Kisah tentang Air Bersih Keluarga Pra-Sejahtera Petani Cikawari

BAK penampungan air itu tidak terlampau besar. Hanya berukuran sekitar 50 x 50 cm dengan ketinggian yang hampir sama. Bak tersebut berada 1,5 meter di atas permukaan tanah yang disangga tembokan. Di sekeliling bak tertancap puluhan ujung selang warna-warni. Lewat saluran bulat dari plastik itulah air mengalir ke rumah-rumah warga.

“Bak ini dibangun sekitar tujuh tahun lalu, dengan cara swadaya masyarakat. Berbarengan dengan pembuatan WC umum (fasilitas mandi cuci kakus untuk umum). Alhamdulillah sampai sekarang aliran air masih lancar,” ujar Latif (57) warga RT 01 RW 11 Cikawari, Desa Mekarmanik, Kab. Bandung, yang ditemui di rumahnya belum lama ini.

Fasililtas MCK umum dan bak penampungan air itu berada di lahan milik Latif, di belakang rumahnya. Warga yang akan memanfaatkan saraba tersebut harus melewati gang sempit di samping kiri rumah Latif. Biasanya pagi dan sore hari, warga berdatangan untuk menggunakannya.

Tapi jangan bayangkan MCK umum itu seperti toilet yang serba tertutup dan nyaman untuk dipakai. Sebaliknya, malah serba terbuka. Tempat buang air besar pun terbuka. Tanpa atap tanpa dinding. Paling banter, sebagai penghalang digunakan potongan bekas karung pupuk.

Makanya kalau ada yang sedang “berkegiatan pribadi” di tempat itu, yang bersangkutan sering berteriak jika kebetulan ada warga lain akan masuk. “Dagoan heula, aya uing yeuh. Sakeudeung deui beres,” begitu Latif menirukan kebiasaannya sendiri. Saluran pembuangan air kotornya pun dibikin seadanya. Kondisinya benar-benar darurat.

Lalu, dari mana air untuk warga itu dialirkan? Tidak kurang dari 375 batang pipa ukuran 2 inci dipasang, untuk mengalirkan air dari sumbernya di pinggir hutan (seke) yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari pemukiman warga. Di RW 11 ada dua bak penampungan yang dibangun untuk warga dua RT.

Warga tidak memperoleh air itu dengan cuma-cuma. Ada sejumlah uang yang harus mereka bayar. Semula iuran per bulannya sebesar Rp 5.000, kini naik menjadi Rp 10.000. Uang itu dipergunakan untuk membayar ulu ulu (petugas pengairan desa), uang sewa ke pemilik seke dan untuk penagih iuran.

Barangkali itu cara yang tergolong murah dibanding harus menggali sumur pompa sendiri yang biasanya sangat mahal. Namun jika musim kemarau tiba, debit air pun mengecil. Warga terpaksa harus menghemat air dan memperolehnya dengan cara bergiliran.

Fasilitas MCK umum yang ada di rumah Latif, merupakan salah satu lokasi yang akan digarap Yayasan Odesa Indonesia untuk dibangun permanen. Secara bersamaan, kegiatan serupa juga dilaksanakan di sejumlah titik. Dana yang digunakan berasal dari para dermawan. -Enton Supriyatna Sind.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: