Mengamalkan Teater dalam Kehidupan Nyata Ala Boy Worang

Rian (11) dan teman-teman siswa Sekolah Sabtu Minggu (Samin) kedatangan tamu dari Perumahan Istana Kawaluyaan. Mereka menyambutnya dengan salaman. Diikuti raut muka polos yang sedang bertanya siapakah orang yang disalaminya.

Ia lebih dikenal Boy Worang, pria yang kini hampir genap berusia 70 tahun. Usianya banyak dihabiskan di dunia peran dan perbankan.

Kali ini pada Minggu (8-9-19) ia mengajar drama kepada anak-anak SD, SMP, bahkan yang belum masuk sekolah di Kampung Cisanggarung, Cikadut, Cimenyan Kabupaten Bandung, setelah sebulan lalu mengajar di Kampung Singkur.

Jelita (9) dan kawan-kawan Samin mengikuti perintah Om Boy. Mereka disuruh beraut muka senyum, marah, tertawa, menari, hingga membayangkan mereka sedang memegang batu bata, yang mesti mereka taruh dan susun.

Om boy tidak membicarakan imajinasi pada anak-anak, tetapi ia merangsang mereka untuk berimajinasi langsung. Ia tidak membahas intonasi secara teoritis, tapi langsung memandu mereka untuk praktek bagaimana cara berbicara di depan teman-temannya.

Bagi Boy Worang, teater itu pelajaran berharga. Sehingga ia mengajak anak-anak untuk mempelajarinya.

BACA JUGA: Writing Prompt Yuliani Liputo di Sekolah Samin

“Teater beguna untuk membentuk rasa percaya diri anak,” ujarnya.

Kepercayaan diri dinilainya sangat penting, karena menyangkut potensi anak. Bakat anak yang cemerlang sulit keluar saat ia tidak percaya diri.

Om Boy tidak memisahkan teater panggung dengan kehidupan nyata. Ia mengamalkan pelajaran pementasan teater ke dalam kehidupan sehari-hari.

boy-worang-di-sekolah-samin-odesa
Boy Worang sedang mengajarkan para siswa Sekolah Samin tentang gotong royong lewat pelajaran drama di Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Minggu (8-9-19).

“Saya menerapkan ilmu teater misalnya saat saya bekerja sebagai pegawai bank,” lanjutnya.

Ia mengaku kuliah di jurusan Sinematografi, jurusan yang tak ada hubungannya dengan profesinya di Bank Exim. Selama bekerja di sana, Boy Worang seperti diberi peran sebagai bankir untuk suatu pentas teater. Ia mempelajari persoalan ekonomi untuk memenuhi peran itu.

“Saya bahkan bisa percaya diri saat berhadapan dengan para atasan sekelas direktur, misalnya,” kata Boy.

Pesan ia pada anak-anak, yang terpenting adalah menjadi diri sendiri. Kemudian bila diberi kesempatan untuk mengambil peran seseorang, mesti berlaku sebagus mungkin.

Apa yang diajarkan Boy Worang sangat cocok dengan misi Sekolah Samin, yang ingin membentuk karakter anak-anak kampung agar tampil pecaya diri di depan siapa pun.

Sebagaimana yang disebut Faiz Manshur, Ketua Yayasan Odesa Indonesia, Sekolah Samin bukan hanya berarti Sekolah Sabtu Minggu, akan tetapi bisa diartikan juga Sekolah Analisis Manusia Indonesia.

BACA JUGA: Pembaharuan SDM di Jalan Pertanian

Sekolah ini membina anak-anak petani agar menjadi pribadi yang berbudi luhur, dan bisa mengolah Sumber Daya Alam yang ada di desanya.

Hingga saat ini, Sekolah SAMIN sudah berdiri di empat kampung di perbukitan Pasir Impun, Kabupaten Bandung. Di antaranya Kampung Seke Balingbing, Cisanggarung, Singkur, Cikored, dan Waas. [] Abdul Hamid

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: