Kerja dan Nilai diri Seorang Manusia

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia
Di manakah letak nilai manusia?

Nilai manusia terdapat di banyak sisi, tergantung dari sisi mana melihat dan tujuan penilaian itu untuk apa.

Dari sekian penilaian, saya melihat yang paling mendasar dan bahkan nantinya bisa menjadi pijakan menilai sesuatu yang lain adalah dari sisi pekerjaan.

Manusia tanpa pekerjaan/kegiatan akan menyandang status pengangguran. Bahkan ketika pekerjaannya banyak kosong, ia tetap menyandang status semi pengangguran. Itulah mengapa menjadi sebuah kewajaran kalau masyarakat umum beranggapan, seseorang yang menganggur dianggap memiliki kekurangan, atau bahkan aib. Jangankan pengangguran, pekerjaan tertentu yang niatnya mulia dan bahkan bermanfaat baik bagi masyarakat sekalipun—seperti mengurus sampah- terkadang masih direndah-rendahkan karena status sosial. Tetapi kita belum akan membicarakan soal status pekerjaan. Tulisan ini lebih fokus hubungan antara pekerjaan dan manusia. Adapun status sosial pekerjaan kita bicarakan di lain waktu.

Bekerja menjadi nilai dasar manusia untuk lebih manusiawi. Dengan bekerja seseorang akan merasa bernilai. Titik dasar penghargaan yang utama berasal dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain. Dengan memiliki pekerjaan yang jelas, produktif dan menyenangkan dilakukan, seseorang akan merasa dirinya bisa bertanggungjawab atas dirinya.

Produktif dalam pekerjaan

Sifat pekerjaan yang pertama adalah produktif, maksudnya bisa berguna mencukupi kebutuhan dirinya, selanjutnya untuk anggota keluarga yang lain. Itu syarat minimal, dan sangat baik pijakan ini diberlakukan untuk Indonesia karena fakta sejak lama kualitas rumah tangga Indonesia sangat rendah dalam urusan pekerjaan, bahkan kemiskinan sulit disejahterakan akibat masalah rendahnya kualitas manusia dengan pekerjaan.

Pendampingan Petani untuk memperbaiki kualitas kerja sangat menentukan kemajuan. Majunya keluarga petani membawa kebaikan pada banyak orang termasuk warga kota karena mereka menyediakan makanan.

Dengan produktivitas kerja, minimal seseorang menjadi bernilai karena tidak menjadi parasit bagi yang lain. Kedua adalah pekerjaan yang dilakukan secara menyenangkan. Menyenangkan ini berada di bawah level kebahagiaan. Bekerja secara produktif dan menyenangkan akan membuat orang lebih bisa optimis melakukan proses perbaikan.

Target produktif paling dasar adalah mencukupi kebutuhan untuk makanan, air dan tempat tinggal. Jika belum mampu mencukupi tetapi tetap produktif, niscaya akan menghasilkan harapan hidup. Harapan itulah yang akan membuat seseorang hidup lebih baik. Berbeda dengan mereka yang tidak bekerja.

Banyak di antara kita menyandang pendidikan tinggi, tetapi kemampuan bekerjanya rendah, alias tidak setara dengan statusnya. Banyak orang selalu ingin bekerja, tetapi terhambat pada kualitas pekerjaan, seperti tidak produktif sehingga pihak lain (perusahaan) menyayangkan seseorang itu karena potensi dirinya yang berstatus berpendidikan namun gagap membawa tugas, terutama saat bekerja secara kolektif.

Kita senantiasa percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuatan untuk perubahan individu maupun perubahan apa saja, namun harus diingat tidak setiap ilmu itu bermanfaat bagi pekerjaan. Ada banyak penyandang gelar mentereng tetapi kualitas kerjanya rendahan. Alhasil, antara pendidikan (status) dengan kualitas pekerjaan lebih bernilai kualitas pekerjaan itu. Wajar jika sering terdengar ungkapan; “Sekolah tinggi tapi urusan pekerjaan nol….”.

Di level masyarakat bawah, keluarga buruh tani, kaum marhaen, saya juga banyak menemukan keadaan manusia yang non produktif akibat tidak cakap dalam bekerja. Ada yang rendah pendidikan tetapi cakap bekerja dan sangat produktif sehingga kebutuhan hidup keluarganya terus meningkat.

Sementara ada juga yang sangat lemah dalam urusan pekerjaan sehingga hidupnya kurang bahagia, bahkan sering stress dan tak jarang gagal menahkodai rumah tangga karena disebabkan ketidakberesan dalam pekerjaan.

Ada juga situasi di mana orang memiliki etos tinggi dalam bekerja dan melakukannya dengan penuh semangat tetapi karena skill kerjanya lemah membuat penghasilannya lemah. Pekerja keras tidak selalu menghasilkan produktivitas. Pekerja keras merupakan modal dasar yang harus disandingkan dengan meningkatkan peraihan pendapatan yang lebih baik.

Bekerja tidak asal kerja. Apalagi menyangkut manusia. Sebab hewan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga melakukan pekerjaan. Manusia memiliki imajinasi, memiliki pemikiran tentang banyak hal di luar sekadar urusan makan, adu kelamin dan berumah tangga. Bahkan manusia modern saat ini mengalami banyak kebutuhan dasar seperti komunikasi, jenis tempat tinggal, aktualisasi hidup dengan beragam model, dan bahkan gaya hidup.

Bekerja mesti memiliki acuan-acuan yang dijiwai karena manusia bekerja tidak seperti hewan yang hanya mengandalkan naluri berburu untuk pemenuhan nutrisi perutnya semata. Sebelum bicara soal manajemen kolektif/organisasi atau keprofesian, sumber daya manusia harus kuat minimal dalam tiga unsur, yakni kesediaan menyenangi pekerjaan, bekerja secara produktif dan menghasilkan karya nyata, bekerja dengan moralitas pertanggungjawaban; minimal menyepakati paham dasar bahwa untuk mendapatkan penghasilkan yang baik mesti disertai pekerjaan yang baik (berkualitas).

Saya mencoba merumuskan nilai-nilai dasar yang sederhana ini karena dari sekian banyak penyebab rendahnya kualitas SDM (baik mereka yang berpendidikan tinggi maupun yang berpendidikan rendah) memiliki problem dasar yang kurang lebih sama, yakni 1) tidak menjiwai dalam pekerjaan, 2) tidak menghasilkan produk nyata/karya, 3) rendah bertanggungjawab.

Ilmu pengetahuan tentang rendah dan tingginya pendidikan ini saya hubungkan dengan pengalaman saya sebagai pengurus perusahaan yang sejak 2008 lalu sering menjadi assessment saat perusahaan-perusahaan Luar Negeri, terutama dari Amerika, Cina, Singapura, Taiwan, Hongkong, Korea, Belanda dll yang membutuhkan tenaga kerja freelance atau permanen.

Saat prosesing penilaian itulah saya memperhatikan ribuan SDM berpendidikan dengan persoalan yang sama dengan saat saya memperhatikan keadaan sumber daya pertanian di bawah Yayasan Odesa Indonesia, tempatnya saya berkiprah.

Mereka yang gagal mendapat respon positif dari orang lain, karena bekerja secara asal-asalan; memburu hasil tanpa pernah mampu menunjukkan kualitas pekerjaan. Bahkan lebih jauh kemudian, kalaupun mereka bisa bekerja baik, masih berpeluang kandas di tengah jalan akibat belum tuntasnya karya nyata dan juga berkaitan dengan urusan tanggungjawab moral.

Perbaikan Kualitas Manusia

Tiga hal tersebut buat saya esensial untuk dijadikan pembicaraan dalam rangka mengatasi persoalan pekerjaan seseorang dengan tujuan untuk memperbaiki sumberdaya manusia. Tiga hal tersebut jika diselesaikan dengan proses pendidikan yang baik, niscaya seseorang akan meningkat.

Harus diingat, semua harus berpijak pada proses peningkatan dan pertumbuhan seperti menanam pohon, bukan mencetak kerajinan, apalagi sistem cetakan; sebab manusia hidup berkembang dengan segenap keunikan dan ragam keadaan psikologis. Keragaman manusia itu laras dengan keanekaragaman hayati. Masing-masing berbeda secara genetis, dan masing-masing butuh tempat yang tepat serta situasi yang pas.

Pembaharuan manusia Indonesia harus dimulai dari cara seseorang menilai dirinya. Semakin dirinya mampu menilai atau mengukur kualitas dirinya dari beragam sudut pandang, semakin ia akan menemukan esensi hidupnya; sanggup memilih yang tepat dan tidak tepat secara merdeka; dan menghubungkan nilai dirinya dengan pekerjaan/aktivitas secara tepat sasaran karena di manapun pada akhirnya fakta akan bicara ilmu tanpa amal/tindakan tiada berarti.

Di dalam konteks pekerjaan ini, yang dimaksud ilmu tanpa amal adalah ilmu yang tidak berkorelasi dengan kerja manusia. Sebab memang ada ilmu yang tidak perlu diamalkan tetapi sangat penting diketahui (wawasan), ada pula ilmu yang mestinya harus menjadi amal dan berguna, minimal bagi perbaikan individu.

Saya dan teman-teman di Kepengurusan Yayasan Odesa Indonesia tertantang pada sasaran keluarga petani. Terdapat banyak potensi manusia di sana yang bisa memajukan bangsa karena dari rahim keluarga petani itu penyediaan pangan dan juga keselamatan lingkungan bisa diharapkan tumbuh dari masyarakat. Apalagi kita tahu, kualitas politik demokrasi kita sangat rendah, maka solusi terbaik adalah memajukan keluarga petani agar setiap pekerjaanya berdaya guna bagi mereka dan bermanfaat luas bagi ekosistem.

Sebagian dari mereka bekerja banting tulang luar biasa puluhan tahun terkadang bahagia sekalipun hasil materialnya tidak seberapa. Lebih tertantang lagi ketika melihat orang miskin dengan kesengsaraan anak-anaknya tetapi moralnya rendah dan pragmatis; bekerja asal-asalan tetapi pikirannya hanya fokus pada pendapatan.

Dengan peta sederhana berbasis fakta-fakta itu Yayasan Odesa Indonesia mengambil tiga hal sebagai skala prioritas untuk memperbaiki keadaan manusia Indonesia di perdesaan. Kami percaya bahwa pembaharuan ini tidak terkait dengan cepat (pragmatis bin instan), tetapi bukan juga selalu susah.

Cepat atau lambat tidak terlalu penting dijadikan pembicaraan karena kami bergiat dalam perbaikan ini atas dasar tanggungjawab sosial, kewajiban melaksanakan tugas keilmuan untuk dibagikan kepada sesama, terutama kaum papa.

Pada akhirnya, cepat atau lambat sangat bergantung pada individu yang kita dampingi. Ada yang hanya 2 bulan mendadak seseorang menemukan kebahagiaan dalam pekerja sehingga pada 6 bulan dia telah memiliki banyak bekal untuk kewirausahaan.

Adapula yang didampingi selama 2 tahun tetapi baru berubah. Ada pula pendampingan yang digenjot dengan sistem tertata tetapi amburadul di tengah jalan karena ketidaksiapan individu untuk berubah menjadi baik.

Pada akhirnya, sebuah tindakan pembaharuan manusia harus bersandar pada garis kerja fasilitator. Fasilitator bekerja sebagai penyedia ruang aktivitas/aktualisasi manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik. Dengan kata lain, fasilitator ini adalah penyedia kesempatan, sebab kami percaya dengan doktrin kesempatan itulah yang akan membuat orang menjadi merdeka dalam meraih nilai lebih dalam hidupnya.

Kesejahteraan bisa direkayasa sistemik prosedural jika itu menyangkut urusan material. Tetapi kebahagiaan yang berurusan dengan jiwa, atau berurusan dengan spiritualitas hanya bisa dilakukan dengan semangat pertumbuhan di atas gen individu. Sama-sama punya sistem, tetapi harus dibedakan perlakuannya.

Berhenti Bicara Potensi Alam. Ganti dengan…..

Indonesia lebih kaya jumlah manusianya dengan keadaan alamnya. Itu kalimat yang lebih pas ketimbang terus menerus meniru-niru mengatakan Indonesia kaya akan potensi alam. Percuma potensi alam sebaik apapun kalau dipegang oleh kualitas manusia yang rendah dalam kemampuan bekerja mengolah alam.

Bahkan banyak pekerjaan manusia yang merusak lingkungan akibat rendahnya kualitas kerja. Contohnya di pertanian. Petani punya banyak pengalaman bekerja sebagai petani, tetapi alih-alih mensejahterakan alam. Bahkan dengan menyiksa alam, mereka kemudian semakin miskin. Ini akibat karena kualitas keilmuan bertani tidak diupgrade dengan cara yang tepat; tidak ada usaha negara memfasilitasi pendidikan pertanian yang baik dan tepat sesuai dengan keadaan lokal di masing-masing tempat.

Setiap manusia akan berharga, bahkan tanpa kepemilikan alam/tanah sekalipun. Kenyataan sudah terhampar di dunia. Banyak negara kecil miskin sumber daya alam namun hebat kesejahteraan hidupnya karena kualitas manusianya dalam bekerja. Bersambung….

Syarat Pembangunan Sumber Daya Manusia

Pembangunan Sumber Daya Manusia sebagai Keutamaan

Mengenal Odesa Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: