Karakter Pendidikan berbasis Empati dan Imajinasi

Oleh: BUDHIANA KARTAWIJAYA. Ketua Pembina Odesa Indonesia

RABU 24 Juli, saya diundang SMK Prakarya Internasional Bandung untuk membicarakan soal prospek pendidikan kejuruan di era milenial sekarang. Sebetulnya saya bukan ahli pendidikan, melainkan seorang yang senang mengamati pendidikan karakter dan imajinasi.

Kebetulan pernah dua kali mendesain dan melakukan kompetisi sepakbola Usia 13 dengan memadukan sport science dan character building. Di di Yayasan Odesa Indonesia, juga kami melakukan pendidikan Sekolah Sabtu Minggu (Samin), sebuah kegiatan literasi yang membangun empati dan imajinasi bagi anak-anak pra sejahtera kawasan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Ketika ditanya kira-kira jurusan apa yang harus didirikan oleh sebuah SMK dalam rangka menyonsong era milenial, atau era disrupsi yang begitu cepat ini?

Soal profesi apa di masa depan, itu banyak sekali yang mengulas. Tinggal cari di Google, maka akan kita temukan profesi yang akan punah dan profesi yang akan berkibar di masa depan. Selain itu, Indonesia tampaknya akan memperkuat sektor pariwisata, kelautan dan energi terbarukan. Jawa Barat juga begitu, pembangungan pariwisata dan sarana prasarana pariwisata (seperti bandara dan pelabuhan) akan terus berlangsung. Sektor logistik, pasti memerlukan tenaga kerja yang banyak.

Di Odesa, konsultan pendidikan kami adalah Profesor Darjatmoko. Beliau pengajar di Stanford University Amerika. Menurut pak Moko, panggilan akrabnya, dunia berubah sangat cepat. Profesi lama mati, yang baru muncul. Suatu alat (tool) akan cepat usang, diganti alat baru. Tapi yang tidak boleh hilang adalah empati (emphaty) dan imajinasi. Kepada para pimpinan sekolah ini saya ungkapkan beberapa contoh perusahaan besar yang awalnya berangkat dari empati yaitu Facebook, Google, Gojek, hingga klub sepak bola Barcelona.

Sering kita mendidik anak-anak kita dengan ketrampilan teknis (hard skill) yang hebat. Sekolah mengajarkan mereka ilmu komputer, teknik fisika, teknik kimia, informatika dan lain-lain. Namun kenyataannya banyak anak-anak yang tidak tahu untuk apa ilmu mereka. Akhirnya mereka melamar pekerjaan, atau menunggu ada pihak lain yang menyuruh mereka membuatkan sesuatu untuk si pemesan. Atau banyak kasus anak-anak kita bisa membuat alat-alat canggih tapi akhirnya tidak terpakai karena tidak menjawab persoalan masyarakat.

Kalau membaca kisahnya Zuckeberg, Larry Page dan Nadiem Makarim, jelaslah bahwa mereka mengawali pendirian brand masing-masing semula bukan karena ingin bisnis, melainkan karena ingin memecahkan persoalan masyarakat yang mendesak. Maka pikiran mereka melayang-layang untuk membuat sebuah aplikasi yang bisa menyelsaikan persoalan itu. Jadi kuncinya adalah empati dan imajinasi.

Jadi tampaknya SMK-SMK, maupun sekolah umum kudu melengkapi siswa-siswa ini dengan pendidikan soft skill yang membangun empati yaitu keterampilan hati untuk membaca kesulitan orang lain. Tidak cuma berhenti di situ, kalau bisa anak-anak juga diajari memecahkan persoalan kemasyarakatan itu.

Mulai dengan langkah kecil Projek-projek kecil membagun imajinasi perlu dilakukan. Tak perlu anak itu memburu goal, tapi program pendidikan empati itu akan menjadi nilai (value) bagi anak-anak milenial ini. Not a goal, but value, karena pendidikan tiga tahun tidak cukup untuk membuat tujuan mengangkat hidup orang banyak.

Pendidikan imajinasi juga penting. Bukankah negara-negara maju itu bermodal awal imajinasi anak-anaknya? Bukankah imajinasi itu modal yang memperkuat empati agar menjadi compassion, yaitu gerak untuk mempermudah hidup masyarakat yang sedang dilanda kesulitan. Salah satu metode mengembangkan imajinasi adalah dengan memperbanyak bacaan fiksi, mengenalkan sastra ke SMK! Pelajaran sastra di SMK? Why not?

Sastra selama ini di sekolah sudah direduksi hanya menjadi puisi. Sastra sudah dikebiri sebagai pelajaran terbawah, sehingga tidak layak disandingkan dengan pelajaran tehnik yang diklaim sebagai pelajaran adiluhung. Maka tidak salah kalau di SMK ada pelajaran sastra, perpustakaannya berisikan buku-buku fiksi yang relevan dengan keilmuan mereka. Adakah misalnya, novel-novel science fiction di perpustakaan SMK? Adakah anak-anak SMK di bidang teknologi informasi diajak menonton film-film bertema ilmu komputer? CMIIW, rasanya belum pernah mendengar.

Jadi, kalau kita ingin melahirkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman, latihlah soft skill mereka, terutama mengasah empati dan imajinasi. Nanti akan lahir Zuckeberg-zuckeberg baru dari Indonesia.***
Sumber Tulisan: Blog Budhiana Kartawijaya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: