Tiga Komponen Pengabdian Sosial untuk Orang Miskin

Oleh FAIZ MANSHUR. Ketua Odesa Indonesia

“Bukan seberapa harta kita untuk melayani pada kaum papa, tetapi seberapa kepedulian kita untuk menyempatkan melayani mereka dengan ilmu.”

Kalimat perlu saya munculkan sebagai bagian penting dalam kegiatan Odesa Indonesia. Di dalamnya memuat tiga kata kunci pokok, yakni 1) Harta, 2)sempat/waktu, 3) ilmu. Ada juga istilah kepedulian dan kaum papa yang penting dihayati karena kepedulian/empathy (lawan dari antipati) yang saya hubungkan dengan istilah “kaum papa” merupakan kata kunci mengukur kualitas kemanusiaan kita.

Dalam kegiatan sosial kemanusiaan, terutama pengabdian dengan model pelayanan terhadap kaum papa (keluarga prasejahtera/sangat miskin atau golongan miskin, serta mereka yang mengalami keterbelakangan hidup), kita membutuhkan tiga komponen dasar. Ketiganya bersifat dialektis saling berkait yang akan terhubung dengan aktivitas sosial kita.

Munculnya pendapat bahwa harta sangat menentukan dalam hal kegiatan sosial. Buat saya hal ini benar menentukan, tetapi bukan satu-satunya penentu. Sebab kenyataannya, jika kita melayani kaum papa hanya dengan harta tidak akan berjalan. Harta sangat diperlukan untuk banyak hal seperti derma/sumbangan langsung, transportasi/komunikasi kegiatan kita, dan kebutuhan konsumsi. Jika kita hanya punya harta tetapi tidak punya waktu, tentu harta hanya berguna untuk dititipkan kepada pelaku (subjek yang bergerak menjalankan pelayanan).

Dalam pelayanan kepada masyarakat ternyata ada unsur yang tak kalah pentingnya, yaitu waktu. Tanpa memiliki waktu atau tidak menyempatkannya, maka kita tidak akan bisa menjalankan kegiatan sosial. Dan menjalankannya hanya dengan menitipkan kepada pelaku. Harta dan waktu mungkin cukup untuk modal pengabdian atau pelayanan terhadap kaum papa. Tetapi itu sebatas pelayanan atau aksi. Jika kita tidak memiliki ilmu yang cukup, tindakan yang kita lakukan bisa jadi tidak berkualitas. Sebagai contoh kita hanya menyelesaikan tanggungjawab kita memberikan harta dan meluangkan waktu, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan yang kita harapkan, sementara dalam pelayanan terhadap kaum papa ini kita senantiasa berharap terjadi perubahan jangka panjang. Tentu hal itu membutuhkan ilmu. Jangan sampai kita rajin membantu orang miskin, tetapi si miskin tetap miskin seterusnya, padahal bantuan yang kita berikan berlangsung terus-menerus. Kita ingin setiap tindakan yang kita lakukan bisa mengubah keadaan mereka dalam jangka panjang.

Melayani kaum papa dalam hal ini orang miskin dan orang-orang yang terbelakang dalam kehidupannya senantiasa butuh tiga komponen, yaitu kemampuan harta, waktu dan ilmu.

KOMPONEN HARTA: Harta yang cukup akan membuat kita bisa berbuat lebih efektif untuk pengabdian sosial. Dengan kemampuan harta (secukupnya) kita tidak usah berpikir biaya transportasi atau konsumsi saat memberikan pelayanan, bahkan kita bisa merogoh materi kita untuk keperluan mereka. Seberapa harta bukan jaminan, yang penting cukup untuk modal kerja pelayanan. Tidak perlu kita menunggu harga yang berlimpah baru kita berpikir nanti kita dermakan. Itu cara berpikir minimalis. Yang bagus adalah, terus berusaha melayani kaum papa dan mengusahakan harta/modal untuk kegiatan pelayanan. Prinsipnya, berjalanlah, di tengah jalan pasti juga akan menemukan celah untuk pemenuhan kebutuhan itu. Prinsip ini berlaku dalam setiap kegiatan hidup, seperti berdagang, berwirausaha, bahkan melaksanakan pernikahan. Sangat merugi jika kita merawat pola pikir, “nanti kalau kita kaya baru berkegiatan sosial.” Bagaimana kalau gagal kaya? Apa ukuran kaya kemudian baru kita berbuat sosial? Kapan kita pasti kaya? Berapa waktu yang dibutuhkannya? Adalah jaminan setelah kaya kualitas tindakan sosial kita itu terbukti?

KOMPONEN WAKTU: Dengan waktu yang cukup kita bisa melayani mereka secara langsung, memantau mereka secara rutin, dan juga mengevaluasi setiap tindakan demi tindakan sampai tahap berhasil. Kita harus kreatif dalam menentukan jadwal, menciptakan waktu kerja untuk pelayanan. Tidak bisa kita hanya mengharap kalau ada waktu. Sebab jika kita menunggu luangnya waktu, bisa-bisa sampai tua kita tidak akan bertindak. Waktu, seperti halnya harta/rezeki, selalu harus dicari, disiasati, diciptakan, diluangkan. Sangat rugi kita menunda tindakan sosial kita, karena belum tentu kita mendapatkan waktu. Bahkan yang harus diingat bahwa dalam hidup ini kita ini waktu itu sifatnya hilang, tidak mendapatkan. Seiring usia berjalan, sejalan itulah waktu kita hilang. Tiada ganti karena tidak ada sains yang menjelaskan kepada kita secara rasional (masing-masing pribadi) tentang kepastian kapan kita sakit dan kapan kita mati. Menurut saya, waktu harus dikelola, dialokasikan untuk keperluan hidup kita sebagai makhluk sosial. Sebagian untuk urusan pribadi, keluarga, untuk harta, untuk ilmu, dan untuk amal. Semuanya harus diseimbangkan karena ini merupakan cikal kebahagiaan hidup.

KOMPONEN ILMU: Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita bisa mencarikan solusi. Jika tidak punya ilmu, kita disyaratkan untuk segera belajar. Dalam hal ilmu harus diingat, belum tentu ilmu yang kita miliki ini cocok terhadap kebutuhan untuk mengubah keadaan kaum papa. Melayani kaum papa membutuhkan pengetahuan baik teori seperti ilmu kesejahteraan, ilmu sosial, ilmu politik, ilmu psikologi, dan ilmu terapan yang laras dengan kehidupan mereka. Belum tentu kita memilikinya sekalipun kita rajin membaca dan rajin berdiskusi dengan orang-orang berilmu sekalipun karena ilmu pengetahuan yang mulia adalah ilmu yang menjawab persoalan. Dan persoalan kaum papa ada pada kehidupan kaum papa itu sendiri. Ada di teras rumah mereka, ada di dapur mereka, ada pada ladang ekonomi mereka, bukan pada otak kaum intelektual atau literature. Ilmu, sebagaimana harta dan waktu, harus dicari dan setelah mendapatkannya harus praksis untuk mengubah keadaan. Ilmu yangbaik adalah yang seimbang baik untuk kita sendiri, untuk kemanusiaan maupun untuk lingkungan hidup. Satu hal lagi yang penting disampaikan, bahwa bidang ilmu menyelesaikan masalah juga tidak cukup dari sekolah formal. Sekolah formal paling-paling hanya menyelesaikan masalah karir kita, sedangkan ilmu untuk menyelesaikan masalah orang lain, apalagi kaum papa dengan sengkarut persoalan hidupnya membutuhkan akademi yang perlu kita ciptakan sendiri. Itu artinya setiap tindakan membutuhkan ilmu baru. Dengan bertindak nanti akan mendapatkan pengalaman. Pengalaman itulah yang akan menginspirasi kita terus bergerak.

Akademi Kemiskinan

Akademi/akademium memiliki kemuliaan. Ia merupakan ruang kehormatan manusia karena ilmu pengetahuan. Seorang yang mulia adalah mereka yang mendapat ilmu, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang. Untuk bermanfaat, seorang manusia harus banyak ilmu dan ilmu itu harus berguna untuk mengubah keadaan yang tidak manusiawi. Kemiskinan dan kebodohan telah luas dinyatakan sebagai problem Indonesia. Ketidakadilan sosial merupakan problem paling dasar bangsa Indonesia, -dan juga bangsa-bangsa dunia. Untuk menjawab perkara mendasar ini, kita butuh tiga komponen, harta,waktu dan ilmu. Dan ruang pembelajaran kita ada pada masyarakat yang terkena dampak tersebut. Tidak susah kita menemukan ruang itu karena kemiskinan ada di banyak lokasi. Tidak usah kita membawa ijazah untuk memasuki akademi kebijaksanaan dari kaum miskin papa, tidak butuh pemilihan umum untuk menjadi pengabdi sosial.

Tiga komponen, harta, waktu dan ilmu tidak akan datang secara ujug-ujug; semuanya bersifat dinamis dan dialektif. Sekalipun tidak punya harta yang melimpah, bertindaklah untuk urusan sosial, minimal kita bisa meluangkan dengan waktu yang kita sediakan dan ilmu yang kita miliki. Seberapapun harta, waktu dan ilmu, kita jadikan ruang kreatif untuk membentuk pengalaman bekerja sosial.

Harta, waktu dan ilmu akan terus menjadi problem-selagi kita menjadikan problem dan enggan menyeleesaikannya. Tidak usah kita menolak problem ini, sebab tugas kita dalam mengemban tanggungjawab kemanusiaan adalah menyelesaikan problem tersebut. Sejauh kita bisa mengatasi ketiga masalah tersebut, pribadi kita akan menemukan jalan keluar.

Tindakan Kecil-Nyata

Dengan membentuk pengalaman melalui praktik tersebut, kita akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Bahkan kita akan mendapatkan kebaikan-kebaikan hidup dari orang-orang terlantar. Misalnya kita bisa lebih mudah bahagia karena keadaan kita lebih baik. Kita bisa lebih menatap kehidupan ke bawah sehingga mudah bersyukur. Harus diakui, kita lebih mudah menderita karena angan-angan kita untuk terus memburu harta dan ilmu. Memburu harta terkadang bukan lagi untuk kecukupan hidup, melainkan untuk tujuan kelimpahan. Naasnya, setelah harta didapat kita tidak kunjung bahagia, bahkan sekadar mencari waktu saja kita masih kesulitan. Bahkan harta sering mubazir atau hilang karena kita tidak punya waktu dan tidak cukup ilmu untuk mengurusnya. Akibatnya, harta yang kita dapatkan digondol setan. Lari ke sarang maksiat atau diambil penipu atau diambil orang bodoh yang tidak bisa mengembalikan harta kita. Naasnya lagi, waktu tidak bisa dibeli dengan harta. Begitu juga nafsu kita memburu ilmu. Terkadang yang diburu hanya ilmu teori dan kepentingannya tak lebih dari karir atau gengsi. Deretan gelar dan banyak teori tetapi ketika ditantang untuk menjawab persoalan orang kecil, yang masalahnya terkadang memang kecil, nyatanya tidak bisa bertindak, bahkan tampak bingung menghadapi kenyataan hidup orang-orang kecil yang kebutuhannya sebenarnya kecil.

Menghadapi orang-orang kecil membutuhkan tindakan yang kecil, namun harus disertai jiwa yang besar untuk “mengecilkan diri”. Kebesaran jiwa itu antara lain adalah, mengalah tidak menuruti hasrat atas impian yang selalu berorientasi semata untuk pribadi atau keluarga (oikos). Kesediaan mengalah untuk menyisihkan harta, waktu dan juga berbagi ilmu kepada masyarakat, terutama kaum papa harus dibentuk sehingga pribadi kita menjadi manusia berkualitas (demos). Yang bagus pembentukannya tentu dilakukan sejak usia dini melalui pendidikan keluarga. Tetapi jika tidak mendapatkan sejak usia dini, bisa dimulai kapan saja. Ini penting dijadikan pedoman hidup karena setiap ajaran agama dan ajaran sosial di masyarakat kita tidak ada yang menentang dan bahkan sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi lagi bangsa ini menghadapi ketimpangan dan ketidakadilan, jelas sangat membutuhkan tindakan kemanusiaan dengan keadilan sosial. Maka, kelas menengah yang berpendidikan dan ekonominya lumayan baik, mestinya memiliki tanggungjawab sosial yang semakin baik. Caranya adalah pengabdian sosial. Wujud konkretnya adalah membangun kebersamaan bertindak memberikan pelayanan melalui model pendampingan kepada kaum papa/fakir-miskin. Serta merta di situ kita menjawab problem lingkungan hidup karena hampir semua persoalan kerusakan lingkungan juga disebabkan oleh kemiskinan dan kebodohan.

Jumlah orang miskin banyak. Tentu kita pun kemudian membutuhkan banyak harta, waktu dan ilmu. Satu keluarga miskin saja membutuhkan komitmen kita untuk harta yang banyak, waktu yang cukup dan ilmu yang mumpuni. Bagaimana kita menghadapi banyak orang miskin, (terutama akarnya) di perdesaan?

Pertanyaan seperti mudah dijawab melalui teori, namun harus dibuktikan dengan tindakan yang penuh dedikasi. Kita butuh kebersamaan karena menghadapi problem sosial, mestinya juga butuh harta sosial dari banyak pihak, butuh waktu dari banyak pihak, dan butuh ilmu dari banyak pihak. Solusinya adalah berorganisasi penuh kebersamaan.

Sedikit berbagi pengalaman, beberapa tahun sebelum kami (Basuki Suhardiman, Budhiana Kartawijaya, Hawe Setiawan, Enton Supriyatna, Ae Priyono, Herry Dim, Andy Yoes, Marzuki Wahid, Maman Imanulhaq, Asep Salahudin, Khoiril Anwar, dkk) mendirikan Odesa Indonesia, kami selalu membicarakan masalah-masalah sosial kemanusiaan. Ada banyak gagasan dan ide untuk perubahan sosial. Dan salahsatu yang kemudian muncul saat itu adalah gagasan Civic Islam.

Namun dari diskusi ke diskusi, kegiatan ke kegiatan, pada akhirnya yang menentukan berdirinya Odesa Indonesia dengan kiprah yang aktif ini karena faktor, “pengalaman bertindak konkret menghadapi persoalan kehidupan perdesaan di pinggir kota Bandung (wilayah Kabupaten Bandung). Dari pengalaman itulah gagasan kami berkembang dan menemukan jalan untuk aktivitas sosial.” Aktivitas Odesa Indonesia juga bukan dibangun semata aktivisme model aktivis yang lahan geraknya hanya protes sosial, -melainkan dibangun oleh kesadaran sebagai orang pergerakan—yang bekerja untuk menemukan model-model gerakan dalam rangka menjawab masalah sosial-kemanusiaan sehingga bisa menghasilkan kontribusi ilmu pengetahuan atas “tindakan etnografis” yang kita lakukan.

Gagasan kami lahir untuk menjawab problem masyarakat (yang akarnya) akibat ketidakadilan politik dengan tiga bidang yakni, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Tiga bidang Tiga Program Garapan Odesa ini dirangkai oleh Budhiana Kartawijaya ini juga bukan karena gagasan hasil diskusi di café-café atau seminar di kampus, melainkan dari gerak blusukan.Rangkaian pengetahuan Budhiana Kartawijaya itu justru lahir dari kampung Cisanggarung, Sekebalingbing, Sentak Dulang, Cadas Gantung, Pondok Buah Batu, Cikored, Cirompek, dan seterusnya. Di sana naluri jurnalisme Budhiana bekerja untuk memperhatikan Pak Damim, Pak Odin, Mak Ocih, Mak Imih, Mang Odong, dll. Berbulan-bulan blusukan dilakukan hampir saban hari di Kawasan Bandung Utara (KBU), sebuah kawasan pertanian yang mengalami krisis ekologi dan krisis kemanusiaan sekaligus. []

Baca juga Untuk Apa Odesa Indonesia didirikan?

Satu tanggapan untuk “Tiga Komponen Pengabdian Sosial untuk Orang Miskin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: