Daun Kelor Segar: Menanam untuk Mendapatkan Manfaat Gizi Terbaiknya

Kelor (moringa oleifera) merupakan pohon yang bersayur. Daun segarnya diminati banyak orang karena memiliki dampak yang bagus setiapkali dikonsumsi dari kesegarannya. Itu betul. Tetapi teh kelor (sistem pengeringan tanpa sinar matahari) juga memiliki pertahanan kandungan gizi yang sama dengan daun segar. Dengan pengeringan tanpa sinar matahari, kandungan gizinya bertahan baik, terutama pada unsur vitamin dan mineral yang larut dalan air.

KAIDAH MEMASAK DAUN KELOR SEGAR

Karena alasan air itulah orang memilih daun kelor segar. Sebenarnya memiliki daun kelor segar ini agak problematis jika tidak mengerti sisi esensial penggunaan daun kelor segar. Pasalnya, daun kelor segar dengan kandungan gizi yang murni dari kesegaran itu terdapat pada daun mentahnya yang secara langsung dikonsumsi mentah.

Sedangkan jika daun segarnya tersebut direbus, juga akan mengurangi nilai kesegaran. Pengapian(perebusan) harus memperhatikan nilai pengurangan saat memasak. Memasak daun kelor yang tepat adalah saat air sudah mendidih. Daun kelor disusulkan menjelang sayuran lain siap saji. Butuh 1-2 menit cukup untuk mematangkan kelor. Jika terlalu lama, akan terjadi banyak pengurangan nilai gizi, terutama vitamin dan mineral dari daun kelor.

DAUN KELOR SEGAR, PETIK LANGSUNG MASAK ATAU MASUK TEMPAT PENGOLAHAN

Banyak orang juga berpikir mendapat sayuran segar daun kelor dengan memesan dari tempat yang jauh lintas daerah. Kelor dipetik adalah daun segar, namun saat butuh waktu untuk perpindahan dengan memakan jam yang panjang, apalagi melewati harian tentu menjadikan nilai kesegaran itu hilang. Bahkan hanya dalam durasi waktu sekitar 5-6 jam daun kelor bisa mengalami penyusutan kandungan gizinya.

Daun kelor segar akan berubah menjadi status tidak segar jika terlalu lama dibiarkan tanpa pengolahan yang tepat. Daun kelor merupakan daun kaya gizi, serangga pun banyak yang tertarik mengonsumsinya. Karena itulah proses pasca panen harus teliti dan memperhatikan kaidah secara seksama.

Jika tidak langsung diurus atau dimanfaatkan, nilai kesegaran daun kelor bisa bermasalah hanya karena menimbun atau memidah-mindahkan ke tempat yang berbeda. Petani grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci)Bandung misalnya, selalu memperhatikan waktu pemetikan saat untuk masak segar. Begitu juga panen daun kelor untuk produksi Teh. Dipanen dengan dengan yang baik, biasanya jam 9:00 sampai 12.00 (untuk musim penghujan), dan sedikit bebas waktu saat musim kemarau. Tak sampai 2 jam dari pemetikan, proses pencucian dilakukan dan setelah itu berlanjut dengan penjemuran di ruang tertutup tanpa sinar matahari dengan kondisi ruangan yang steril dari debu atau kotoran tentunya.

Daun kelor segar harus mendapat perlakuan baik. Tidak boleh setelah memanen dibiarkan terbuka saat kita melihat banyak debu. Saat panen daun kelor, para petani harus menjaga kebersihan karena kandungan gizi kelor bisa rusak jika banyak kotoran.

CARA MENDAPAT DAUN KELOR SEGAR
Jika ingin mendapat daun kelor segar, solusi terbaiknya adalah tanam sendiri. Bibit dari biji kelor berusia minimal 5 bulan sudah bisa ditanam di tanah pekarangan. Idealnya 1 orang memiliki 5 pohon kelor supaya bisa rutin mengonsumsi satu minggu 2 kali konsumsi sebagai asas minimal. 1 orang butuh minimal 5 pohon adalah target sederhana. Ini saja terkadang bisa kurang manakala pertumbuhan belum banyak di bawah 1 tahun.


MENDAPATKAN BIBIT KELOR TERBAIK

Yang terbaik saat menanam kelor adalah dengan bibit yang sudah berusia 9 bulan karena akan lebih cepat pertumbuhannya. Grup Tanaman Obat Cimenyan (Taoci) biasanya menanam kelor untuk ladang di musim kemarau dengan mengambil bibit yang sudah berusia minimal 9 bulan karena faktanya lebih bagus pertumbuhannya.

Lebih lama mengurus di polybag lebih efektif karena saat menyiram dan pasokan air lebih menjamin ketimbang menanam di ladang. Tetapi untuk musim penghujan, kita bisa lebih awal memanfaatkan bibit kelor yang berusia 5-6 bulan. Di bawah usia 5 bulan, pertumbuhan pohon kelor kurang menjanjikan. (Kaidah tanam itu berlaku relatif dengan perbedaan keadaan ketinggian tanah, keadaan kesuburan tanah, dan keadaan lingkungan sekitarnya).

TANAH TERBAIK UNTUK KELOR

Keadaan tanah hitam gembur lebih baik ketimbang tanah coklat-pucat. Jika kita menanam di tanah coklat-pucat lebih baik lahan diolah terlebih dahulu. Pastikan lahan digali dengan lebar dan kedalaman 40×40 cm sudah cukup. Tanah galian diberi pupuk kandang, dicampur dedaunan yang cepat membusuk terlebih dahulu. Sumber nutrisi tanaman seperti air bekas cucian beras, limbah makanan dapur, termasuk limbah buah-buahan sangat baik untuk menumbuhkan kelor.

Setelah 4 hari lubang tanah dibuat, barulah bibit kelor dimasukkan ke dalam lubang. Ini prosedur yang lebih baik. Tetapi kita juga bisa menggali dan menanamnya terutama saat musim hujan karena kesuburan air hujan lebih baik daripada pupuk manapun. Karena itu jika memasukin musim hujan kita harus menggunakan kesempatan terbaik menanam kelor.

Kelor memang tanaman tahan panas. Bahkan di padang pasir juga bisa tumbuh—tentu pertumbuhannya kalah jauh dibanding iklim tropis seperti Indonesia. Pertumbuhan kelor lebih bagus dengan terkena sinar matahari langsung sejak benih berusia 14 hari. Tetapi pada masa usia 14 hari hingga 6 bulan, kelor membutuhkan nutrisi dari pupuk yang baik dan juga air yang rutin. Kelor memang butuh air, tetapi ditanam pada tanah tergenang air akan menyebabkan kematian karena akar kelor mudah busuk jika berlama-lama terkena air.

Mari tanam kelor supaya kita bisa mendapatkan daun segarnya. Supaya kita bisa memberi manfaat kepada keluarga kita dan juga bisa berbuat baik untuk saudara dan tetangga yang membutuhkan, terutama sebagai masakan suplemen tradisional organik saat orang mengalami sakit. []

Mari Dukung Gerakan Sosial Pertanian Ramah Lingkungan Penghijauan Pertanian Agroforestry

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: