Nabi dan Pemecah Batu

Kegiatan Odesa Indonesia, 15 Mei 2019, buka puasa bersama penambang batu.

Pada suatu ketika Nabi SAW pulang dari Tabuk, bertemu dengan Sa’ad al-Anshari warga Madinah. Sa’ad menyalami Nabi dengan penuh hormat. Rasulullah merasakan kasarnya telapak tangan Sa’ad. “Mengapa tanganmu keras dan kasar seperti ini?” tanya Nabi. “Pekerjaan saya pemecah batu untuk menafkahi keluarga, ya Rasulullah,” jawab Sa’ad.

Nabi tersenyum kemudian mencium tangan tukang batu itu dengan khidmat. Tentu Sa’ad kaget tapi juga terharu diperlakukan seperti itu. “Inilah tangan yang tidak akan tersentuh api neraka.” Manusia paling mulia, mencium tangan yang mulia. Dengan cara itu Nabi memberi kabar gembira untuk para pekerja keras, yang tangannya digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Hari Rabu (15/5) lalu, Odesa Indonesia Sedesa Sehati bertemu dengan pluhan pekerja keras itu di Sekebalingbing, Cikadut. Mereka adalah para pemecah batu yang setiap hari berpeluh keringat di bukit-bukit batu di kawasan Cimenyan Kab. Bandung. Ya benar, tangan-tangan mereka keras dan kasar. Tapi wajahnya menyiratkan ketulusan dan kesabaran.

Maka diam-diam kami kagum dan mengamini perkataan Nabi SAW, “Inilah tangan yang tidak akan tersentuh api neraka.” Seperti mereka akui, upah sebagai pemecah batu tidaklah besar. Tapi diupayakan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, terutama membeli beras. Apalagi sudah setahun terakhir ini, mereka tidak mendapatkan jatah beras untuk warga miskin.

Salah satu tempat penggalian batu yang cukup luas berada di perbukitan Sentakdulang, Desa Mekarmanik, Kec. Cimenyan. Batu dari tempat ini pernah digunakan untuk pembangunan Istora Senayan Jakarta dalam rangka pesta olahraga akbar The Games of the New Emerging Forces (Ganefo) tahun 1963. Karenanya batu-batu untuk dinding dan lantai di bukit itu sering disebut “batu ganefo”.

Para penambang batu itu memang tidak punya pilihan untuk mempertahankan hidupnya. Selain menjalani pekerjaannya selama ini. Tetapi beberapa diantaranya mulai menekuni tani pekarangan berupa pembibitan pohon kelor, yang bijinya berasal dari Odesa secara cuma-cuma. Mereka mendapat penghasilan tambahan.

Dalam perbincangan menjelang buka puasa bersama itu, juga mengemuka tentang pendidikan anak-anak mereka. Mereka menyadari pentingnya sekolah dan tidak kalau mungkin, tidak ingin anak-anaknya berkutat dalam jenis pekerjaan orangtuanya selama ini. Namun persoalan biaya menjadi kendala.

“Begini, Odesa punya program beasiswa untuk anak-anak Cimenyan lulusan SD dan SMP. Bapak-bapak tidak perlu memikirkan biaya hidup anak-anak, kebutuhan peralatan sekolah, dan tempat tinggalnya. Orangtua hanya menyiapkan keikhlasan dan kesabaran untuk melepas mereka bersekolah di luar Bandung. Semuanya insya Allah terjamin. Bagaimana, siap?”

Tidak ada satupun yang menyatakan siap. Ada yang saling pandang, ada juga yang menunduk. Begitulah. Pengalaman selama ini, mayoritas warga belum siap melepas anak-anaknya ke luar Cimenyan. Ini adalah kisah tentang usaha pendampingan yang memang tidak mudah dilakukan.

Kita memberikan yang terbaik sekalipun belum diterima oleh masyarakat. Namun di luar sosialisasi publik kita senantiasa mempersiapkan sosialisasi personal. Kita akan proses satu persatu anak yang berpotensi bagus dan kira rayu orangtuanya untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar Cimenyan, seperti keberhasilan pada tiga anak tahun 2017. ***

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: