Air dan Orang Belanda di Mekarmanik

SIANG itu, ketika kami tengah meninjau pembangunan MCK umum di RT 02 RW 11 Cikawari, Ahmad Suganda (70) mengajak kami mampir ke rumahnya. “Sindang heula Pa. Aya jeruk bali geura, amis pisan. Nembe ngala tina tangkal,” ujarnya sambil menunjuk pohon jeruk bali di depan rumahnya.

Ahmad Suganda adalah salah satu tokoh masyarakat di Desa Mekarmanik, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung. Di Cikawari sendiri, dia dipercaya menjabat ketua RW 11 selama 18 tahun. Kemudian dilanjutkan sebagai anggota Badan Pertimbangan Desa (BPD).

Kami berbincang di teras rumahnya, di atas bangku kayu yang sederhana. Tentu sambil menikmati jeruk bali yang dikupasnya untuk kami. Meski tidak muda lagi, Ahmad tampak bugar dengan raut wajah yang keras. Tiap hari dia berangkat ke ladang, mengurusi berbagai sayuran.

Obrolan pun sampai pada masalah air bersih untuk warga. Ternyata dia menyimpan kisah masa lalu tentang upaya pemenuhan kebutuhan vital itu. Namun dia tidak ingat persis tahun berapa air dari pinggir hutan mulai dialirkan ke dusun-dusun di Desa Mekarmanik.

“Saya lupa lagi tahunnya. Pokoknya baru tahun 1990-an awal, air masuk ke sini dengan menggunakan pipa paralon. Waktu itu saya masih jadi ketua RW di sini. Saya termasuk yang terlibat langsung dalam pengadaan air ini,” tuturnya.

Menurutnya, wilayah Mekarmanik bukanlah daerah yang sulit air. Sumber-sumber air berupa seke (mata air) bertebaran di banyak tempat. Masalah utamanya adalah ketidakmampuan warga untuk mengalirkannya ke rumah mereka. Karena itu, air harus diambil dengan menggunakan ember atau wadah lainnya ke tempat yang jauh dari rumah.

Pada suatu hari, datang menemuinya seseorang dari sebuah lembaga sosial. Berbincang tentang berbagai hal terkait kondisi masyarakat. Ketika mengetahui adanya masalah dalam air bersih, pria tersebut menawarkan bantuan berupa pengadaan pipa paralon sesuai kebutuhan.

Setelah beberapa kali bertemu dan berbicara juga dengan pihak pemerintahan desa, maka datanglah bantuan sebanyak hampir dua truk pipa paralon ukuran 2 inci. Ahmad dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya menggerakkan warga untuk gotong royong memasang pipa memanjang dari sejumlah seke ke perkampungan.

Di beberapa lokasi dibuat bak penampungan, untuk mengalirkan air ke rumah-rumah. Tidak sampai sepekan, pekerjaan itu selesai dan air pun mengalir. Jarak dari seke ke perkampungan bervariasi, dari sekitar 1 km hingga hampir 2 km.

“Sebagai bentuk rasa syukur, saya mengundang pemberi bantuan untuk makan bersama. Saya menyembelih kambing. Berbagai makanan khas kampung disajikan. Bahkan jengkol dan petai pun ada,” katanya sambil tertawa.

Di antara para tamu itu, ada sekitar sepuluh orang Belanda. Menurut informasi yang diperolehnya, orang-orang bule itulah yang menyumbang pengadaan pipa paralon. “Ternyata mereka doyan jengkol juga. Makannya juga nambah, mungkin saking nikmatnya,” ujar Ahmad.

Ahmad berharap, warga bisa memelihara keberadaan pipa-pipa tersebut. Sudah seharusnya mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas keberlangsungan aliran air. Diakuinya, fasilitas MCK masih menjadi masalah. Belum semua rumah memiliki sarana tersebut. Ahmad sendiri memiliki dua sarana MCK.

“Yang satu mah di dalam rumah untuk keluarga. Sementara yang satu lagi di luar rumah. Sengaja saya bikin untuk dipakai warga yang belum punya WC. Bangunannya memang seadanya, tanpa dinding dan atap yang memadai,” ungkap Ahmad.-Enton Supriyatna.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: