Usaha Tani Paling Rawan Kerugian, Tapi Ada Jalan Keluarnya

Usaha pertanian selalu mengasyikkan. Bahkan sekalipun kita tahu banyak keadaan petani miskin di desa-desa, tetapi minat orang bertani sangat tinggi. Padahal menurut Basuki Suhardiman, Pendamping Ekonomi Pertanian Yayasan Odesa Indonesia, kalau perhitungkan secara cermat, usaha pertanian sangat rawan kerugian.

“Usaha tani itu paling rawan kerugian. Bukan soal pasar karena pasar justru paling mudah. Letak kerawanan itu pada budidaya. Ada beberapa jeratan yang tak mudah diatasi jika tidak memakai pendekatan yang komprehensif, misalnya hama, musim, dan kemampuan SDM dari para pekerja,” kata Basuki, Kamis 28 Pebruari 2019.

Menurut Basuki, banyak petani terpuruk bukan semata harga pasar. Itu hanya satu varian dari banyak hal. Ia mencontohkan misalnya, jika harga jual di pasar bagus tetapi hama sedang merontokkan bakal panen, tetap saja membuat petani merana. Menurut Basuki, sebenarnya urusan pasar, terutama soal marketing itu urusan mudah. Sebab kenyataannya di setiap pasar sering tidak sinkron antara pasokan dengan kebutuhan sehingga berakibat impor.

“Pertanian rawan kerugian itu bukan berarti saya menilai Indonesia lebih sulit. Justru ingin saya katakan bahwa kita sangat lemah dalam hal manajemen pertanian pada iklim yang sangat mendukung. Lihat Thailand misalnya yang sebagian lahannya sub-tropis dengan kerawanan yang lebih tinggi. Faktanya justru bisa lebih bagus dalam hal panen di banding Indonesia yang minim problem,” terangnya.

Dengan perspektif tersebut Basuki Suhardiman ingin menegaskan bahwa pertanian di Indonesia ini harus diatasi masalahnya secara detail. Setiap solusi harus berbasis pemetaan problem yang rinci dan jelas pada setiap pelaku usaha tani. Menurut Basuki, Thailand mampu menghasilkan produksi yang stabil sekalipun musim dan tanahnya tidak sebaik Indonesia. Tetapi Indonesia yang memiliki siklus musim bagus justru terus merana. Hal tersebut disebabkan ilmu pengetahuan mengatasi masalah tidak tuntas.

“Masing-masing lokasi punya kelemahan dan kelebihan. Masing-masing orang juga demikian. Ini yang mestinya menjadi perhatian serius untuk dilahirkan solusi, bukan menyalahkan musim, bukan meletakkan problem pada sulitnya pemasaran,”jelasnya.

Menghadapi kenyataan tersebut, Basuki dan teman-temannya di Yayasan Odesa Indonesia Bandung terus menggali model-model pertanian berbasis sainstifik. Kajian-kajian pemikiran disertai praktik lapangan keseharian terus dijalankan. Dan kenyataan membuktikan, penciptaan model baru dengan pendekatan mengatasi masalah tersebut bisa diatasi secara baik.

Banyak usaha tani mulai memunculkan optimisme. Gerakan pembibitan berjalan. Modal usaha tani diatasi dengan kerja kolektif. Produksi pupuk dilakukan dengan pendekatan pemanfaatan bahan alami di sekitar pertanian sehingga tidak memboroskan biaya angkutan atau belanja dari perkotaan. Teknologi tepat guna yang selaras dengan kebutuhan petani di Cimenyan Kabupaten Bandung juga mulai dirasakan manfaatnya. Bahkan hasil pembibitan saja bisa berkontribusi besar pada pengembangan usaha baru. Terlebih kalau terdapat usaha pengolahan pasca panen. Pasca Panen Odesa Indonesia

“Pertanian memang rawan persoalan, tapi kalau bisa mengatasinya, kita akan menemukan jalan keluar guna mengatasi persoalan hidup masyarakat. Saran saya, bertani jangan ikut-ikutan trend atau gegabah dalam investasi. Harus mau serius memetakan problemnya dan telaten mencari solusi,” jelasnya.-Riz/In

Hindari Kebiasaan Berpikir Sesat dalam Agribisnis

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: