Agar Pertanian Bisa Mengatasi Kemiskinan dan Krisis Lingkungan

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

Jika musim kemarau petani tetap menanam, kedalaman kemiskinan akan berkurang dan bermanfaat mengurangi erosi. Bagaimana kita mewujudkan itu?

Kamis, 17 Oktober 2019 saya mendatangi Pak Wahdar, seorang petani di Pinggir Hutan Arcamanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Saya datang karena Sorgumnya mulai panen. Ladangnya di bawah Bukit Oray Tapa. Tiga bulan sebelumnya, saya mendorong Pak Wahdar menanam sorgum putih. Sedangkan tetangganya, Toha, menanam Sorgum merah.

Pak Wahdar menanam Sorgum yang pertama kalinya, sementara sudah ada 12 petani lain sebelumnya menanam sorgum dan menghasilkan panen yang lumayan membahagiakan. Tetapi pada musim kemarau, setelah panen pertamanya, 12 petani berpikir ulang untuk menanam sorgum, padahal mereka sudah sangat senang dengan hasil panen dan harga jualnya.

Mereka enggan menanam sorgum di musim kemarau panjang karena khawatir kerepotan kerja, terutama urusan air. (Padahal sebenarnya dengan kondisi air yang minim petani masih mungkin memanen sekalipun tidak semaksimal di antara musim penghujung kemarau-hujan).

Karena masih minim pengalaman, disertai juga persiapan Grup Pertanian Cimenyan dalam mengurus pasca panennya, saya mengambil jalan kompromi. Lagi pula mereka berjanji akan tanam kembali pada musim hujan. Kami memegang prinsip, perbaikan secara bertahap. Cepat boleh tetapi jangan sampai memaksa petani. Sementara 12 petani menunda menanam sorgum kedua kalinya, kami ganti dengan program tanam yang ringan, seperti menanam tanaman keras dengan skala puluhan di tiap-tiap ladang petani.

Khusus Pak Wahdar dan Toha (keduanya di Oray Tapa) mereka berdua kami tantang agar bisa menanam sekalipun di musim kemarau. Maka inilah jadinya:

Sorgum di ladang Pak Wahdar seluas 2200 m2 tersebut menghijau dengan 9.600 batang sorgum yang hidup. Hasil panen pertamanya sangat bagus karena mengikuti instruksi. Penyiraman air juga hanya berlangsung ringan. Pak Wahdar menyiramnya 2 kali seminggu selama masa 6 minggu dan kemudian hanya menyiram 1 minggu 1 kali pada usia sorgum semakin dewasa.

Dari sisi biji, Sorgumnya memenuhi standar panen sebelumnya, yakni rata-rata perbatang menghasilkan antara 110 gram. Ini sangat bagus.

Masalahnya burung di sekitar Oray Tapa sangat menganggu Pak Wahdar dan membuat keluarganya kalangkabut mengusir burung. Sebagian dibungkus plastik, sebagian dihalau dengan jaring. Masalah burung ini juga pernah menimpa petani Toha tahun lalu yang kehilangan hampir 50 persen dari hasil panennya. Sedangkan Pak Wahdar diprakirakan kehilangan 30 persen dari hasil panen semestinya.

“Soal sorgum dimakan burung tenang. Jangan membenci burung sampai-sampai harus marah-marah,” begitu saya katakan. Pak Wahdar memang tahu janji kami dari Odesa Indonesia dalam hal pendampingan. Dia sudah akrab dengan pola pikir kami yang sering menyelesaikan masalah sekalipun gagal panen jika program pertanian itu dibawa oleh Odesa Indonesia.

Jadi, no problem! Selesai urusan. 3 hari kemudian panen tuntas. Pak Wahdar berhasil memanen setengahnya dengan jumlah panen 8 kwintal dan sisa panen tanam lanjutan bulan depan diprakirakan 5 kwintal.

Hikmah Apa yang dipetik dari penananam di musim kemarau?

Setiap musim kemarau di Kecamatan Cimenyan (dan daerah lain di Jawa Barat) ladang-ladang sayur (hortikultura) tidak aktif. Para petani kehilangan masa pekerjaan panjang sekitar 6 bulan dari kemarau 8 bulan. Tanah-tanah menjadi coklat pucat sebagai pertanda tanah sakit akibat puluhan tahun dieksploitasi. Jadilah pertanian sayur di Kawasan Bandung Utara menjelma Padang Pasir. Selain tanah sakit yang sulit menumbuhkan tanaman secara organik, tanah gurun di Cimenyan tersebut juga terus disorot matahari sehingga pecah merekah. Di bumi yang sakit itulah kemudian muncul masyarakat yang sakit.

Bedakan antara pertanian yang sekarat dengan yang produktif seperti padang pasir. Pertanian konvensional monoculture pada musim kemarau tidak menyerap tenaga kerja. Petani menganggur. Sedangkan pada pertanian polyculture yang dikembangkan Odesa Indonesia tetap berjalan. Para petani di musim kemarau pun masih bisa memanen 2 kali. Inilah yang semestinya kita kembangkan lebih luas. Sangat rugi jika petani yang mestinya produktif mengurus ekosistem di ladang justru menjadi kuli di kota. Para petani adalah produsen pangan yang harus dimuliakan. Ciptakan situasi bisa produktif sekalipun di musim kemarau.

Bumi Pucat Petani Melarat. Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sedangkan lahan di pertanian yang digarap petani Odesa Indonesia seperti ladang pak Wahdar keadaan tanahnya tetap subur. Juga ladang Toha yang terus hijau oleh sorgum dan hanjeli serta bisa menanam pohon lain. Di Cisanggarung, Sindanglaya dan Pasir Impun juga tetap hijau.

Odesa Indonesia selalu mendorong agar para petani menanam keanekaragaman hayati. Ladang Pak Wahdar juga tidak hanya panen sorgum. Tidak lama lagi hanjeli yang ditanam secara susulan rentang 3 minggu setelah sorgum berkembang, kini muncul dengan ketinggian 60 cm. Artinya Pak Wahdar akan memanen hanjeli pada 3 bulan mendatang (usia hanjeli 6 bulan).

Kemudian, pada November 2019 mendatang Pak Wahdar sudah siap-siap menanam kelor (moringa oleifera). Sebab, dengan memanfaatkan bekas lahan sorgum tersebut tanah sudah semakin gembur. Akan banyak kompos disebarkan di ladang sebagai pelindung tanah dari gempuran sinar matahari dan juga untuk mendukung kesuburan bersama pupuk. Lebih-lebih nanti kalau sudah memanen hanjeli.

Keluarga Petani Pak Wahdar. Beginilah Keadaannya

Selain mendapatkan sumber pangan bergizi, ladang Pak Wahdar akan lebih subur karena pada bekas tanaman hanjeli tersebut tanah akan lebih terurai; oksigen dan kerja air akan lebih lancar. Bahkan nanti kalau disusul dengan bunga matahari, batang bunga matahari untuk kompos akan mempercepat perkembangbiakan microorganisme. Terutama populasi cacing-cacing tanah akan meningkat pesat. Belum lagi kalau tanaman daun afrika (vernonia amygdalina) dikembangkan juga. Dari daun yang disebarkan di ladang akan memperkaya phosphor.

Kelor akan ditanam di sela-sela ladang pertanian sorgum dan hanjeli. Dengan model rotasi tanaman tersebut petani seperti Pak Wahdar otomatis tidak akan berhenti, sementara petani lain kehilangan pekerjaan.

Prakiraan pendapatan Pak Wahdar pada musim kemarau ini setidaknya mendapatkan uang Rp 6 juta selama 4 bulan dari beberapa jenis tanaman, sorgum, sayuran, pisang, belum termasuk hanjeli 3 bulan mendatang. Untuk petani kecil yang mengontrak lahan seperti Pak Wahdar, penghasilan sebesar itu paling tidak menolong kebutuhan hidup setiap bulan senilai Rp 1,5 juta.

Pertanian Berkelanjutan. Dampingi!

Pertanian berkelanjutan membutuhkan kerja dan panen yang tak terputus. Inilah yang harus ditegakkan jika ingin mengatasi kemiskinan di kalangan petani. Syaratnya, setelah ilmu pengetahuan dikuasai, infrastruktur air harus dibereskan. Tugas pendamping adalah mengarahkan agar petani bisa memanfaatkan air yang sedikit untuk pertumbuhan banyak tanaman. Jangan boros air. Gunakan air sesuai kebutuhan setiap tanaman. Lindungi pemborosan air dalam tanah.

Kita ini sudah banyak melakukan kesalahan dalam pertanian. Misalnya manakala kita mengalami kekurangan air, petani tetap menanam sayuran yang sangat butuh banyak air. Padahal tanaman serealia seperti sorgum dan hanjeli lebih kompromi terhadap kebutuhan air. Apalagi sayuran jenis kelor. Kelor adalah tanaman paling menawan karena sekalipun berupa batang pohon tetapi manfaatnya sebagai sayur dan herbal tidak membutuhkan banyak air setelah 8 bulan pertumbuhan.

Pendampingan di kalangan petani kecil juga harus memperkuat ternak. Ternak penyokong pupuk harus dikuatkan dan tenaga kerja harus diatur secara sistematis. Jangan lupa, berikan semangat dan temani mereka untuk urusan keluh-kesah hidupnya. Itu sudah cukup untuk mendampingi agar modal material pertanian tidak hilang.

Jadi, model pertanian monoculture mestinya harus diubah menjadi polyculture. Cara penerapannya di kalangan petani membutuhkan tindakan yang bijaksana, yakni jangan sekali-kali mendorong mengganti tanaman, melainkan dengan cara menambah tanaman. Polyculture juga tidak anti sayuran, karena masalah erosi memang bukan masalah sayuran, melainkan masalah praktik pertanian yang tidak mengedepankan keanekaragaman hayati dan kecanduan pupuk kimia. Bahkan sayuran bisa menyelamatkan erosi, jika jenis sayurannya adalah kelor, melinjo/tangkil, bambu (rebung), sayur turi, dll.

Beragam tanaman (keanekaragaman hayati) harus ditegakkan, baik melalui sistem campuran, penyisipan, maupun rotasi, sebagaimana kita menjaga hidup bermasyarakat dengan prinsip Kebhinekaaan. Petani membutuhkan ilmu yang baik karena dari mereka akan lahir banyak kebaikan.

Pangan yang sehat bergizi didapat dari petani. Tanah sehat akan menumbuhkan tanaman penghasil oksigen akan kita dapatkan dari kerja pertanian. Kesalehan dalam bertani setidaknya bisa ditunjukkan oleh 5 kebaikan utama:

1) Merawat tanah dengan keanekaragaman hayati agar tanah tetap sehat dan terhindar dari bencana erosi, 2) Merawat sumber air bagi keluarga dan lingkungan agar kehidupan tanaman dan satwa berlangsung produktif, 3) Mengatasi kemiskinan diri petani agar tidak terjebak pada situasi lemah, 4) Memberi manfaat pangan sehat-bergizi bagi banyak orang, 5) Menjadi sarana pembelajaran hidup manusia dari ruang publik pertanian.

#FeelingGoodAfterDoingGood. Saatnya kita menyatu dengan petani karena di dalam diri mereka ada banyak kebaikan. Kebaikan yang terhimpun dalam konteks demokrasi itulah yang akan melahirkan virtue dari situlah kita bisa meraih indentitas demos (manusia unggul). []

BACA JUGA Pancasila, Keanekaragaman Hayati dan Gerakan Odesa

BACA JUGA Sorgum Sumber Makanan Sehat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: