Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan Bandung Utara

Sepanjang musim penghujan Oktober 2018-Pebruari 2019, Yayasan Odesa kembali melakukan aksi penyelamatan lingkungan hidup. Caranya, memainkan para petani berkerja menggarap lahan pertaniannya tetapi yang tidak lagi merusak lingkungan. Pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) selama ini merusak lingkungan karena hanya bekerja di atas model monocultur. Odesa mendorong petani untuk menerapkan pertanian baru yang lebih bernilai ekonomi sekaligus merawat lingkungan hidup.

Pertanian ramah lingkungan digagas Odesa Indonesia bukan saja untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani, melainkan juga sebagai usaha menyelamatkan krisis lingkungan di Kawasan Bandung Utara (KBU), terutama di Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi yang sudah sangat parah. Setiap musim hujan sering terjadi banjir bercampur lumpur. Tak jarang menelan korban jiwa.

Bulan Oktober-November 2018 Odesa Indonesia menggerakkan 15 petani menanam Sorgum, Hanjeli dan Kelor. Tanaman ini sangat strategis untuk mengubah keadaan petani karena terbukti pada bulan pebruari para petani berhasil memanen, menghasilkan panen 4 ton sorgum, 700 kg hanjeli, dan 1.500 kg daun kelor. Hasil panen diurus oleh yayasan Odesa Indonesia dengan prinsip koperasi.

Ketiga jenis tanaman ini merupakan bagian penting dari kegiatan penyelamatan lingkungan karena dengan begitu petani tidak hanya menanam sayur yang kebanyakan merusak lingkungan karena tanaman sayur sangat anti dengan tanaman menengah dan tanaman tinggi. Dengan menanam sorgum dan hanjeli tanah lebih kuat, apalagi di sekelilingnya ditanami kelor, tanaman penghasil gizi hebat yang akar dari pohon hidupnya juga mampu menjernihkan air.

Ada aksi yang lebih keren lagi. Pada bulan Desember 2018 hingga maret 2019 Odesa kembali menggerakkan petani menanam kopi berjumlah 15.000 bibit untuk 13 petani. Jumlah tahun ini memang sedikit menyusut jauh di bandung tahun 2016 yang mencapai 60.000 pohon yang melibatkan 28 petani. Dan pada tahun 2017 lalu Odesa menambah jumlah 70.000 bibit pohon kopi. Jenis kopi Arabica yang ditanam itu juga sangat menggairahkan petani karena biasanya bibit kopi baru mulai panen pada usia 3 tahun, tetapi bibit kopi Odesa Indonesia pada usia 17 bulan sudah mulai panen.

Menanam kopi sangat strategi bagi tiga hal.

1) terbukti meningkatkan pendapatan petani, apalagi hasil panen dibeli langsung oleh Yayasan Odesa Indonesia sehingga matarantainya pendek dan dengan begitu petani mendapatkan kemudahan serta keuntungan yang lebih baik.

2) menanam kopi otomatis akan membutuhkan tanaman tegakan menengah dan tinggi. Itu artinya akan banyak lahan kosong atau bekas pertanian sayuran yang gundul menjadi lebih hijau. Dengan bertani ramah lingkungan semacam ini kita akan kaya oksigen, udara yang segar dan kemakmuran lebih mudah dicapai. Banyak tanaman penghijauan seperti mengkudu, surian, jati cina, kelor, durian, juga jeruk yang disertakan dalam kegiatan pertanian ramah lingkungan Yayasan Odesa Indonesia.

Yayasan Odesa Indonesia sebenarnya mampu lebih banyak beraksi menyelamatkan lingkungan. Tetapi sampai hari ini kendala jumlah bibit masih lemah karena partisipasi pendanaan dalam pembibitan tanaman kopi belum ada. Kalaupun ada yang menyumbang kegiatan pertanian ini jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan kebutuhan. Kita butuh jutaan pohon kopi dan ratusan ribu tanaman penghijauan untuk meningkatkan pendapatan petani kecil dan mengatasi krisis lingkungan ini. []

Total Kebutuhan Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan Odesa 2019 Rp 600.000.000
Target 2019 penghijauan Bibit Kopi Rp 4.000 x 100.000 pohon = Rp 400.000.000
Target 2019 Bibit kelor Rp 15.000 x 10.000 pohon = Rp 150.000.000
Target 2019 Bibit Nangka Rp 6.000 x 2.500 pohon= Rp 15.000.000
Target 2019 Bibit mengkudu Rp 4.000 x 2.000 pohon= Rp 10.000.000
Target 2019 Bibit kelapa Rp 20.000 x 250 pohon = Rp 5.000.000
Target 2019 Bibit Mahoni Rp 1.000 x 5.000pohon = Rp 5.000.000
Target 2019 Beragam Bibit tanaman keras lain Rp 3.000 x 5.000 pohon= Rp 15.000.000


PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Kalau yang ditanam hanya sayuran kita akan rugi karena hanya bisa menjual sayur. Lagian tanah akan rusak. Kita akan bertani dengan beragam tanaman; sebagian sayuran,sebagian tanaman pangan seperti sorgum, hanjeli, dan sebagian tanaman besar seperti kelor, kopi, nangka, dll. Supaya pertanian berjalan, penghasilan meningkat dan tidak terjadi banyak banjir.– Yayan Hadian. Petani Muda 23 tahun. Pegiat pertanian Agroforestry di Odesa Indonesia.

Sejak ada program penanam dan kegiatan penyuluhan dari Odesa Indonesia, kami semakin baik. Penjualan pasti. Tanaman kopi di kebun semakin banyak dan tidak lagi bergantung pada sayuran semata. – Nanang Muhamad Yusuf. Guru Ngaji dan Pengolah Kopi Pondok Buah Batu Cimenyan.

Dulu kita hanya tahu nama tanaman kelor, sorgum, hanjeli, bunga matahari. Kita tidak berpikir mengembangkan karena setiap bertani kita ngikutin yang sudah ada. Karena saya aktif di Yayasan Odesa, saya menjadi orang yang sering disuruh ujicoba. Ada yang gagal ada yang berhasil. Setelah dua tahun lebih berjalan sekarang semua jadi mudah. Saya bisa menamam sorgum, kelor, hanjeli, bunga matahari dan lain-lain. Dengan tanaman pangan itu keadaan saya membaik karena saya bisa lebih hemat mencari rumput untuk sapi saya,mendapat uang tambahan dari penjualan beragam tanaman, dan yang penting juga semakin banyak lahan yang tadinya kosong sekarang hijau karena banyak jenis tanaman. Semoga nanti semakin banyak penghijauan. –Toha Binaan Odesa. Petani Mekarmanik Cimenyan Kab.Bandung.

Mengatasi Krisis Lingkungan Bandung Utara

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: