Kesejahteraan Pangan Ala Pak Tardi

Namanya Singkat, Tardi. Ia seorang petani yang teguh dalam hal penguatan pangan rumah tangga. Ketika banyak petani orientasinya mengutamakan uang semata, pria kelahiran Sumedang 1954 ini justru bertahan dalam pola pikir bertanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Karena keluarganya butuh beras maka ia berusaha menanam padi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia pun menanam sayuran karena dapur butuh sayur. Bahkan karena ia merokok, ia memilih tidak membeli rokok, melainkan menanam tembakau.

“Karena hanya untuk saya, jadi kalau tanam beberapa puluh pohon di pinggir tegalan atau di pekarangan cukup,” katanya.

Dari pola pikir semacam itu, ketika Yayasan Odesa Indonesia tahun 2016 lalu mulai menggerakkan tanaman pangan sorgum, hanjeli, kelor dan beberapa jenis herbal lainnya, Tardi mengambil peran aktif. Ketika Rusmana, petani muda yang memimpin gerakan pertanian agroforestry Odesa Indonesia mendorong berkegiatan, Tardi sangat semangat menyambutnya. Dari situlah Tardi semakin senang dengan kegiatan barunya, yaitu menanam aneka ragam tanaman.

“Dulu sorgum sudah pernah tanam. Di sini namanya gandrung. Tapi hilang kira-kira 15 tahun lalu. Hanjeli juga banyak tapi punah. Saya suka tanam tapi makin lama makin habis bibitnya. Sekarang ada lagi. Kelor adalah tanaman baru, saya menanam dan mulai sering makan sejak tahun,” katanya di temui saat kegiatan penanaman pohon di lahan kritis Bukit Cisanggarung, Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, Rabu 11 September 2019.

Bagi Tardi, kegiatan tani bukan semata mencari uang karena ia sadar bahwa hidup bukan semata urusan yang satu itu. Kecukupan hidup lebih pada tercapainya kesejahteraan keluarga. Karena makanan merupakan sumber bahan pangan pokok, ia pun menanam demi tercapainya pemenuhan makanan.

“Sekarang petani hanya tanam sayuran karena berpikir 3 bulan panen dan jadi duit. Tapi itu pun tidak terlalu menguntungkan karena hasil panen sering gagal atau harganya anjlog. Kalau saya berpikir karena kita butuh banyak makanan ya harus tanam yang lain juga. Ada sorgum yang 3 bulan, ada hanjeli yang 6 bulan, ada kelor yang lebih cepat panen sekaligus juga bertahan lama,” paparnya.

Sejak 2016 Tardi mulai menanam anekar ragam tanaman pangan. Bahkan kini ia juga menjadi penggerak tanaman penghijauan. Oleh Yayasan Odesa Indonesia Tardi diberi kesempatan memimpin gerakan tanam pohon di Cisanggarung. Bibitnya didapatkan dari Yayasan Odesa Indonesia hasil donasi dari warga di perkotaan. Tardi bergiat aktif saban hari menyempatkan penananam pohon di sekitar lahan-lahan erosi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: