Dan yang terpenting juga para pendampingnya akan selalu mendapat pengetahuan baru, yang selalu menyertakan kekayaan spiritualitas sosial karena pada praktik sosial kegiatan itu tidak selalu mulus sesuai rencana. Bagi Miss Indonesia seperti Princes Megonondo yang akan tampil pada acara internasional pengalaman terlibat dengan kehidupan lapisan masyarakat bawah ini menjadi sangat penting.

Sewaktu Odesa Indonesia memilih hasil pemetaan dari beberapa tempat yang sebelumnya kami cari di sekitar Bandung Raya bulan Agustus 2019 lalu, Kampung Cikawung Sari ini menjadi pilihan yang tepat karena problemnya tergolong akut; kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, kekumuhan kampung, mentalitas hidup warga, disertai sejumlah persoalan a-sosial.

Princes Megonondo bersama anak-anak Cikawung Girang Baleendah Kab.Bandung. Kegiatan BWAP 2019

VIDEO Princess Megondo, tengah membangun kampung tertinggal di Baleendah, Kabupaten Bandung

Princes Megonondo menerima situasi baru yang serba merepotkan. Miss Indonesia 2019 itu bersedia untuk “bunuh diri kelas” melayani kaum papa dengan segala macam respon; rupa-rupa sikap yang terkadang aneh di masa awal tetapi pada akhirnya menyenangkan semua pihak yang terhubung dalam kegiatan itu.

Miss Indonesia mulanya lahir dari kelas menengah yang bercorak elitis mau tidak mau harus membunuh ego kepentingan kelasnya, turun ke lapisan bawah dengan kesukarelaan yang penuh dan menjadikan lahan kerjanya untuk membentuk pengalaman hidupnya.

Berjibaku dengan situasi panas, bau sampah, kotoran sapi dan rupa-rupa problem hubungan sosial di kawasan padat kumuh itu, oleh Princes diterimanya sebagai tugas; karena tugas sosial pendamping masyarakat memang untuk menjawab masalah, bukan lari dari masalah dan memilih situasi yang gampang.

Princes Megonondo saat kegiatan literasi dengan anak-anak desa Cikawung Girang Baleendah.

Kesulitan harus diatasi, dan dari situlah pendidikan karakter akan tertanam. Kesabaran dan kesadaran akan melahirkan cakrawala hidup; sebagai modal untuk menghadapi situasi yang serba tak terduga baik di acara kontes formal maupun bagi dirinya sendiri akan telah dinobatkan menjadi sosok perempuan “cerdas,” membawa nama baik negara-bangsa dalam dunia internasional. []

Profile Princes Megonondo Miss Indonesia 2019

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: