Siswa Samin Padati Kursi Bioskop untuk Nonton Bareng Film 6.9 Detik

Siswa Sekolah Sabtu Minggu (Samin) memadati ruang bioskop untuk nonton bareng film 6.9 Detik di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Jawa Barat (29/9/19). Nonton bareng ini diikuti 43 siswa dari kelas 5 SD hingga SMP. Mereka datang dari tiga kampung di Kabupaten Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Kedatangan siswa-siswi Samin di acara nobar ini disambut hangat oleh Maria Karsia, penyelenggara nobar 6.9 Detik.

“Saya terharu dengan kedatangan anak-anak ini. Apalagi pas tahu kalau kebanyakan mereka baru pertama kali ke bioskop.”

Maria menyebut film ini bisa dijadikan bahan motivasi anak-anak sejak usia dini, untuk bisa berkarya di bidang apa pun.

samin-odesa-indonesia
Alif (10) warga Kampung Singkur dan kawan-kawan Sekolah Samin sedang menunggu jam tayang Film 6.9 Detik di Lobby bioskop Mall Cihampelas Walk (Ciwalk), Kota Bandung (29-9-19).

Sebagaimana yang dikatakan Budhiana Kartawijaya, Ketua Pembina Odesa Indonesia, film merupakan sumber pendidikan yang efektif.

“Film bagus buat anak-anak. Dengan film itu bisa berimajinasi. Imajinasi tentang motivasi misalnya.”

BACA JUGA: Pendidikan Karakter Anak Desa di Kampung Singkur Cimenyan

Budayawan tersebut menambahkan, nilai-nilai kehidupan bisa mudah ditangkap anak- anak bila disampaikan dengan film. Karena pelajaran yang biasa seperti di sekolah cenderung menjemukan. Sementara film bisa masuk ke alam bawah sadar anak.

Potret Kemiskinan

6.9 Detik adalah film yang mengisahkan perjalanan Atlet Panjat Tebing Nasional, Aries Susanti Rahayu yang berhasil menjadi atlet kelas dunia.

Film yang disutradarai Lola Amaria itu menampilkan latar belakang Rahayu sebagai anak kampung yang kesulitan ekonomi. Sehingga harus merelakan ibunya menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) sejak dia duduk di Sekolah Dasar.

Potret kemiskinan yang diangkat dalam film itu seperti yang dialami para siswa Samin sendiri. Anak-anak tersebut tergolong dalam keluarga prasejahtera.

Mereka tinggal di perbukitan Pasir Impun, Kabupaten Bandung. Masyarakat di sana masih banyak yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, seperti air dan dan sarana MCK.

Menurut catatan Odesa Indonesia, terdapat 70-an titik yang butuh dibangun MCK. Sementara yang sudah dibangun hingga saat ini sebanyak 17. – Abdul Hamid

BACA JUGA: MCK dan Masa Depan Anak-anak

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: